11.7.20

Webinar: Optimalisasi Karyawan Milenial untuk Membangun Perusahaan yang Kreatif



Oleh: Alia Nanda Rumekti
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

            Kata milenial dan istilah Generasi Milenial nampaknya sudah sangat sering menjadi perbincangan di masyarakat. Generasi milenial adalah generasi yang sadar teknologi, kreatif, mencintai kebebasan, dan cenderung mengesampingkan pertemuan tatap muka (Nurudin, 2020). Generasi milenial memerlukan pengembangan yang optimal, khususnya dalam dunia kerja. Generasi milenial di dunia kerja dapat disebut sebagai karyawan milenial. Sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh mereka, biasanya dapat mempengaruhi pembangunan dan perkembangan perusahaan. Perusahaan bisa menjadi lebih kreatif, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mengalami pemerosotan.
            Dalam Webinar “Optimalisasi Karyawan Milenial untuk Membangun Perusahaan yang Kreatif”, permasalahan tentang karyawan milenial dibahas dengan cukup rinci. Webinar ini diselenggarakan oleh Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta bekerjasama dengan Biro Psikologi UP45, SKK Migas, IAFMI, dan Mitra Optima Talenta. Webinar yang dilaksanakan pada hari Rabu, 8 Juli 2020 ini dilaksanakan secara daring (dalam jaringan) dan diikuti oleh sedikitnya 100 peserta dari berbagai kalangan. Webinar ini mengadirkan dua orang narasumber, yaitu Ibu M. R. A. Puspitasari, M. Psi., Psikolog, dan Bapak Ir. Sulistya Hastuti Wahyu, M. T. Dalam webinar ini hadir pula  Ibu Dewi Handayani Harahap sebagai Wakil Rektor II sekaligus dosen Psikologi UP45 yang berperan sebagai moderator.
            Ibu M. R. A. Puspitasari, M. Psi., Psikolog, adalah tenaga ahli, komisaris PT. Mitra Optima Talenta, dan assessor MSDM tersertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi). Narasumber yang biasa disapa Ibu Ita, mengusung materi yang berjudul “Mengenali Strategi Rekrutmen Generasi Milenial”. Dalam materinya beliau sepakat dengan sifat dan karakteristik generasi milenial. Menurutnya, generasi milenial adalahh generasi yang menyukai tantangan, kreatif, penikmat dan pengguna sosial media, dan berorientasi pada hasil serta prestasi. Beliau juga menuturkan tentang tiga hal penting bagi generasi milenial, diantaranya work life balance, transfer pengetahuan dan keterampilan, dan menghindari manajemen mikro. Merujuk pada hal-hal tersebut, keberadaan generasi milenial di perusahaan nampaknya dapat membuat perkembangan atau pemerosotan bagi perusahaan. Perkembangan ini adalah karena karakter generasi milenial yang pada umumnya tidak menyukai hal-hal yang monoton. Hal ini akan menuntut perusahaan untuk selalu melakukan perbaikan dan perombakan agar lebih menarik. Namun, karakter santai dan  fleksibel dari generasi ini, jika berlebihan juga akan berdampak tidak baik bagi perusahaan.
            Keberadaan generasi milenial di perusahaan juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Ibu Ita, keutungan tersebut seperti lingkungan kerja menjadi lebih segar dan menyenangkan, perusahaan dapat terus berinovasi, dan profit perusahaan yang meningkat. Guna mewujudkan hal tersebut, beliau membagikan tips untuk menarik dan merekrut karyawan milenial. Hal tersebut diantaranya:
1.      Menjadi guru bahkan orangtua bagi mereka.
2.      Merancang pekerjaan sesuai dengan target bukan jam.
3.      Memberikan tantangan dan kesempatan.
4.      Menyusun dan mengembangkan jenis pekerjaan, tugas, dan jenjang karir.
5.      Dsb.
Hal ini juga didukung oleh materi Bapak Ir. Sulistya Hastuti Wahyu, M. T, yang merupakan Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas sekaligus Plt. Deputi Pengendalian Pengadaan  SKK Migas. Dalam materinya yang berjudul “Inovasi Bisnis dan Upaya Menyamakan Persepsi antargenerasi Babyboomers-Millenials” ini, beliau lebih fokus kepada tantangan organisasi untuk merekrut dan mengembangkan para milenial khususnya dalam perusahaan minyak dan gas (migas). Menurutnya, generasi milenial dengan ciri dan karakteristik yang dimilikinya, membutuhkan adanya baby-boomers sebagai penyeimbang dan pendukungnya. Penggunaan teknologi juga akan menjadi tantangan yang menentukan keberhasilan perusahaan. Selain itu, sangat penting seluruh elemen perusahaan untuk menjaga ekosistem di industri hulu migas untuk mencapai target produksi nasional. Maka dari itu, sangat dibutuhkan kebijaksanaan dari para Baby-boomers untuk mengarahkan generasi milenial agar kian termotivasi untuk berkembang.
Webinar ini terasa sangat lengkap dan kontekstual dengan kondisi saat ini. Generasi milenial yang umumnya penuh semangat dan menyukai tantangan, seharusnya lebih tertantang untuk mengembangkan potensinya. Sisi pekerja keras yang dimilikinya, hendaknya dapat menjadi keuntungan bagi perusahaan dalam hal profit atau pencapaian perusahaan. Hal itu bukan hanya menguntungkan bagi perusahaan, tetapi juga menguntungkan para karyawan. Keuntungan lain yang dapat tercipta dengan adanya karyawan milenial adalah lingkungan kerja yang segar. Sifat  santai dan fleksibel namun pekerja keras ini yang mungkin menciptakan suasana tersebut. Dengan suasana yang segar, pekerjaan yang dikerjakan lebih terasa tidak menekan dan menjaga mental tetap sehat.
Panitia Webinar Optimalisasi Karyawan Milenial untuk Membangun Perusahaan yang Kreatif”:
1.      Alia Nanda Rumekti               (19310410066)
2.      Imelta Indriyani Alfiah           (19310410062)
3.      Mayli Qisti Rofiq                    (19310410095)
4.      Nico Hari Al 'Arafi                 (173104101165)
5.      Novia Zahra Zakiah                (19310410025)
6.      Rio Wahyu Nugroho               (173104101166)
7.      Trias Sabila Rahmah               (19310410036) 

