8.3.21

Persepsi Generasi Milenial terhadap Lingkungan


Maret 02, 2021


MARI CIPTAKAN LINGKUNGAN BERSIH DAN SEHAT !!!

Abdul Basith

Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Yogyakarta




Generasi milenial- didefinisikan sebagai generasi yang lahir sekitar 1980 hingga akhir 1990an generasi yang menyenangkan untuk dibenci, mungkin banyak karakteristik yang kita pakai untuk mencap kaum milenial, bukanlah hal yang khas untuk generasi ini, mungkin karakteristik itu spesifik dipakai untuk anak muda dari generasi manapun.

Mereka juga mempunyai keunikan istilah mager adalah istilah gaul yang merupakan singkatan dari 'Males gerak.' Mager bahkan sudah masuk dalam KBBI, lho. Menurut KBBI mager berarti malas (ber)gerak; enggan atau sedang tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas. Mager menggambarkan seseorang yang enggan atau tidak bersemangat melakukan aktivitas apapun. Orang yang mager bisanya malas untuk bergerak dan tidak ingin melakukan apapun. Mereka punya persepsi sangat bagus, pengetahuan luas tentang lingkungan hidup. 




Hal yang unik adalah mereka mager untuk melakukan hal-hal sederhana seperti mengurangi belanja, menggunakan kembali barang-barang, dan mendaur ulang barang2. Ini disebut perilaku 2R. Namun di sisi lain, mereka gencar di media sosial untuk menggelorakan semangat pro-lingkungan hidup. Contohnya, gerakan Green Peace. Semangatnya menggelora. Isinya adalah anak-anak muda mahasiswa. Hebat. Perilakunya sehari-hari mungkin saja tidak pro-lingkungan hidup. Mengapa ini terjadi? Apakah persepsi tidak ada hubungannya dengan perilaku?





Persoalan yang berhubungan pro-lingkungan di media sosial dengan generasi milenial memiliki peran besar mengatasi masalah sampah yang menjadi momok di masa depan. Mereka yang hidup di era digital ini mudah memberikan pengaruh untuk melakoni suatu perubahan, ini yang menjadi alasan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong kaum milenial membangun kultur baru minim sampah dalam keseharian mereka. “membangun gaya hidup, misalnya bawa kantong belanja, tidak menggunakan sedotan plastik, mendaur ulang sampah, gaya-gaya lifestyle yang minim sampah seperti perilaku 2R”, populasi milenial saat ini cukup signifikan dengan gaya hidup yang cepat beradaptasi misalnya tren minum di coffe shop tidak menggunakan sedotan plastik di berbagai kafe di kota besar, seperti Jakarta, sudah banyak yang tidak menyediakan sedotan, kantong plastik.



Mereka adalah pewaris negeri di masa mendatang dengan gaya hidup seperti itu mereka akan menikmati masa depan yang lebih baik tentunya, kultur seperti ini sangat penting berdampak 20 atau 30 tahun mendatang, masalah sampah sudah menjadi keharusan semua pihak untuk mulai menguranginya, saya mendukung gerakan pro-lingkung, lingungan yang bersih itu enak dilihat dan sehat. Mungkin diluar sana masih ada yang berprilaku kurang pro-lingkungan walaupun dimedia sosial menggelorakan semangat pro-lingungan itu kepedualian dari diri sendiri.



Jadi pada dasarnya, milenial sama seperti generasi lainnya pada usia mereka hanya sedikit berbeda lebih global mungkin lebih beragam, lebih progresif, miskin pastinya. Tapi apakah mereka kelompok monster yang unik yang pantas dibenci ? saya tidak yakin, yang terbaik mengajak mereka dan mari menciptakan lingkungan bersih dan sehat



Daftar pustaka

Amanda Ruggeri. (2017). What everyone gets wrong about ‘millennial snowflakes’. BBC Capital. December 21.

7.3.21

TUMBLER, SENJATA PAMUNGKAS MEMERANGI SAMPAH PLASTIK


Andi Purnawan / 19310410002

Dosen Pengampu: Dr.Arundati Shinta,MA

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

(Sumber: Ceraproduction.com)

Sampah plastik sampai saat ini masih menjadi persoalan besar dalam hal pelestarian lingkungan. Bagaimana tidak, setiap hari barang belanjaan selalu memakai kantong plastik sebagai wadahnya. Tidak hanya itu, dalam suatu acara seperti halnya rapat atau pertemuan-pertemuan banyak yang memakai (menyediakan) air munum kemasan plastik baik berbentuk gelas maupun botol. Tidak bisa dipungkiri memang menggunakan plastik bisa membuat kebutuhan manusia lebih praktis. Namun kepraktisan tersebut malah akan membuat dampak buruk bagi lingkungan. Plastik yang sifatnya tidak mudah terurai menjadikan semakin menumpuk dalam setiap harinya.

Permasalahan mengenai sampah plastik tentunya menjadi suatu hal yang serius mengingat dampak berbagai sektor yang ditimbulkan. Dampak menumpuknya sampah plastik dalam jangka panjang selain menjadi polusi tentunya juga akan menimbulkan penyakit dan sarang bagi hewan-hewan seperti serangga. Pada ekosistem, sampah yang terbuang ke laut akan termakan oleh hewan-hewan di laut dan menyebabkan rusaknya biota laut. Selain itu bagi sektor pariwisata, sampah plastik juga berdampak mengurangi keindahan objek wisata dan juga merusak ekosistem yang terdapat pada sekitar objek tersebut. Selain itu semua, banjir dan masalah kesuburan tanah tidak lepas dari plastik. Plastik bukan berasal dari senyawa biologis, sehingga memiliki sifat sulit terdegmdasi atau dalam istilah kimianya nonbiodegradable (Purwaningrum, 2016).

Latar belakang permasalahan di atas menjadikan niatan penulis untuk membagikan sedikit pengalaman tentang gerakan mengurangi sampah plastik di masyarakat. Aktivitas saya selain kuliah dan bekerja yaitu aktif dalam suatu komunitas / organisasi di kecamatan yaitu Forum Mahasiswa Gedangsari (disingkat Formasi). Forum tersebut berisikan mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari Kecamatan Gedangsari. Salah satu agenda rutin tahunan Formasi yaitu Musyawarah Besar (Mubes) yang dihadiri seluruh anggota baik pengurus inti maupun pengurus harian. Lazimnya pada acara-acara rapat atau pertemuan pasti ada suguhan makanan dan minuman ringan apa lagi pertemuan yang berskala besar seperti Mubes. Hal tersebut berdampak menyumbangkan sampah plastik pada akhir acara. Lalu bagaimana langkah saya selaku yang pada saat itu ikut kepanitiaan?

Rapat persiapan Mubes pun berlangsung. Pada saat pembahasan konsumsi, saya mengusulkan pada acara Mubes nantinya peserta untuk membawa tumbler atau botol minum sendiri. Hal tersebut didasari keprihatinan saya pribadi dalam menyikapi sampah plastik yang dihasilkan masyarakat tiap harinya. Langkah tersebut merupakan aksi nyata kepedulian mahasiswa untuk turut serta melestarikan lingkungan dengan menerapkan 3R (Reduse, Reuse, Recycle). Selain itu, saya juga menyampaikan alasan langkah tersebut juga dapat menghemat pengeluaran kas, karena tidak perlu membeli air minum kemasan baik yang berbentuk gelas maupun botol.

Langkah baik memang mudah diterima dengan baik pula. Usulan saya awalnya menuai kontra baik dari ketua umung langsung maupun dari anggota kepanitiaan lainya. Mereka menilai bahwa hal tersebut terkesan tidak lazim dan belum tentu semua peserta mau membawa tumbler sendiri. Saya tidak patah semangat mempertahankan usulan. Saya menambahkan usulan untuk panitia menyediakan mineral galon. Jadi peserta bisa isi ulang air minumnya. Sedangkan untuk peserta yang tidak membawa tumbler, panitia hendaknya bisa menyediakan tumbler cadangan dua atau tiga botol. Sehingga tidak ada alasan repot saat acara konsumsi, bahakan tumbler tersebut diberikan gratis. Akhirnya usulan saya dapat diterima dengan baik oleh semua koordiator acara Mubes.

Pengurangan sampah plastik merupakan salah satu cara penyelamatan lingkungan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Langkah-langkah nyata terbentuk dari kesadaran diri masing-masing. Mahasiswa yang merupakan kaum terdidik di masyarakat seharusnya dapat memberikan contoh yang baik pada lingkungan. Mau menunggu sampai kapan kita dapat mengurangi masalah sampah plastik? Jika mau mengubah kebiasaan baik di masyarakat tentu hendaknya kita mengubah perilaku kita terlebih dahulu. Dengan begitu contoh yang kita berikan bisa terimplementasikan dan ditiru oleh lingkungan di sekitar kita. Kalau bukan dari kita lalu siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?

Referensi:

Ceraproduction.com. (2021). Bawa Tumbler Agar Bebas dari Bahaya Mikroplastik dalam Air Kemasan. Ceraproduction.com. January 14. Retrieved on March 07, 2021 from: https://ceraproduction.com/blog/bawa-tumbler-agar-bebas-dari-bahaya-mikroplastik-dalam-air-kemasan/

Purwaningrum, P. (2016). Upaya mengurangi timbulan sampah plastik di lingkungan. Indonesian Journal of Urban and Environmental Technology8(2), 141-147.

