3.2.18

Djarum Road To Campus

PANCASILA DI ZAMANKU 

Ningnurani, Fak: Psikologi, UP 45 Yogyakarta


Pancasila adalah Ideologi dan Falsafah hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Tidak bisa di pungkiri jika para remaja, dan pemuda jaman sekarang kurang memahami dan mengerti akan nilai-nilai, isi dan filosofi yang terkandung  dari Pancasila. Atas dasar itulah Djarum Fondation bersama Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta menyelenggarakan acara " Djarum Road To Campus" dengan tema:" Pancasila Di Zamanku". Yang di Presenteri oleh: Rosianna Silalahi, dan Bayu Sutiono. Dan Narasumber: Bp. Mahfud MD, Inayah Wahid, Serta Tantri " Personil Grup Band Kotak". 

Acara yang berlangsung di Hall Grand Pasific, yang di mulai pada pukul 13.00, ini bertujuan sebagai implementasi dari Djarum Fondation untuk "Peduli Pendidikan", khusunya bagi kalangan mahasiswa. Peserta yang hadir datang dari berbagai elemen mahasiswa dari Universitas Proklamasi 45, Atma Jaya, ISI, UIN Sunan Kalijaga, Sanata Dharma, STIE YKPN, UGM, UKDW dan masih banyak lagi universitas yang ada di Yogyakarta. Yang berjumlah kurang lebih 500-an peserta yang hadir. 

Acara di buka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya lalu di lanjutkan sesi dialog dengan Narasumber. "Nilai dasar Pancasila sebagai pedoman kebersatuan dalam berpolitik. Karena Indonesia merupakan "Laboratorium Pluralisme". Dan Pancasila sebagai landasan dasar bagi kehidupan bangsa Indonesia tidak bisa di gantikan dengan adanya Kekilafahan dari berbagai pihak untuk mengantikan Pancasila. Karena kita hidup bersama, maka segala keputusan harus di atur secara bersama pula. Dan walaupun Indonesia negara yang Pluralisme, akan tetapi Indonesia tetap bisa di persatukan oleh Pancasila." Itulah kutipan materi yang di sampaikan oleh Bp. Mahfud MD. 

Sedangkan menurut penuturan dari Inayah Wahid, bahwa: " Adanya bentuk Radikalisme yang mencemaskan seharusnya bisa di ubah menjadi Radikal yang Positif dan Jihad yang positif pula. Kebencian itu hendaknya bukan terhadap Negara, Penganut Kepercayaan tertentu ataupun kepada Kelompok. Akan tetapi hendaknya bukan Benci terhadap itu semua  tetapi Sistem nya yang boleh di Jihadi". 


Bangsa Indonesia itu adalah bangsa yang kaya dan beragam. Karena keberagaman itulah yang akan menjadikan suatu keindahan dan seharusnya bangsa Indonesia bisa hidup Rukun, tanpa perlu menganti Pancasila sebagai falsafah dan Ideologi. ( Tantri, Kotak) 

Dari diskusi yang berlangsung kurang lebih 2 jam ini di ambil sebuah kesimpulan, seperti yang di sampaikan oleh Presenter Rosianna Silalahi sbb:

1. Pancasila adalah Ideologi terbuka, dan ti
     dak mengekang. 
2. Agama itu sumber kerukunan. 
3. Gerakan yang bersifat Radikalisme akan 
    mengakibatkan runtuhnya Pemerintahan dan juga akan dapat menimbulkan perpecahan. 
4. Pancasila bukan hanya untuk di bicarakan dan di diskusikan, akan tetapi untuk di lakukan. 
5. Dan mahasiswa yang mempunyai kekuatan untuk melakukannya. 


Ucapan Terimakasih: 
1. Bp. Bambang Irjanto ( Rektor UP 45) 
2. Ib. Dewi Handayani ( Warek 2 UP 45) 
3. Djarum Fondation
4. Bp. Mahfud MD
5. Inayah Wahid
6. Bayu Sutiono
7. Rosianna Silalahi
8. Semua Staff & Karyawan UP 45 YK

Diskusi oleh Para Narasumber

Penyerahan Kenang-Kenangan oleh Rektor UP 45

Peerformance dari Grup Band " Kotak" 



30.1.18

Kompetensi Guru Sebagai Penentu Kesuksesan Pendidikan Karakter

Sebagai tasyakuran turunnya nilai akreditas fakultas psikologi UP 45, maka pada hari Sabtu, 27 Januari 2018 diadakan seminar gratis untuk guru, mahasiswa dan masyarakat umum di kampus Universitas 45. Seminar tersebut berjudul "Kompetensi Guru Sebagai Penentu Kesuksesan Pendidikan Karakter".
Menurut saya,pada awalnya judul ini agak rancu. Bagaimana tidak? Apakah tugas seorang guru seberat itu? Menjadi penentu pendidikan karakter pada setiap pribadi anak, sedangkan guru hanya bertemu berapa jam sehari dengan anak? Bukankah waktu anak lebih banyak bersama keluarganya semestinya? Bukankah pendidikan pertama berasal dari lingkungan keluarga. Dan mengikuti seminar ini adalah jawabannya. Bersama 3 narasumber,saya menemukan jawaban tersebut. Pendidikan karakter setiap anak tentu akan dipengaruhi oleh:
1. Lingkungan keluarga
Tentu saja yang berperan disini adalah orangtua dan kerabat yg berada di rumah.
2. Lingkungan di luar keluarga
Ini berarti ada lingkungan luar rumah dan sekolah. Dan ketika konteksnya adalah ketika di sekolah, maka yang menjadi teladan adalah Guru, staff sekolah dan teman- teman di sekolah. Guru sebagai teladan,agar pendidikan karakter anak mampu berkembang dengan optimal sehingga anak mampu menjadi anak yang berkarakter sesuai dengan umurnya.

28.1.18

Pendidikan Karakter




KOMPETENSI GURU SEBAGAI PENENTU KESUKSESAN 
PENDIDIKAN KARAKTER

Berkati Gaho, Mahasiswa Fak : Psikologi, Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

        Berbicara masalah mutu pendidikan di Indonesia maka tak lepas dari peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru. