14.10.18

MENGKAJI KASUS ANOREXIA NERVOSA PADA SUBJEK X”


“MENGKAJI KASUS ANOREXIA NERVOSA PADA SUBJEK X”


Nama : Meissy Bella Sari
Nim : 163104101143
Psikologi Klinis

Subjek X, 24 tahun, dikirim ke bangsal psikiatri sebuah rumah sakit umum untuk mendapatkan penanganan terhadap anoreksia nervosa. Meskipun ia merasa tidak merasa ada yang salah dengan dirinya, namun orangtuanya telah berkonsultasi dengan seorang psikiater, dan mereka bertiga memberinya pilihan untuk dirawat di rumah sakit atas keinginan sendiri atau dirawat dengan paksa. 
Saat itu berat badan X hanya sekitar 35 Kg dengan tinggi sekitar 165 cm. Ia tidak mengalami menstruasi selama tiga tahun dan memiliki berbagai masalah kesehatan-hipotensi (tekanan darah rendah yang tidak normal), denyut jantung yang tidak teratur dan sangat rendahnya kadar potasium dan kalsium. 
Subjek X mengalami beberapa episode penurunan berat badan yang dramatis, dimulai pada usia 18 tahun ketika ia mengalami perceraian dalam perkawinannya yang pertama. Namun, tidak satupun dalam berbagai episode sebelumnya separah episode saat ini, dan ia belum pernah dirawat sebelumnya. Ia sangat takut menjadi gemuk, dan meskipun ia tidak pernah benar-benar mengalami kelebihan berat badan, ia merasa pantat dan perutnya terlalu besar. (ia tetap merasa demikian meskipun berat badannya hanya 35 Kg).
Selama periode penurunan berat badan ia sangat membatasi asupan makanan.
 X, perempuan dalam kasus di atas, menderita anoreksia nervosa. Istilah anoreksia  berarti hilangnya selera makan, dan nervosa mengindikasikan bahwa hilangnya selera makan tersebut memiliki sebab emosional. Istilah itu sendiri tidak tepat karena sebagian besar pasien yang menderita anoreksia nervosa secara aktual tidak kehilangan selera makan atau selera mereka terhadap makanan. Secara kontras, seraya melaparkan diri sendiri, sebagian besar pasien gangguan ini menjadi sibuk dengan urusan makanan; mereka dapat membaca buku-buku masakan secara konstan dan menyiapkan aneka makanan untuk keluarga mereka.
Ø  Kriteria DSM-IV-TR untuk Anoreksia Nervosa
·         Menolak untuk mempertahankan berat badan normal
·         Meskipun berat badannya sangat kurang, namun mengalami ketakutan yang amat sangat menjadi gemuk
·         Gangguan citra tubuh
·         Pada perempuan yang telah mengalami menstruasi, terjadi amenorea  
·         Penanganan anoreksia melalui aspek psikologis
Sejumlah pengobatan psikologis bisa diterapkan untuk mengobati anoreksia. Biasanya pengobatan akan berlangsung selama setengah tahun hingga satu tahun, atau bahkan lebih lama tergantung kepada kondisi pengidap atau tingkat keparahan anoreksia. Salah satu contoh metode penanganan anoreksia melalui aspek psikologis adalah melalui terapi perilaku untuk mengubah pola pikir negatif. Perilaku seseorang biasanya merupakan buah dari pola pikirnya. Begitu pula sebaliknya, tingkah laku dapat membentuk pola pikir juga. Banyak hal-hal tidak realistis yang diyakini sebagai sesuatu yang benar oleh pengidap anoreksia. Misalnya mereka merasa harga diri mereka tergantung pada berat badan mereka. Mereka sangat takut diejek atau tidak dihargai lagi oleh orang lain karena dianggap gemuk.
Oleh karena itu, melalui terapi perilaku kognitif, ahli terapi akan berusaha membantu pasien mengubah pemikiran negatif mengenai makanan dan penampilan menjadi suatu pola pemikiran yang positif dan realistis, sehingga diharapkan perilaku menyimpang pasien dapat hilang. Metode penanganan kedua adalah melalui terapi kognitif analitik dengan menelusuri masa lalu pasien. Terapi ini didasarkan kepada teori yang menyatakan bahwa masalah kesehatan mental termasuk anoreksia disebabkan oleh pola pikir dan tingkah laku tidak sehat yang dibentuk sejak pasien masih kanak-kanak atau remaja.
Terapi kognitif analitik melibatkan tiga tahapan proses. Tahap pertama adalah reformulasi. Pada tahap reformulasi, biasanya spesialis terapi akan mencari tahu pengalaman pasien pada masa lalu yang mungkin bisa menjadi alasan kenapa pola-pola yang tidak sehat tersebut bisa berkembang. Tahap kedua adalah pengenalan. Seorang ahli terapi akan membantu pasien melihat dan memahami bagaimana pola-pola yang tidak sehat tersebut berkontribusi terhadap anoreksia. Tahap ketiga atau tahap terakhir adalah revisi. Pada tahap ini, sejumlah perubahan yang dapat menghentikan pola-pola yang tidak sehat tersebut diidentifikasi, dikaji, kemudian diterapkan.
Metode penanganan ketiga adalah dengan terapi interpersonal untuk mengkaji lingkungan penderita.Terapi ini mendasarkan teori kepada hubungan lingkungan dengan anoreksia yang mana lingkungan dan orang di sekitar memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk keadaan psikologis pengidap. Teori tersebut menyimpulkan bahwa kepercayaan diri yang rendah serta rasa cemas yang dialami pengidap timbul dari interaksinya dengan orang-orang di sekitar. Selama terapi ini, ahli terapi akan berusaha menelaah hal-hal negatif yang berkaitan dengan hubungan interpersonal pasien dan mencari tahu cara mengatasi hal-hal negatif tersebut. 
Peran keluarga sebagai bagian dari pengobatan anoreksia. Peran keluarga sangat penting bagi kesembuhan pengidap anoreksia karena biasanya keluarga adalah pihak yang paling merasakan dampak anoreksia itu sendiri. Selain harus berusaha memahami kondisi yang sedang dialami pengidap, keluarga juga dapat bekerja sama dengan dokter dalam membantu mempercepat proses kesembuhan.
Penanganan anoreksia dengan menggunakan obat-obatan. Jika anoreksia hanya diatasi dengan mengonsumsi obat-obatan, biasanya hasilnya tidak akan efektif. Penggunaan obat-obatan baru akan terasa efektif jika dikombinasikan dengan terapi lain. Obat-obatan juga digunakan untuk menangani masalah-masalah psikologis yang terkait dengan anoreksia, seperti depresi dan gangguan obsesif kompulsif. Obat-obatan yang mungkin diberikan antara lain antidepresan, antipsikotik, dan penstabil mood.  Contoh obat-obatan yang biasa diberikan antara lain olanzapine dan selective serotonin reuptake inhabitors (SSRIs). SSRIs merupakan antidepresan. Obat ini dapat membantu meredakan depresi dan rasa cemas terkait anoreksia. Biasanya dokter akan memberikan obat ini jika berat badan pasien telah kembali normal. Pemberian SSRIs kepada pasien dengan berat badan di bawah normal dikhawatirkan akan menimbulkan efek samping buruk. Sedangkan olanzapine merupakan obat yang biasanya diberikan kepada pengidap anoreksia yang tidak merespons kepada metode pengobatan lainnya. Obat ini dapat membantu meredakan rasa cemas yang berkaitan dengan pola makan atau berat badan.
Pengobatan anoreksia tidak dapat dilakukan secara instan. Untuk pulih sepenuhnya, pengidap bisa membutuhkan waktu beberapa tahun karena seiring menjalani pengobatan pun, beberapa dari mereka masih mengalami gangguan makan.
   