Daftar Pustaka:


Nurudin, R. C. (2020). Relasi Kuat antara Generasi Millenial dan Media: Volume 6 dari Seri Buku Mahasiswa Komunikasi UMM. Malang: Prodi Ilmu Komunikasi UMM & Intrans Publishing Group.

3.7.20

Seminar Online: Membentuk Karakter Anak untuk Mencintai Lingkungan Melalui Pengelolaan Sampah



Oleh:
Alia Nanda Rumekti
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Sampah merupakan hal yang berhubungan sangat erat dengan lingkungan. Wujud kecintaan lingkungan seringkali dikaitkan dengan bersihnya lingkungan dari sampah. Sampah yang dijumpai setiap harinya merupakan sisa dari aktivitas manusia mulai dari aktivitas industri dan rumah tangga yang menghasilkan berbagai bentuk dan ukuran sampah (Novita, 2016). Sampah terdiri atas dua jenis, organik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang dapat diuraikan secara alami. Sampah anorganik adalah sampah yang tidak mudah atau tidak dapat diuraikan secara alami. Kedua jenis sampah ini dapat diolah menjadi barang yang lebih mulia. Memuliakan sampah berarti memilah sampah sesuai jenisnya, meletakkan sesuai dengan kategorinya, dan mengolahnya dengan kreatif (Shinta, 2019). Memuliakan sampah dengan mengolahnya ini juga dapat menumbuhkan nilai karakter anak seperti peduli lingkungan dan tanggung jawab.
Anak-anak adalah tahapan usia yang sudah cukup mampu diajak berkreasi. Aneka permainan dan alat pembelajaran mahal diciptakan untuk membangkitkan kreativitas dan karakter anak. Padahal ada media pembelajaran penting dan gratis di lingkungan, yaitu sampah. Kurangnya perhatia terhadap hal tersebut, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta bekerjasama dengan Biro Psikologi UP45 dan HIMPAUDI DIY menggelar seminar online bertajuk Membentuk Karakter Anak untuk Mencintai Lingkungan Melalui Pengelolaan Sampah. Seminar ini menghadirkan dua orang narasumber yang sangat kompeten dalam bidang pengelolaan sampah. Beliau adalah Dr. Arundati Shinta, M. A., dan Nurkhamaliyah, S. Pd.
Seminar yang dilaksanakan pada hari Kamis, 2 Juli 2020 ini diikuti oleh 219 peserta dari berbagai kalangan. Seminar yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini membahas tuntas tentang pembentukan karakter cinta lingkungan pada anak melalui pengelolaan sampah. Dr. Arundati Shinta, M. A., yang merupakan Dosen Psikologi UP45 sekaligus penggiat pengelolaan sampah berbasis karakter, menuturkan bahwa masyarakat belum menganggap pengelolaan sampah sebagai suatu kebutuhan primer. Padahal kesehatan dan lingkungan adalah kebutuhan primernya. Beliau meyamapaikan, perilaku bertanggungjawab atas sampah dalam hal ini sangat berdampak pada masalah yang lainnya. Salah satu dampak itu adalah karakter tidak terpuji dari generasi muda. Generasi muda atau anak sangat membutuhkan suri teladan yang baik dari orang dewasa di sekitarnya. Dr. Shinta juga menyampaikan bahwa pembenahan atas karakter tidak terpuji ini sangat diperlukan. Hal ini disebabkan oleh pendidikan karakter adalah  suatu strategi untuk membentuk kepribadian seseorang melalui budi pekerti.
