26.3.19

Pentingnya Hubungan Antara Orang Tua dan Anak


Tasa Astiyani
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta




Hubungan mesra pertama dari seorang manusia adalah hubungan ibu dan anak. Menurut Freud ( 1949 ), yang pertama kali dihadapi seseorang dalam perilaku mesranya adalah dengan ibunya pada saat melakukan aktivitas menyusui. Selama masa pertumbuhan, bayi mendapatkan makanan dan kesenangan dari ASI yang telah diberikan oleh ibunya. Sehingga mengurangi ketegangan si anak akibat rasa lapar. Melakukan aktivitas dalam mengurangi ketegangan selama tahap awal ini berperan penting bagi kehidupan seorang anak. Selain itu kebutuhan akan rasa aman, nyaman, dan kasih sayang merupakan faktor penting bagi perkembangan anak.

Interaksi antara ibu dan anak ini membentuk sebuah pola perilaku yang direfleksikan dalam sebuah hubungan diantara keduanya. Sebuah contoh perkembangan kepribadian sebagai akibat dari ikatan ini bisa dilihat dalam perilaku bayi yang selalu ingin berada dalam dekapan ibunya. Dalam hal ini menunjukkan bahwa kedekatan antara ibu dan anak memang sudah terjalin sejak usia bayi.

Selama masa pertumbuhan, kebutuhan seorang anak selalu terpenuhi oleh ibunya. Kebutuhan akan rasa aman dan nyaman memainkan peran penting dalam membuat sebuah interaksi yang positif. Meskipun dalam hal pembentukan sikap dan perilaku peran ayah juga sangat penting. Namun menurut Bowlby dan Ainsworth ( 1991 ), cinta antara ibu dan bayinya merupakan akibat dari kasih sayang yang terbentuk selama tahun pertama kehidupan.

Hubungan antara orang tua dan anak ini memang sangatlah penting dibentuk selama masa pertumbuhan dan perkembangan sejak masa anak-anak, masa remaja, dan masa dewasa awal sehingga memunculkan suatu hubungan yang berkelanjutan. Hubungan yang dibentuk sebagai upaya penanaman kebiasaan yang baik. Dengan harapan dapat membentuk kepribadian yang baik bagi anak. Karena pentingnya peran orang tua dalam hal pembentukan kepribadian, maka hubungan antara orang tua dan anak harus diwujudkan dengan baik.

Referensi :
Sokolova, Irina V., dkk. (2014). Kepribadian Anak: Sehatkah Kepribadian Anak Anda?. Yogyakarta : Katahati.

23.3.19

PSIKOLOGI ABNORMAL GANGGUAN KEPRIBADIAN " PARANOID"


Reni Suryani
173104101169
Mata Kuliah : Psikologi Abnormal
Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A




Gangguan Kepribadian
GANGGUAN KEPRIBADIAN PARANOID

     Gangguan kepribadian merupakan pola perilaku / cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut yang menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self deating.

                   Gangguan kepribadian paranoid adalah perasaan curiga yang pervasive, kecenderungan untuk menginterprestasi perilaku orang lain sebagai hal yang mengancam atau merendahkan. Orang dengan gangguan ini sangat tidak percaya pada orang lain , dan hubungan social mereka terganggu.

      Individu yang memiliki kepribadian paranoid cenderung terlalu sensitive terhadap kritikan , baik itu nyata maupun yang dibayangkan. Lebih tidak percaya kepada orang lain dan meyakini bahwa orang lain itu sebagai ancaman. Meskipun kecurigaan dari orang yang menderita gangguan kepribadian paranoidsangatlah berlebihan dan tidak berdasar, pada gangguan ini tidak terdapat kehadiran delusi paranoid yang menandai pola pikir dari orang yang menderita skizofrenia paranoid.

Contoh kasus: seorang pensiun berusia 85 tahun yang diwawancarai oleh pekerja social untuk menentukan kebutuhan perawatan kesehatan bagi dirinya serta istrinya yang sakit dan lemah. Pria ini tidak memiliki sejarah penanganan gangguan mental. Ia terlihat sehat dan waspada secara mental. Dia terlihat sehat dan waspada secara mental. Dia dan istrinya telah menikah selama 60 tahun, dan tampak bahwa istrinya yang benar-benar dia percaya. Dia selalu curiga pada orang lain dan dia tidak mengungkapkan informasi pribadi pada siapapun kecuali pada istrinya. Yakin bahwa orang lain akan mengambil keuntungan darinya. Dia menolak tawaran dari orang lain karena curiga deengan motifnya. Saat menerima telepon dia menolak untuk menyebutkan namanyasampai dia tahu maksud si penelpon. Ia selalu melibatkan dalam dirinya dalam pekerjaan yang berguna untuk mengisi waktunya. Ia meluangkan waktu yang cukup banyak untuk memonitor investasinya dan pernah bertengkar dengan pegawainya saat terjadi kesalahan dalam rekening bulanan yang membuatnya curiga bahwa pegawainya tersebut berusaha menutupi transaksi yang curang.

Referensi :

Nevid. S Jeffrey. (2005). Psikologi Abnormal ( edisi ke lima ). Hal 273-274


PSIKOLOGI ABNORMAL GANGGUAN KECEMASAN "GANGGUAN PANIK"


Reni Suryani
173104101169
Mata Kuliah : Psikologi Abnormal
Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A





GANGGUAN KECEMASAN
GANGGUAN PANIK
  Gangguan panic yaitu munculnya serangan panic yang berulang dan tidak terduga. Serangan panic melibatkan reaksi kecemasan yang intens disertai dengan simtom fisik seperti jantung berdebar-debar, nafas cepat, nafas tersengal, kesulitan bernafas, berkeringat banyak dan rasa lemas pada seluruh tubuh.

   Individu yang mempunyai serangan panic cenderung sangat menyadari adanya perubahan pada degup jantung individu. Mereka lebih percaya bahwa mereka mempunyai serangan jantung tetapi jantung mereka sebenarnya baik-baik saja. Serangan panic terjadi dalam intensitas 10-15 menit.

    Dalam berbagai kasus, individu yang mengalami serangan panic biasanya  membatasi diri pergi  ke suatu tempat yang dianggap menakutkan  yang dapat memicu terjadinya serangan tersebut.

  Individu sering mendeskripsikan serangan panic sebagai pengalaman terburuk dalam hidupnya. Individu merasa harus kabur. Ada juga individu dengan serangan panic takut untuk pergi keluar sendiri. Suatu diagnosis gangguan panic dibagi menjadi 2 yaitu :
a.     Mengalami serangan panic secara berulang dan tidak terduga
b.     Satu dari serangan tersebut diikuti oleh paling tidak satu bulan rasa takut yang persisten akan adanya serangan yang berikutnya.

  Gangguan panic biasanya dimulai pada akhir masa remaja sampai pertengahan 30 tahun. Dari informasi yang diketahui tentang jangka panjang, akan menjadi kronis dan cenderung menunjukkan serangan panic yang bergantian antara menonjol dan meredup.
Referensi : Nevid. S Jeffrey. (2005). Psikologi Abnormal ( edisi ke lima ). Hal 166-167