Sumber:
Davison, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. N. (2014). Psikologi abnormal: Edisi ke-9. Jakarta: PT
            Rajagrafindo Persada.


7.10.18

akting membawa mala petaka (artikel)

ARTIKEL PSIKOLOGI KLINIS
FATKHULAZIZ
16.310.410.1141

AKTING MEMBAWA MALAPETAKA
Sebentar lagi akan ada pergantian tahun dari tahun 2018 menuju tahun 2019, tahun 2019 bangsa indonesia akan mengadakan pesta demokrasi yang berupa pemilihan presiden, pemilihan legeslatif. Dimana para partai – partai pengusung calon – calon tersebut mencari simpati rakyat supaya memilih calon tersebut dengan berbagai cara. Ada yang beradu program, ada yang menjatuhkan lawan dengan kelemahan – kelemahan pasangan lain maupun dengan berita bohong.
Seperti yang belum lama ini yang beredar di media cetak, media elektronik maupun media sosial tentang berita bohong oma ratna sarumpaet tentang kasus penganiyayaan terhadap dirinya yang di lakukan oleh tiga orang, yang membuat kawan – kawannya kasus yang menimpa oma ratna sebagai senjata untuk manyerang dan melemahkan lawan politiknya. Tindakan yang dilakukan oma ratna jelas merugikan pihan lawan politik maupun kawan- kawannya. Perbuatan kebohongan yang di lakukan oma ratna untuk menutupi kelemahan dan kecerobohan dirinya dengan mencari kambing hitam. Yaitu tindakan melakukan operasi plastik yang berahir lebam – lebam.untuk menutupi kecerobohannya mencari kambing hitam berdalih habis dipukulin orang.

Menurut teori kepribadian sigmund fruid tindakan yang dilakukan oma ratna sarumpaet sedang melakukan mekanisme pertahanan ego yang berupa rasionalisasi yaitu pendistorsian kognitif terhadap kenyataan dengan tujuan kenyataan tersebut tidak lagi memberi kesan menakutkan, hal ini secara sadar ketika mencoba memafakan diri sendiri dari kesalahan dengan menyalahkan orang lain. Dengan kata lain mudah membohongi dirinya sendiri. Setiap bentuk pertahanan tentu saja adalah kebohongan, bahkan saat kita, melakukannya secara tidak sadar. Akan tetapi, kenyataan ini tidak mengurangi  bahaya yang terkandung  didalamnya, bahkan cenderung menambahnya kita akan terus menerus lari dari realitas. Untuk sementara ego bisa tidak memedulikan tuntutan id dan lebih memperhatikan super ego , akan tetapi pada ahirnya kecemasan pasti akan mendatangi anda.
Tindakan yang dilakukan oma ratna bukan menyelesaikan masalah maupun mengurangi kecemasan melainkan menambah masalah dan kecemasan yaitu telah dilaporkan ke pihak berwajib tentang perbuatan kebohongan di jerat pasal 14 ayat 1 undang – undang nomor 1tahun 1946 yaitu barang siapa dengan sengaja menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong dengan sengaja menerbitkan keonaran  di kalangan rakyat, di hukum  dengan hukuman penjara  setingi – tinginya  sepuluh tahun. Menurut profesor Mahfud M.D.  dia menyiarkan berita  bohong , memang tidak menyarkan kepada publik, sehingga tidak bisa di jerat UU. IT, tapi tidak melalui televisi atau cuitan ,tapi diamemberi tahu langsung, pertama pada anaknya, kedua kepada fadli zon , ketiga kepada prabowo dan amin rais.( Tribun news. Com. Jumat 5/10/2018)
REFRENSI
Boere.C.G.2016.General Psychology.yogyakarta. Prismasophie

4.10.18

artikel# psikologi#5


Seminar “ Strategi Membangun Karir Sejak di Bangku Kuliah “


Ningnurani ( 16.1146)
Fakultas Psikologi
UP 45  Yogyakarta


Hubungan kerjasama yang harmonis antar civitas akademika fakultas psikologi up 45, baik lingkungan, mahasiswa, dosen, karyawan dan alumni semakin erat terjalin guna mendukung tercapainya para lulusan yang unggul.
Acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa psikologi up 45 yogyakarta ini merupakan seminar dengan judul “Strategi Membangun karir sejak di bangku kuliah “, berlangsung pada tanggal 29-september-2018. Bertempat di ruang seminar up 45, yang dimulai dari pukul 09.00-11.30 w.i.b dengan dibuka oleh dekan fakultas psikologi up 45, Ib. Dra. Muslimah Zahro Romas, Msi, dan dilanjutkan sambutan oleh rektor up 45 Bp. Ir. Bambang Irjanto, MBA, serta menghadirkan narasumber Bp. Munawir Haris, S.Psi, alumni fakultas psikologi angkatan 1992-1996, yang saat ini menjabat sebagai CEO PT. MITRA TALENTA INDONESIA.
“ Karier Itu proses, semakin kita membuka diri untuk terus belajar, maka semakin lebar pula peluang karir anda.   87% mahasiswa di Indonesia salah ambil jurusan. Dan 7 indikator mahasiswa salah ambil jurusan yaitu :                 1. Lebih senang berkumpul, daripada belajar
2. lebih rajin meminjam catatn dari pada mencatat
3. malas membaca silabus
4. tidak tertarik membaca buku sebgai ilmu pengetahuan dan pendukung
5. tidak memiliki rencana penyelesaian kuliah
6. sering keliru memilih urutan mata kuliah
7. merasa selalu kesulitan memahami mata kuliah”.
Demikian ungkap bp. Haris yang juga menjabat sebagai pengelola komunitas hrd Bekasi, se-jabodetabek.
“ Jangan berkecil hati kuliah di Up 45 Yogyakarta, karena kualitas dan kemampuan itu tergantung pada individu itu sendiri sebagai pribadi “ itulah closing statement yang disampaikan oleh narasumber seminar.
Fx. Wahyu widiantoro, selaku dosen up 45 fakultas psikologi, mengungkapkan bahwa materi yang dipaparkan oleh narasumber sangat penting bagi mahasiswa sebagai bekal lebih mempersiapkan diri untuk masuk kedalam dunia kerja.
“ Upaya Fakultas Psikologi up 45 yaitu mendampingi setiap mahasiswa seoptimal mungkin untuk mendapat banyak kesempatan dan melatih diri. Model pembelajaran yang dilakukan diharapkan mampu mengoptimalkan apa yang ada dalam diri setiap mahasiswa, bahkan hal potensi yang tidak disadari sebelumnya.” ungkap Bp. Wahyu.



Ucapan terimakasih     :
1.      Bp. Ir Bambang Irjanto, MBA ( Selaku rector up 45 yogyakarta )
2.      Ib. dra. Muslimah zahro romas, msi. ( dekan up 45 )
3.      Ib. dewi handayani, s.psi, msi ( warek ii )
4.      Bp. Drs indra wahyudi s. psi ( dosen fakultas psikologi )
5.      Bp. Fx. Wahyu widiantoro, s.psi, ma ( dosen fakultas psikologi )



Sambutan oleh Bp. Rektor UP 45

Foto bareng narasumber

Isian dari pemateri