9.5.20

Work From Home (WFH) tanpa Burnout


Work From Home (WFH) tanpa Burnout

Bangun Handoko/19310420090
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
  

Dalam menghadapi situasi pendemi Covid-19, pemerintah menggencarkan untuk bekerja dari rumah (Work From Home), hal tersebut dapat untuk mencegah penyebaran virus Covid-19.

Apa itu Work From Home (WFH) ? Work From Home yang berarti bekerja dari rumah. Secara umum WFH dapat diartikan cara kerja karyawan yang berada di luar kantor, entah dari rumah, dari cafe atau restoran sesuai dengan keinginan karyawan. Penerapan WFH pada situasi pandemi saat ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya dapat menghemat biaya pengeluaran, fleksibel, dapat lebih dekat dengan keluarga, dll. Tetapi WFH ada juga kekurangannya yaitu menyebabkan batas antara kantor dengan rumah menjadi renggang, miskomunikasi, banyak gangguan kerja dan interaksi sosial dengan orang lain menjadi berkurang, dll.

Menurut Zijlstra dan Sonnentag berpendapat bahwa selama dekade terakhir, masyarakat semakin sadar bahwa hidup yang sehat adalah ketika kerja dan kehidupan pribadi berajalan secara seimbang. Mereka berpendapat bahwa pemulihan (recovery) mencakup kemampuan seseorang untuk melepaskan kemelekatan psikologis terhadap pekerjaan (psychological detachment from work) dengan cara mengelola waktu-setelah-bekerja (“after-work time”). Ketika rumah praktis menjadi kantor akibat WFH, titik keseimbangan ini menjadi rentan terganggu (Soerjoatmodjo, G. W. L. 2020).

Keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi yang biasa dikenal work-life balance telah lama menjadi kajian psikologi. Burn berpendapat bahwa manusia butuh waktu untuk mengembangkan diri di luar pekerjaan (“non-work selves”) antara lain untuk berpartisipasi dalam kehidupan keluarga dan komunitas.  Lebih lanjut lagi, dirinya menambahkan bahwa organisasi yang mendukung work-life balance bisa mencegah pegawai mengalami burnout - yang ditandai dengan kelelahan (fisik, mental maupun emosi), bersikap sinis (memiliki sikap negatif terhadap pekerjaan, manajemen dan rekan kerja) serta mengalami penurunan efikasi (merasa bahwa usaha atau pekerjaannya tak berarti) sampai merasa kesepian dan sendiri (Soerjoatmodjo, G. W. L. 2020).

Transisi dari kerja di kantor menjadi kerja dari rumah membuat Centers for Disease Control and Prevention mengeluarkan petunjuk berikut yang bisa diterapkan bagi mereka yang kini harus bekerja di rumah : (1) Perhatikan tubuh anda dengan makan makanan bergizi, olahraga teratur dan tidur cukup; (2) Atur waktu untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang disukai, serta (3) Bangunlah hubungan dengan orang lain untuk mendiskusikan hal-hal yang anda pikirkan dan rasakan. Tips ini ternyata serupa dengan strategi membangun work-life balance.

Pada dasarnya kesejahteraan untuk bisa membangun work-life balance bertumpu pada kemampuan seseorang untuk mengelola dirinya sendiri (self-regulation). Mengelola dirinya sendiri, seseorang dapat merencanakan, mengendalikan, mengevaluasi dan mengadaptasikan kondisi-kondisi internal dalam diri sendiri untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam lingkungan yang serba berubah dan penuh tuntutan.

Menghadapi situasi pandemi Covid-19, ketika rumah berubah jadi kantor, tuntutan keluarga terjadi tumpang tindih dengan tuntutan kantor, sementara situasi di luar sana serba tak pasti akibat pandemi, yang bisa kita kelola dengan self-regulation tak lain dan tak bukan adalah diri sendiri.

Referensi

Soerjoatmodjo, G. W. L. (2020). Tatkala Rumah-Kantor Lebur : Work From Home tanpa Burnout. Universitas Pembangunan Jaya. Jurnal ISSN 2477-1686 Vol. 6 No. 05 Maret 2020. Dipublikasikan tanggal 17 Maret 2020 dan dapat diakses melalui http://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/555-tatkala-rumah-kantor-lebur-work-from-home-tanpa-burnout


1 comment: