22.4.19

Kunjungan Studi ke Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha Yogyakarta


Kunjungan Studi 
ke
 Balai Pelayanan Sosial 
Tresna Werdha Yogyakarta

Heny Suprapti
183104101183
                                   

Fenomena yang terjadi di kota besar saat ini, membuat sebagian masyarakat enggan untuk mengurus kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia. Akhirnya dengan gampang saja, mereka menitipkan kedua orang tuanya kepanti panti jompo disekitar. Alasan mereka sangat sederhana, akibat terlalu sibuk bekerja sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengasuh orang tuanya. Mereka menitipkan orang tuanya dengan maksud supaya mendapatkan perawatan yang lebih dari setiap perawat ataupun pengurus panti yang merawatnya. Tak heran di kota-kota besar  yang padat dengan segala bentuk aktivitasnya berdiri panti-panti yang khusus mengurusi  lansia.





Hasil kunjungan ke Balai Pelayanan Sosial Tresna Werdha di kamar Andong Sumawi pada Senin,  15 April 2019, bahwa Balai Pelayanan Sosial yang saya kunjungi dikelola oleh pemerintah dan kondisi nya bagus dan terawat. Beberapa lansia yang terlihat sebenarnya  belum terlihat tua renta bahkan masih sehat, segar bugar dan bener-bener masih bisa menjaga diri sendiri. Bagi lansia yang dititipkan oleh keluarganya diwajibkan membayar iuran.

Saya mewawancarai Ibu Ngatiyem (70thn)  yang  masih melakukan kegiatan-kegiatan yang ada. Beliau kadang berbicara dengan baik dan mampu mengendalikan emosi (tenang). Beliau dititipkan oleh ponakannya di Balai Pelayanan Sosial ini dikarenakan keponakan merasa kasihan, tak ada yang mengurusnya setelah anaknya meninggal. Beliau merasa senang berada di balai pelayanan sosial karena masih ada orang-orang yang rela merawat dan memperhatikan beliau.

Beliau menjalin hubungan kekerabatan baik sesama penghuni panti. Ini terlihat ketika beliau kelihatan akrab saat mengobrol sambil bersenda gurau. Beliau melakukan keagitan seperti senam, pengajian. Setiap hari Sabtu  ada gamelan. Terkadang ada yang berselisih paham tapi itu wajar dalam menjalin hubungan kata Ibu Ngatiyem.


Menurut Hurlock (1980) terjadi perubahan fisik berupa penampilan pada usia dewasa akhir, diantanya adalah :

1.                  Daerah kepala
Hidung menjulur lemas
Bentuk mulut akan berubah karena hilangnya gigi
Mata kelihatan pudar
Dagu berlipat dua atau tiga
Kulit berkerut dan kering
Rambut menipis dan menjadi putih

2.                     Daerah Tubuh
·         Bahu membungkuk dan tampak mengecil
·         Perut membesar dan tampak membuncit
·         Pinggul tampak menggendor dan tampak lebih besar
·         Garis pinggang melebar
·         Payudara pada wanita akan mengendor

3.                Daerah persendian
·           Pangkal tangan menjadi kendor dan terasa berat
·           Kaki menjadi kendor dan pembuluh darah balik menonjol
·           Tangan menjadi kurus kering
·           Kaki membesar karena otot-otot mengendor
·           Kuku tangan dan kaki menebal, mengeras dan mengapur.

Lingkungan Sosial Orang Dewasa Lanjut menurut Santrock (2002) Tiga teori yang menonjol, yaitu :

a.Teori pemisahan (disangagement theory)
Teori pemisahan menyatakan bahwa orang-orang dewasa lanjut secara perlahan-lahan menarik diri dari masyarakat (Cumming & Henry (2002), dalam Santrock).
Penurunan interaksi sosial dan peningkatan kesibukan terhadap diri sendiri dianggap mampu meningkatkan kepuasan diantara orang-orang dewasa lanjut, rendahnya semangat juang akan mengiringi aktivitas yang tinggi dan pemisahan tidak dapat dihindari bahkan dicari-cari oleh orang usia lanjut. Serangkaian penelitian gagal mendukung penelitian ini (Maddox, 1968; Neugarten, Havighurst & Tobin, 1968; Reichard, Levson & Peterson, 1962). Ketika individu terus hidup secara aktif, energik, dan produktif sebagai orang dewasa lanjut, kepuasan hidup mereka tidak menurun; sering kali tetap meningkat.


b.Teori aktivitas (activity theory)
Teori aktivitas menyatakan semakin orang-orang dewasa lanjut aktif dan terlibat, semakin kecil mereka mersa renta dan semakin besar kemungkinan mereka merasa puas dengan kehidupannya. Teori ini menyatakan bahwa individu-individu seharusnya melanjutkan peran-peran masa dewasa tengahnya disepanjang masa dewasa akhir; jika peran-peran itu diambil dari mereka (PHK), penting bagi mereka untuk menemukan peran-peran pengganti yang memelihara keaktifan dan keterlibatan mereka di dalam aktivitas-aktivitas kemasyarakatan.

Ditinjau dari aktivitas yang ada di lingkungan ibu Ngatiyem, aktivitas mereka sangatlah dibatasi. Mereka hanya boleh melakukan aktivitas di lingkungan wisma mereka masing-masing. Padahal itu hanya akan membuat mereka tidak puas dengan kehidupan karena mereka tidak bisa langsung beraktivitas dengan masyarakat. Tetapi, dengan adanya kegiatan setiap minggu, yang dilakukan oleh beberapa orang untuk memberikan keterampilan kepada para lansia. Itu akan mengganti keterlibatan mereka dalam masyarakat.

c. Teori rekonstruksi gangguan sosial (social breakdwown-reconstruction theory)
Teori ini menyatakan bahwa penuaan dinyatakan melalui fungsi psikologis negatif yang dibawa oleh pandangan-pandang negatif tentang dunia sosial dari orang-orang dewasa lanjut yang tidak memadainya penyediaan layanan untuk mereka. Rekonstruksi sosial dapat terjadi dengan merubah pandangan dunia sosial dari orang-orang dewasa lanjut dan menyediakan sistem-sistem yang mendukung mereka. Gangguan sosial dimulai dengan pandangan dunia sosial yang negatif dan diakhiri dengan identifikasi serta pemberian label seseorang sebagai individu yang tidak mampu. Masyarakat melihat orang tua sebagai tidak mampu dan kuno.
Social Breakdown
• Struktur masyarakat yang tidak memberikan kesempatan pada lansia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
• Masyarakat mengembangkan stereotip negative para lansia
           
Menurut saya Social Breakdown ini sering terjadi pada para lansia yang berada langsung dalam ruang lingkup masyarakat. Seperti  yang pernah dialami Ibu Ngatiyem, sebelum beliau berada di panti. Beliau bekerja sebagai buruh pabrik..
Social Recontruction
• Struktur masyarakat yang memberi kesempatan pada lansia untuk mengembangkan potensi yang dimiliki
• Masyarakat memberi kesempatan pada lansia sebagai bagian yang aktif dan partisipatif dalam masyarakat.

            Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada lansia dalam lingkungan masyarakat, mereka berada dalam panti sosial Tresna Werdha ini mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Seperti ibu Ngatiyem yang mendapatkan kegiatan seperti senam, pengajian, gamelanan setiap Sabtu.  Secara tidak langsung mereka yang berada di panti sudah bisa turut aktif dalam masyarakat.




Berdasarkan hasil wawancara dan teori yang ada dapat disimpulkan bahwa lansia seperti halnya Ibu Ngatiyem dititipkan oleh keponakannya ke balai pelayanan sosial karena keluarga merasa kasihan serta tidak ada yang mengurusnya. Demikian penuturan Ibu Ngatiyem bahwa tidak ingin berada di panti namun karena tidak memiliki keluarga, orang tua dan saudara beliau sudah meninggal. Balai pelayanan sosial Tresna Werdha menjadi pilihan yang baik untuk menikmati hari tua. Pandangan masyarakat tentang Panti Werdha yang saat ini telah berganti sebutan sebaga Balai pelayanan sosial perlu diluruskan. Lansia yang dititipkan di Balai pelayanan sosial tidak berarti mereka terbuang, mereka tetap memiliki keluarga yang merupakan bagian penting dari keberadaannya.

Di Balai pelayanan sosial para lansia menemukan teman yang relatif seusia dengannya. Mereka dapat berbagi cerita karena keberadaan lansia yang ada memiliki karakter dan problema yang berbeda-beda, maka perlu penanganan khusus.

Di Balai pelayanan sosial Trena Werdha para lansia diberikan hal-hal yang positif seperti program-program pelayanan sosial yang bisa memberikan kesibukan untuk mereka sebagai pengisian waktu luang, diantaranya pemberian bimbingan sosial, bimbingan mental spiritual misalkan pembacaan yasin, maulid, ceramah, dan lain-lain, penyaluran bakat dan hobi, senam, dan banyak kegiatan lainnya. Selain itu, mereka juga mendapatkan pelayanan dari para pekerja sosial untuk bisa menjalani hari-harinya dengan ceria.