Nurkhamaliyah, S. Pd atau Bunda Lia yang juga merupakan narasumber seminar ini, menuturkan hal serupa. Bunda Lia yang merupakan praktisi PAUD, Asesor BAN-PAUD-PNF, sekaligus tim penguji LSK (Lembaga Sertifikasi Kompetensi), menuturkan bahwa pendidikan karakter pada anak sangat diperlukan sebagai bekal di masa yang akan datang. Ada sepuluh nilai karakter yang harus dimiliki oleh anak yaitu religius, jujur, toleransi, peduli lingkungan, tanggung jawab, disiplin, dan sebagainya. Pengelolaan sampah memuat beberapa nilai karakter yang harus dimiliki anak seperti bertanggung jawab, disiplin, dan peduli lingkungan. Bunda Lia juga menyampaikan bahwa beberapa cara mengasah karakter anak antara lain adalah pembiasaan membuang sampah pada tempatnya dan melakukan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle), atau yang saat ini bertambah satu lagi yaitu Replacement.
Banyak hal penting yang dapat dipelajari dari seminar ini. Peran sekolah dan orangtua atau pendamping anak sangat diperlukan dalam pembentukan karakter anak dan pencapaian nilai karakternya. Pengelolaan sampah sebagai hal yang sering dianggap “bukan kebutuhan primer” harus segera digiatkan. Hal ini dilakukan agar tidak ada dampak negatif lain yang muncul dari keengganan ini. Pembiasaan baik harus terus dilakukan pada anak. Sekolah, orangtua, dan anak harus bekerjasama dalam mengupayakan pembiasaan pengelolaan sampah menjadi perilaku yang menetap. Karena perilaku yang menetap sangat mungkin menjadi karakter yang melekat. Salam lestari!

Panitia Seminar Online “Membentuk Karakter Anak untuk Mencintai Lingkugan Melalui Pengelolaan Sampah”:
1.      Alia Nanda Rumekti               (19310410066)
2.      Imelta Indriyani Alfiah           (19310410062)
3.      Mayli Qisti Rofiq                    (19310410095)
4.      Nico Hari Al 'Arafi                 (173104101165)
5.      Novia Zahra Zakiah                (19310410025)
6.      Rio Wahyu Nugroho               (173104101166)
7.      Trias Sabila Rahmah               (19310410036)

Daftar Pustaka:

Novita. (2016). Teknologi Daur Ulang Limbah Tekstil Padat yang dikoleksi dari Tempat Pembuangan AKhir (TPA) Gampong Jawa Banda Aceh. Jurnal Biotik, 4(2), 111.
Shinta, A. (2019). Penguatan Pendidikan Pro-Lingkungan Hidup di Sekolah-Sekolah untuk Meningkatkan Kepedulian Generasi Muda pada Lingkungan Hidup. Yogyakarta: Best Publisher.



28.6.20

Body Shaming Pemicu Agresivitas

Mita Dwi Wijayanti (19.310.410.037)
Fakultas Psikologi 
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta 
Dosen Pengampu: Arundhati Shinta


     Body shaming adalah tindakan mengejek atau menghina dengan mengomentari fisik (bentuk maupun ukuran tubuh) dan penampilan seseorang baik secara langsung atau tidak langsung. Body shaming ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan sekolah. Body shaming sering terjadi disekitar kita baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Bahkan tak jarang orang disekitar kita juga sebagai pemicu terjadinya body shaming. 

Sumber Gambar: halodoc.com

    Objek yang dijadikan body shaming biasanya adalah bentuk tubuh seseorang, ukuran tubuh, wajah, warna kulit, dan juga tampilan yang berbeda dari mayoritas atau tidak memenuhi standar kecantikan. Yang sering terjadi adalah pengejekan tentang warna kulit. "Ih kok kulitnya hitam banget sih", "Ih kok hitam jarang mandi ya pasti", "Pasti lahirnya pas mati lampu karena warnanya hitam ga kelihatan", "Kok kayak malika ya kedelai hitam", dan bla bla bla masih banyak lagi. Memang di sekitar kita ini orang yang memiliki kulit putih cenderung mendapatkan perlakuan yang baik dibandingkan orang yang berkulit hitam. 

Sumber Gambar: thejakartapost.com

  Seperti halnya di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah menjadi pemicu terbesar terjadinya body shaming, baik itu dari teman atau bahkan dari guru sendiri. Ya, walaupun mungkin bagi mereka itu adalah hal yang wajar namun, bagi orang yang mendapatkan perlakuan tersebut menganggapnya itu hal yang kurang wajar. Artikel ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya ketika duduk dibangku sekolahan. Mungkin menurut mereka apa yang dikatan itu adalah sebuah candaan biasa tapi apakah mereka berpikir bahwa hal tersebut akan membuat orang yang dihina sakit hati? Mungkin tidak karena selama ini mungkin ada orang yang mendapatkan perlakuan body shaming hanya diam. Seperti apa yang saya rasakan dulu, mungkin mereka semua menganggapnya wajar karena selama ini saya hanya diam dan ikut tertawa. Namun tidak semua orang bisa menerima dan melakukan hal tersebut apalagi jika fisik yang dihina. 

Sumber Gambar: www.storie.id

   Lalu apakah hal itu akan menjadi pemicu terjadinya agresivitas pada seseorang? Iya benar bahkan dari hal tersebut biasanya akan menjadikan orang yang mendapatkan body shaming memiliki dendam pribadi kepada pelakunya. Seperti halnya yang kita ketahui bahwa agresivitas akan muncul ketika seseorang mengalami emosi. Dan emosi tersebut akan hadir ketika seseorang mengalami hal yang kurang menyenangkan, seperti halnya body shaming. Dari hal ini akan memicu orang untuk marah dan  ingin menyerang, meninju, atau melemparkan sesuatu pada pelakunya. Biasanya juga akan timbul pikiran  kejam dan muncul pada saat individu dalam keadaan marah. Tak jarang juga ada seseorang yang bisa-bisanya memiliki pemikiran untuk membunuh orang yang melakukan pengejekan terhadapnya. Karena memang tujuan dari perilaku agresif adalah untuk melukai orang lain. Ketika fisik kita yang dihina, "Mukamu itu lo hitam banget putihanlah biar pas mati lampu kelihatan". Dari kalimat-kalimat yang tidak mengenakan ini nantinya menimbulkan perasaan ingin menyerang. Mengapa? Karena, hal ini dianggap adalah hal yang kurang sopan. Tidak sepantasnya diucapkan baik itu untuk mengingatkan ataupun disengaja untuk menghina. 

Sumber Gambar: detiknews.com

    Untuk itu agar tidak semakin terjadi hal yang tidak diinginkan mari kita menghentikan hal ini, dimulai dari diri kita sendiri. Baik itu harus menjaga ucapan  agar orang lain tidak tersinggung. Karena mungkin bagi pelaku mereka merasa tidak melakukan hal itu, namun bagi si objek sebaliknya. Dan juga agar tidak semakin banyaknya korban yang mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakan seperti body shaming. Karena memang didunia ini tidak ada sesuatu yang sempurna. 


Referensi:
http://indonesiabaik.id/infografis/stop-body-shaming (diakses pada 28 Juni 2020)

Sumber Gambar:
https://www.halodoc.com/meski-bercanda-mengejek-fisik-orang-bisa-sebabkan-depresi (diakses pada 28 Juni 2020)
https://www.thejakartapost.com/news/2020/01/07/deflecting-body-shaming.html (diakses pada 28 Juni 2020)
https://www.storie.id/storie/jawaban-savage-untuk-orang-yang-suka-body-shaming-231251 (diakses pada 28 Juni 2020)
https://news.detik.com/berita/d-4930692/kemen-pppa-soal-komentator-bola-body-shaming-ke-penonton-rendahkan-perempuan (diakses pada 28 Juni 2020)