12.12.17

My Experience With My Best Team

My Experience With My Best Team
Wahyu Relisa Ningrum

Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

 
     Tidak terasa sudah menginjak ke semester lima di tahun 2017 ini. Hal-hal baru banyak saya dapatkan, terutama yang membuat saya lebih mengenal teman-teman satu team. Hari ini, Senin (11 Desember 2017) kami dipertemukan kembali dalam suatu acara bertajuk Psikologi Berbagi Road to School. Kali ini Fakultas Psikologi UP45 Yogyakarta hadir di SMK Diponegoro Depok Yogyakarta. Psikologi Berbagi merupakan salah satu kegiatan untuk mengasah kemampuan psikologi dalam berkomunikasi dan menjadi event organizer suatu acara, dalam hal ini dikhususkan pada pendampingan siswa SMA/SMK. 
      Berlatih menjadi Event Organizer (EO) suatu acara tidak semudah yang kita bayangkan. Mulai dari menentukan tema kegiatan, melobi pihak sekolah, membuat TOR (Term of Reference), menyiapkan materi sharing, menyiapkan perlengkapan dan dokumentasi hingga mengkoordinasi mahasiswa untuk terlibat dan bekerjasama agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar.
Kali ini saya berperan sebagai pemandu ice breaking. Games yang diberikan yaitu siswa diberikan lembaran kertas yang berisi 40 item dan masing-masing item terdiri dari empat point Tidak ada jawaban yang benar dan salah. Dari ke 40 item, point mana yang mendominasi, A, B, C atau D. Masing-masing point menunjukkan tipe kepribadian tertentu, yaitu sanguinis, koleris, melankolis, atau plegmatis. Hal ini menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing tipe kepribadian. 

   Pelaksanaan kegiatan ini, memerlukan kemampuan mahasiswa dalam hal berbicara, mengkoordinasi tim dan kepekaan dalam melihat situasi dalam setiap tahapan mulai dari persiapan hingga akhir kegiatan. Mahasiswa juga dituntut untuk lebih peka dan sigap dalam mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik dan tepat. Kekompakan dan kesolidan mahasiswa sangat terlihat dalam mengemas acara kali ini, walaupun perbedaan pendapat, luapan emosi, kesalahpahaman juga mewarnai perjalanan tim ini, tetapi tim ini mengingat satu hal yaitu tetap mengutamakan tujuan utama yaitu keberhasilan suatu acara dapat tercapai dengan optimal. 

     Kecerdasan interpersonal yang dimiliki mahasiswa sangat tinggi. Hal ini terbukti mahasiswa mampu melakukan lobi pihak sekolah dalam melakukan kegiatan Psikologi Berbagi, mahasiswa mampu berkoordinasi dengan baik dengan berbagai pihak, dan kelihaian mengemas acara, sehingga audience tidak bosan. Kecerdasan interpersonal diartikan sebagai kemampuan atau keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi, dan mempertahankan relasi sosialnya sehingga mampu berada pada situasi yang nyaman atau sama-sama menguntungkan (Safaria, 2005).
Psikologi Berbagi di SMK Diponegoro Depok Yogyakarta merupakan ajang bagi mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta dalam berlatih menjadi EO dan mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan terutama di bidang komunikasi. Pengalaman yang sangat berharga ini dapat menjadi modal mahasiswa dalam mempersiapkan persaingan di dunia kerja.

Sumber:
Safaria, T. (2005). Interpersonal Intelligence : Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta : Amara Books.

10.12.17

Komunikasi Penyuluhan Ayo Nonton TV Bersama Orang Tua “Bahaya Televisi Bagi Usia Dini”



Komunikasi Penyuluhan
Ayo Nonton TV Bersama Orang Tua
“Bahaya Televisi Bagi Usia Dini”