Para lansia di Balai pelayanan sosial mendapatkan pemenuhan kebutuhan pokok serta kebutuhan bagi rohani mereka, ada seseorang yang bisa mendengarkan mereka berbicara maupun saling berbagi.



Daftar Pustaka


 Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan). Jakarta : Erlangga.
 Santrock, John W. 2002. Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup Edisi 5 Jilid 2). Jakarta : Erlangga.

Acara Bimbingan Psikologi Pegawai Negeri Sipil Polres Sleman


Acara Bimbingan Psikologi Pegawai Negeri Sipil Polres Sleman

Heny Suprapti
183310410182

Bidang pembinaan personel Pegawai Negeri Sipil Polres Sleman bekerjasama dengan Universitas Proklamasi 45 mengadakan acara bimbingan Psikologi. Ibu Endang Suwanti, S.Pd., selaku Ketua Korpri Polres Sleman dalam sambutannya mengungkapkan bahwa setiap orang tua hendaknya terus mendampingi setiap perkembangan putra-putrinya dengan penuh perhatian terlebih di era globalisasi dengan pesatnya perkembangan teknologi seperti saat ini. Demikian halnya Ibu DR. Arundati Shinta, M.A, dosen di Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta menyampaikan bahwa penting bagi setiap orang tua memberi dukungan agar anak lebih mampu mengembangkan kemampuannya. Acara berlangsung di Aula Polres Sleman pada hari Kamis, 18 April 2019.

Acara yang dihadiri oleh 40 Aparatur Sipil Negara Polres Sleman merupakan wujud nyata perhatian terhadap kondisi generasi masa kini, khususnya remaja yang memiliki banyak kerentanan dan masalah-masalah yang mengancam masa depannya. Masalah-masalah remaja yang dihadapi saat ini misalnya meningkatnya jumlah remaja dengan HIV dan AIDS, infeksi menular seksual, kehamilan tidak diinginkan, dan penyalahgunaan NAPZA. Adapun 3 masalah yang sering dihadapi oleh remaja meliputi free sex, drug, dan HIV/AIDS sangat meresahakan bagi masyarakat terlebih setiap keluarga yang memiliki putra-putri usia remaja. Kegiatan bimbingan psikologi dalam pertemuan KORPRI Polres Sleman juga menghadirkan narasumber yang berkompeten dalam pendampingan remaja, Bapak Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi, M.A.

Keluarga merupakan peletak dasar pendidikan moral dan pandangan hidup bagi remaja. Menyadari pentingnya pola asuh orang tua yang  berfungsi sebagai pembentukan karakter remaja maka peran keluarga dalam mendampingi remaja millenials menjadi tema yang sangat menarik untuk didiskusikan. Generasi millenials sebutan bagi individu yang lahir antara tahun 1980-2000 dan saat ini berusia sekitar 15–34 tahun. Tepat pada era transisi kemajuan teknologi dan menjadi aset masa depan Indonesia. Karakteristik remaja millenials yang paling menonjol yaitu lebih percaya pada internet dan sosial media, cenderung mudah merasa bosan serta haus akan pengakuan.

Bapak Wahyu lebih menekankan bahwa hal utama dalam proses pola asuh yaitu adanya kedekatan orang tua dengan remaja melalui pengawasan dan komunikasi yang efektif. Penting bagi orang tua mengembangkan keterampilan hidup (Life Skills) kepada putra-putrinya meliputi beragam keterampilan antara lain yaitu keterampilan fisik, keterampilan mental, keterampilan emosional dan keterampilan spiritual. Keterampilan fisik yaitu kemampuan remaja untuk mampu memilih makanan yang sehat, berolahraga, dan beristirahat secara seimbang.

Keterampilan mental meliputi keterampilan mempercayai dan menghargai diri, keterampilan berpikir positif, dan keterampilan mengatasi stres. Pentingnya remaja memiliki keterampilan mengelola stress atau coping skills agar remaja mampu menjalankan kehidupan sehari-harinya dengan menggunakan semua pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki. Remaja juga perlu memiliki keterampilan dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah. Remaja seringkali dihadapkan pada situasi yang menuntut mereka membuat pilihan. Keputusan tersebut dapat berupa mengikuti perintah atau tidak, menerima atau menolak sebuah tawaran, setuju atau tidak setuju dengan pendapat orang lain. Adanya keterampilan emosional maka diharapkan remaja dapat menilai apakah aktivitas yang dilakukan bermanfaat untuk dirinya dan lingkungannya atau bahkan sebaliknya akan merugikan orang lain dan dirinya. Keterampilan spiritual yang perlu dikembangkan dalam diri remaja yaitu kemampuan untuk bersyukur sehingga remaja lebih mampu dalam menerima diri baik kekurangan maupun kelebihan secara lebih positif demikian dijelaskan oleh Bapak Wahyu.

Topik tentang pentingnya orang tua mengenal potensi putra-putri dan memberikan dukungan untuk mengembangkannya disajikan menggunakan simulasi menilai hasil gambar yang dipandu oleh ibu Shinta. Peserta diajak untuk menilai hasil gambar dari 2 orang rekan. Masing-masing peserta memberikan penilaian dengan menyerahkan uang logam yang telah dibagikan sebelumnya. Simulasi ini memberikan ilustrasi bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda dan diharapkan sebagai orang tua tidaklah membanding-bandingkan kondisi anak melainkan orang tua hendaknya medukung anak agar menjadi lebih mampu mengembangkan setiap kemampuannya.

Para peserta begitu aktif dalam mengikuti acara ditunjukan dengan beragam pertanyaan yang diajukan, antara lain sebagai berikut,
Pertanyaan Bapak Ika Trimakna: Bagaimana memotivasi anak agar lebih maju tanpa harus membanding-bandingkan dengan anak lainnya?

Jawaban ibu Shinta: Hendaknya dalam memotivasi anak lebih menggunakan peran orang tua sebagai teladan. Bukan dengan membanding-bandingkan dengan anak lain.
Pertanyaan Bapak Endro Purwono: Bagaimana menasehati anak agar lebih tau waktu dan tidak terbiasa pulang larut malam?
Jawaban Bapak Wahyu: Penanaman nilai tanggungjawab lebih ditekankan agar anak mampu membedakan hal yang berdampak baik dan buruk bagi dirinya.
Pertanyaaan Ibu Endang Suwanti: Bagaimana cara tepat agar anak tidak menghabiskan waktu dengan bermain HP dan laptop?
Jawaban ibu Shinta: Orang tua hendaknya mampu tegas menjalankan aturan untuk membatasi penggunaan HP dan laptop di dalam rumah.

Bapak Wahyu menambahkan bahwa hendaknya keluarga dapat menjalankan fungsinya yakni dengan mencipatakan komunikasi yang afektif antar anggota keluarga, memberikan dukungan, perhatian dan kepedulian terhadap remaja serta memiliki kemampuan untuk mengontrol perilaku remaja agar tidak ke arah perilaku negatif melainkan mengarahkan remaja untuk meregulasi diri dalam proses perkembangannya dan membentuk menjadi individu yang memiliki daya juang.

Acara bimbingan Psikologi terlaksana dengan sukses disertai antusiasme peserta tidak lepas dari dukungan dan kerjasama serta kekompakan rekan-rekan PNS Polres Sleman. Para peserta mengungkapkan bahwa narasumber mampu mengemas tema yang disajikan dengan cara yang menarik, dengan contoh-contoh sesuai dengan kondisi keseharian. Waktu yang tersedia seolah terasa kurang karena begitu banyaknya keinginan dari peserta untuk lebih dalam untuk mendiskusikannya. Materi yang disampaikan oleh para narasumber senyatanya yang terjadi pada kondisi anak jaman sekarang dan menginspirasi kami sebagai orang tua yang mempunyai putra-putri usia remaja untuk terus mendampinginya. Semoga kerjasama antara Polres Sleman dengan Universitas Proklamasi 45 dapat berkelanjutan.

Kepedulian Sosial



Menumbuhkan Rasa Cinta Kepada Sesama
Ika Fatmawati
183104101185
Mata Kuliah : Psikologi Umum II
Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A

Bulan lalu saya berkesempatan mengantarkan bingkisan bakti sosial (baksos) dalam rangka Nu Amoorea berbagi. Bukan sebuah acara besar atau agenda khusus. Saat donasi terkumpul langsung di belanjakan dan di salurkan kepada mereka yang membutuhkan. Warga sekitar tempat tinggal kami adalah target utama. Tujuan  kegiatan ini adalah memberikan manfaat tidak hanya kepada pengguna produk Nu Amoorea saja, tetapi orang di sekitar kita dari keluarga tidak mampu. Nu Amoorea adalah produk perawatan dan kecantikan kulit wajah.