13.7.17

TEORI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL (ERIK-ERIKSON)



TEORI PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL
(ERIK-ERIKSON)

Aliran Psikoanalitik Kontemporer
 

   Irwanto
NIM. 163104101125
Program Studi Psikologi

Dosen Pembimbing
Dewi Handayani Harahap, S.Psi, M.Psi, Psikolog.


            Erik Erikson adalah salah satu diantara para ahli yang melakukan ikhtiar itu. Dari perspektif psikologi, ia menguraikan manusia dari sudut perkembangannya sejak dari masa 0 tahun hingga usia lanjut. Erikson beraliran psikoanalisa dan pengembang teori Freud. Kelebihan yang dapat kita temukan dari Erikson adalah bahwa ia mengurai seluruh siklus hidup manusia, tidak seperti Freud yang hanya sampai pada masa remaja. Erikson menjadi terkenal karena upayanya dalam mengembangkan teori tentang tahap perkembangan manusia yang dirintis oleh Freud. Erikson menyatakan bahwa pertumbuhan manusia berjalan sesuai prinsip epigenetik yang menyatakan bahwa kepribadian manusia berjalan menurut delapan tahap. Teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan oleh Erik Erikson merupakan salah satu teori yang memiliki pengaruh kuat dalam psikologi. Bersama dengan Sigmund Freud, Erikson mendapat posisi penting dalam psikologi. Hal ini dikarenakan ia menjelaskan tahap perkembangan manusia mulai dari lahir hingga lanjut usia satu hal yang tidak dilakukan oleh Freud. Teori Erikson dikatakan sebagai salah satu teori yang sangat selektif karena didasarkan pada tiga alasan, antara lain:

1.      Pertama, teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki hubungan dengan ego yang merupakan salah satu aspek yang mendekati kepribadian manusia.
2.      Kedua, menekankan pada pentingnya perubahan yang terjadi pada setiap tahap perkembangan dalam lingkaran kehidupan.
3.      Ketiga, menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat memberikan kekuatan atau kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan.
Menurut Erikson, ego sebagian bersifat taksadar, mengorganisir dan mensitesa pengalaman sekarang dengan pengalaman diri masa lalu dan dengan diri masa yang akan datang. Dia menemukan tiga aspek ego yang saling berhubungan, yakni
1.      Body Ego: Mengacu ke pengalaman orang dengan tubuh/ fisiknya sendiri.
2.      Ego Ideal: Gambaran mengenai bagaimana seharusnya diri, sesuatu yang bersifat ideal.
3.      Ego Identity: Gambaran mengenai diri dalam berbagai peran sosial.
Kelebihan:
    1. Erikson menekankan kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan pengaruh sosial.
    2. Erikson memandang ego sebagai struktur kepribadian yang otonom, serta berfokus pada kualitas ego yang muncul di setiap periode perkembangan.
    3. Tahap perkembangan lebih kompleks karena mengembangkan teori insting Freud. Namun Erikson tidak memusatkan seks sebagai hal yg mendasari manusia.
    4. Menekankan bahwa perubahan pada setiap tahap perkembangan sangat penting sehingga individu berusaha semampu mungkin untuk melewatinya.
Kekurangan:
Nilai ilmiah penelitian yang dilakukan Erikson tidak begitu akurat. Observasi dan analisis penelitian hanya dilakukan secara subjektif seperti halnya tokoh psikoanalisis yang lain.
Berikut adalah beberapa tahap krisis perkembangan menurut Erik Erikson adalah sebagai berikut:
Tahap
(usia)
Krisis Psikososial
Lingkungan Sosial Utama
Modalities Psikososial
Virtue Psikososial
Maladaption & Malignancies
I ( 0-1) bayi
Trust vs mistrust
Ibu
Mengambil dan mengembalikan
Harapan , kepercayaan
Sensory distortion-Withdrawal
II ( 2-3) awal anak
Autonomy vs shame, adoubt
Orangtua
Mempertahankan, merelakan
Keinginan, penentuan
Impulsivity, compulsion
III (3-6) prasekolah
Initiative vs Guilt
Keluarga
Bermain
Kegunaan, Keberanian
Ruthlessness, Inhibition
IV ( 7-12) anak usia sekolah
Industry vs isolation
Tetangga dan sekolah
Melengkapi, membuat sesuatu bersama
Kompetensi
Narrow Virtuosity-Inertia
V ( 12-18) remaja
Ego-identity vs role confusion
Teman sebaya, role models
Menjadi diri sendiri
Ketaatan. Kesetiaan
Fanaticism, Repudiation
VI ( 20 ) dewasa awal
Intimacy vs Isolation
Partner, teman
Kehilangan dan menemukan diri dalam orang lain
Cinta
Promiseuity- Exclusivity
VII ( 20-50) dewasa madya
Generativity vs self absorption
Rumah tangga, teman kerja
Menjaga
Kepedulian
Overextension, penolakan
VIII( 50) usia tua
Intergrity vs despair
Kehidupan manusia
To be, throught having been, to face not being
Kebijaksanaan
Kesombongan, putus asah