6.3.21

Buka Jendela, Belajar Bareng Kita

 

Sumbang Ilmu Remaja GuLaBatu

Membantu Adik-adik Pelajar untuk Belajar saat Pandemi


Fakultas Psikologi 

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Psikologi Lingkungan


Sumbang Ilmu Remaja GuLaBatu

Tugas Pengabdian Pada Masyarakat Untuk Mata Kuliah Psikologi Lingkungan  (Dosen Pengampu : Dr. Arundhati Shinta, MA.)

Penulis: Wahyu Hidayah (19310410052)


Dampak Pandemi Covid-19 masih terus terasa bagi dunia pendidikan Indonesia, masa penyesuaian kebiasaan baru belajar dari rumah terus berlangsung walau sudah satu tahun lebih wabah menjangkiti. Tidak bisa dipungkiri, pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau dikenal juga sebagai pembelajaran dalam jaringan (daring) telah membuat anak sekolah saat ini lebih sering berada di rumah. Interaksi mereka dengan guru dan teman-teman sekolah pun hanya bisa dilakukan lewat sambungan telefon atau internet.

Di satu sisi, hal itu memang sangat berguna untuk memutus mata rantai pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih menghantui. Namun di sisi lain, hal itu juga harus diakui telah berdampak terhadap kebosanan pada diri anak-anak dan beban orang tua yang semakin bertambah. Salah satu masalah belajar dari rumah adalah sulitnya mendampingi anak untuk belajar online, mulai dari orang tua yang sibuk kerja, hingga orang tua yang memang tidak mampu menggantikan peran guru yang membimbing disamping anaknya. Anak-anak juga lebih mudah bosan ketika belajar di rumah, tidak heran jika sebagian besar anak mungkin lebih memilih untuk mengisi waktu luang mereka dengan bermain gawai atau sekadar bercengkerama dengan keluarga. Pilihan ini tentu hal yang lumrah saat kondisi mengharuskan untuk tetap tinggal dan belajar di rumah demi mencegah penularan virus. 

Melihat fenomena ini, sekelompok remaja yang tergabung dalam organisasi karang taruna GuLaBatu menginisiasi program Buka Jendela, Belajar Bareng Kita dengan tujuan membantu adik-adik pelajar terdekat untuk belajar bersama agar tidak ketinggalan pelajaran karena belajar di rumah dan lebih semangat untuk mengerjakan tugas dari sekolah karena bisa belajar bersama teman dan juga bisa dibantu oleh kakak-kakak dari karang taruna. Kegiatan Sumbang Imu ini dikhususkan untuk adik-adik TK, SD, dan SMP disekitar Dusun Selurah, Desa Krincing, Kecamatan Secang, Magelang. Kegiatan dilaksanakan setiap hari Minggu pagi bertempat di Mushola Nurul Hikmah. Adik-adik dipersilahkan untuk memilih ingin belajar apa dan belajar bersama siapa agar mereka nyaman dan tetap belajar dengan suka hati. Program ini meberikan manfaat dalam silang belajar antara adik-adik dan kakak-kakak, adik-adik dapat belajar bersama dengan semangat dan lebih mudah untuk mengerjakan tugas dari sekolah karena mendapatkan penjelasan dari kakak-kakak karang taruna, sementara bagi kakak-kakak mereka dapat belajar bagaimana harus bersabar menemani belajar dan dapat menyumbangkan ilmunya kepada mereka.  

Program ini berjalan dengan dukungan dari para orangtua untuk ikut memberikan semangat dan motivasi agar anak mau belajar bersama dengan teman-teman dan kakak-kakak dari karangtaruna. Harapan dari Sumbang Ilmu ini adalah semoga para orangtua di sekitar Dusun Selurah terbantu dengan adanya kegiatan belajar bersama ini dan semoga di hari kedepannya melalui program ini Remaja GuLaBatu dapat terus berkontribusi secara nyata dalam berbagai bidang tidak hanya pendidikan saja kepada masyarakat sekitar.

Dalam praktiknya melaksanakan program Sumbang Imu ini mendapatkan respon positif dari para orangtua sekitar, hal tersebut terlihat dari banyaknya adik-adik yang ikut serta dalam kegiatan pembelajaran ini. Anak-anak mengikuti kegiatan belajar dengan antusias sejauh ini. Kegiatan ini akan terus diperkenalkan dan dikembangkan dengan harapan agar mendapat respon yang baik dari pemerintah terkait peran pemuda khususnya pada organisasi karang taruna di bidang pendidikan.