I R W A N T O
NIM. 163104101125

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Media televisi adalah program husus yang banyak diinikmati khalayak de seluruh dunia dengan menampilkan tayangan yang sangat menarik . fungsi media televisi itu sendiri adalah sebagai alat untuk menyampaikan informasi, dan memberikan hiburan. Pada era globalisasi saat ini, teeisi telah diramikan oleh hadirnya beberapa stasiun televisi swasta, seperti; RCTI, SCTV, Indosiar, Global-TV, Metro-TV, dan lain lain. Semua stasiun televisi swasta tersebut berusah menarik penonton sebanyak-banyaknya agar dapat menempati posisi tertinggi (rating) . hal ini dapat menimbulkan banyaknya iklan yang masuk yang akan menimbulkan ‘suntikan’ dana untuk program acara televisi ersebut. Mau tidak maau, suka tidak suka, stasiun tv nasional TVRI menjadi terpinggirkan karena banyaknya stasiun tv swasta yang mengejar materialisme.
Dengan banyaknya stasiun televisi yang swasta sekarang (bandingkan dengan jaman dulu) dengan berbagai acara yang lebih mengutamakan hiburan (kecuali TVRI) tentu membawa konsekuensi berat bagi pemirsa , khsususnya orang tua untuk lebih selektif dan berkompromi dengan anak-anak untuk menonton tayangan yang seharusnya tidak dilihat oleh anak. Apalagi usia anak-anak, merupakan usia strategis dan lebih mudah terkena pengaruh, baik dari lingkungan dengan kontak langsung maupun media elektronik. Tayang televisi dapat berpengaruh negatif terhadap perkembangan perilaku anak tergantung dari penyesuaian anak (Hurlock, 1978: 344), “anak yang penyesuaiannya baik kurang kemungkinannya terpengaruh secara negatif, apakah permanen atau temporer dibandingkan anak yang buruk penyesuaiannya, dan anak yang sehat dibandingkan yang tidak sehat”.
Kesimpulnnya, tayangan televisi memiliki peran yang sangat besar terhadap perkembangan anak-anak. Pemilihan tayangan televisi yang baik dann peran pendampingan orang tua menjadi suatu hal yang sangat penting karena seringkali sebuah tayangan menjadi pengaruh yang dapat berakhir dengan sebuah kasus kekerasan, dan tak pelak dapat membunuh. Berikut adalah beberapa contoh kasus akibat tayangan televisi yang mempengaruhi anak-anak dan ditirukan:
Akhir tahun 2015, seorang anak kelas 1 SD di Pekanbaru meninggal akibat pengeroyokan teman-temannya. Menurut keterangan orang tua, korban dan teman-temannya sedang bermain-main menirukan adegan tujuh manusia harimau. Akibatnya, korban kerusakan syaraf dan meninggal dunia.
Tahun 2009, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun di Jakarta Pusat meninggal dunia akibat tergantung di ranjangnya yang bertingkat. Menurut orang tua dan saksi lainnya, korban gemar menirukan adegan pada tayangan “Limbad The Master”. Korban juga sempat menirukan adegan menusuk tangannya dengan jarum. Dan ketika kejadian yang merengut nyawa terjadi, orang tua sedang berjualan di Pasar.
Tahun 2008, seorang anak perempuan di Inggris meninggal karena leher terjerat pita rambut miliknya. Menurut pengakuan orang tua, korban sangat suka menonton film “Dora the explorer” dan “go diego go”. Pada salah satu adegan kartun tersebut tedapat adegan seorang anak yang bergelantungan di atas tali.
Berdasarkan kasus-kasus tersebut, kami selaku mahasiswa guna memenuhi tugas mata kuliah komunikasi penyuluhan, membuat keputusan untuk mengambil tema “selektif dalam memilih tayangan untuk anak” dan memilih PAUD sebagai target penyuluhan kami. Sebab, pada usia 2-7 tahun (menurut kognisi piaget) anak mengalami perkembangan pesat dalam bahasa, dan hanya menyimpulkan sesuatu berdasarkan apa yang mereka lihat. Kekerasan hanya salah satu contoh negatif dari ketidak selektif-an memilih tayangan televisi, selain itu tayangan televisi juga dapat menimbulkan kedewasaan sebelum waktunya pada anak-anak, seperti adegan-adegan yang terdapat pada kartun disney princess, seringkali terdapat adegan berpacaran contohnya; adegan berciuman pada film snow white, diceritakan bahwa Putri Salju (tokoh utama) meninggal akibat memakan sebuah apel beracun dan hidup kembali setelah ada seorang pangeran yang menciumnya.
Contoh tersebut membuktikan bahwa tidak semua tayangan kartun layak unutuk ditonton anak anak (sebenarnya), namun memang film bergenre percintaan banyak diminati khalayak penonton. Dan bukan berati, peniruan seorang anak terhadap adegan pada tayangan televisi menjadi sepenuhnya tanggung jawab dari pihak televisi. Peran penting oran tua juga dibutuhkan dalam mendampingi anak menonton, karena belum tentu semua tayangan yang sudah memiliki label ‘anak-anak’ dapat diterima secara positif oleh anak-anak.
Maka, dalam kegiatan penyuluhan ini, kami menghimbau kepada anak-anak untuk minta didampingi orang tua atau kakaknya (jika ada) pada saat menonton tv, dan jika menonton sendirian, anak-anak supaya menyadari bahwa tayangan pada televisi hanya rekayasa semata (kecuali berita) dan tidak perlu ditiru jika tidak baik. Selain itu, kami juga mengingatkan bahwa menonton TV yang baik untuk anak adalam 2-3 jam sehari agar tidak menimbulkan efek kecanduan pada anak dan jarak terdekat untuk menonton TV adalah satu meter karena radiasi dari benda elektronik dan televisi sangat kontras terhadap mata sehingga akan leih mudah merusak mata (dibandingkan dengan sering membaca buku).
ANALISA SWOT
Strength:
o  Televisi memiliki kekuatan untuk mempengaruhi (persuasif).
o  Saluran komunikasinya sangat luas.
o  Saluran komunikasi televis dapat diterima segala usia.
o  Mudah untuk diakses.
Weakness:
o    Banyak konten di televisi yang tidak layak ditayangkan.
o    Kategori usia penonton tidak dapat dipraktekan secara nyata.
o    Kebanyakan stasiun televisi hanya mengejar rating.
Oppurtunities:
o    Mumculnya konsep kreatifitas bagi penonton.
o    Memberikan fungsi entertain bagi penonton.
o    Memberikan stimulan bagi anak-anak untuk belajar dari pengalaman.
Threat:
o    Hal-hal negatif yang tidak pantas untuk ditiru, ditayangkan di televisi
o    Membuat anak malas belajar akademik.
o    Merusak mata apabila terlalu berlebihan.

MINIMNYA SARANA DAN PRASARANA SEBAGAI PENUNJANG KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR



MINIMNYA SARANA DAN PRASARANA SEBAGAI PENUNJANG KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
 I R W A N T O
NIM. 163104101125

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 45 pasal 31 : (1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Makna dari Pasal 31 UUD 1945 tersebut adalah setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan tanpa kecuali. Pada kenyataannya, kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan pelayanan pendidikan bagi masyarakat. Padahal pendidikan merupakan faktor utama dalam menentukan kemajuan sebuah bangsa. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi, maka akan semakin baik sumber daya manusia yang ada, dan pada akhirnya akan semakin tinggi pula daya kreatifitas pemuda .
Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan, mutu pendidikan yang rendah, kualitas pendidikan yang jauh dari kata memuaskan, hal ini ditambah lagi dengan minimnya sarana dan prasarana pendidikan yang layak bagi setiap warganya. Minimnya fasilitas penunjang kualitas pendidikan di Indonesia,  membuat ketidaknyamanan proses belajar mengajar dan hal ini sangat berpengaruh dengan hasil yang dihasilkan proses belajar mengajar tersebut sehingga menjadi kurang dan turunnya mutu pendidikan yang ada di Indonesia. Berbagai sarana prasarana yang sangat membantu proses belajar-mengajar masih kurang perhatian oleh dinas pendidikan pemuda dan olahraga. Banyak sekali sekolah yangbuku perpustakaan tidak lengkap, white board,serta kursi dan sebagainya.
Kondisi pendidikan di Indonesia saat ini sudah mulai membaik, namun kondisi ini tidak diikuti dengan peningkatan sarana dan prasarana sekolah di daerah. Masih banyak sekolah di daerah yang sarana dan prasarananya kurang memadai dan kurang layak. Seperti halnya di daerah terpencil yang terdapat di papua, mereka disana masih belum memiliki bangunan sekolah yang memadai serta sarana dan prasarana yang belum layak dan memadai. Hal ini mungkin disebabkan oleh penyaluran anggaran pendidikan dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah yang belum merata akibat dari tindak praktik korupsi, sehingga sarana dan prasarana yang semestinya baik dan berkualitas menjadi tidak sesuai dengan spesifikasi dan kualitas yang telah dianggarkan oleh Pemerintah Pusat.Sebenarnya hal seperti ini dapat diselesaikan dengan cara membuat suatu lembaga khusus yang independen yang bertugas mengawasi pengadaan Sarana dan Prasarana Sekolah di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan demi mewujudkan pemerataan Sarana dan Prasarana Sekolah untuk menciptakan pendidikan yang baik serta berkualitas di Indonesia.Solusi lain yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan fungsi keberadaan Komite Sekolah yang jujur, independen, serta transparan sebagai pihak yang mengawasi kecurangan atau tindak praktik korupsi baik yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah maupun pihak Sekolah. Pemerintah Daerah dan pihak Sekolah seharusnya transparan mengenai Sarana dan Prasarana yang seharusnya disediakan dan spesifikasi sesuai dengan anggaran yang di tetapkan. Walaupun demikian, Pemerataan Sarana dan Prasarana di Sekolah masih banyak membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Sekolah, dan Komite Sekolah untuk jujur dan transparan mengenai pengadaan Sarana dan Prasarana sekolah agar terwujudnya pemerataan Sarana dan Prasana Sekolah untuk Pendidikan Indonesia yang lebih baik.