Kritik Mengenai Teori Perkembangan Psikososial Yang Dianut Oleh Erik-Erikson
Erikson adalah pengembang teori Freud dan mendasarkan kunstruk teori psikososialnya dari psiko-analisas Freud. Kalau Freud memapar teori perkembangan manusia hanya sampai masa remaja, maka para penganut teori psiko-analisa (freudian) akan menemukan kelengkapan penjelasan dari Erikson, walaupun demikian ada perbedaan antara psikosexual Freud dengan psikososial Erikson. Beberapa aspek perbedan tersebut dapat dilihat di bawah ini:
Freud
Erikson
Perenan/fungsi id dan ketidaksadaran sangat penting
Peran/fungsi ego lebih ditonjolkan, yang berhubungan dengan tingkah laku yang nyata.
Hubungan segitiga antara anak, ibu dan ayah menjadi landasan yang terpenting dalam perkembangan kepribadian.
Hubungan-hubungan yang penting lebih luas, karena mengikutsertakan pribadi-pribadi lain yang ada dalam lingkungan hidup yang langsung pada anak. Hubungan antara anak dan orang tua melalui pola pengaturan bersama (mutual regulation).
Orientasi patologik, mistik karena berhubungan dengan berbagai hambatan pada struktur kepribadian dalam perkembangan kepribadian.
Orientasinya optimistik, kerena kondisi-kondisi dari pengaruh lingkungan sosial yang ikut mempengaruhi perkembang kepribadian anak bisa diatur.
Timbulnya berbagai hambatan dalam kehidupan psikisnya karena konflik internal, antara id dan super ego.
Konflik timbul antara ego dengan lingkungan sosial yang disebut: konflik sosial.

Implikasi dan Kritik terhadap Teori Erikson
Seperti tahap-tahap piaget, tidak semua orang mengalami krisi-krisis Erikson dengan kadar yang sama atau pada waktu yang sama. Rentang usia yang disebutkan disini mungkin melambangkan waktu terbaik bagi suatu krisis untuk diselesaikan,tetapi bikan itu satu-satunya waktu yang memungkinkan. Mislnya, anak yang terlahir dalam keluarga berantakan yang tidak berhasil memberikannya rasa aman yang memadai mungkin saja mengembangkan kepercayaan setelah diadopsi atau dibawa ke lingkungan yang lebih stabil. Orang yang pengalaman sekolah negatifnya dan memberinya rasa inferioritas, ketika dia memasuki dunia kerja, mungkin saja dia menemukan bahwa dia dapat belajar dan bahwa dia benar-benar mempunyai kemampuan yang bernilai, kesadarna yang pada akhirnya dapat membantunya mengatasi krisis kemegahan versus inferioritas yang telah diatasi orang lain pada tahun-tahun sekolah dasarnya. Teori Erikson menekankan peran lingkungan dalam meyebabkan risis maupun dalam menentukan cara dalam mengatasi krisis itu. Tahap-tahap perkembangan pribadi dan sosial dilanjutkan melalui interaksi terus-menerus dengan orang lain dan dengan masyarakat sebagai keseluruhan. Selama ketiga tahap pertama, interaksi terutama berlangsung dengan orang tua dan anggota keluarga lain, tetapi sekolah memainkan peran utama bagi kebanyakan anak pada tahap IV (kemegahan versus inferioritas) dan tahap V (identitas versus kebingungan peran).
Teori Erikson menjelaskan masalah-masalah dasar yang dihadapi orang ketika dia menjalani kehidupan. Namun, teorinya telah dikritik karena teori tersebut tidak menjelaskan bagaiman atau mengapa orang melangkah dari satu tahap ke tahap lain dan karena teori itu sulit dipastikan melalui riset (Green,1989; Miller,1993)


0 comments:

Post a Comment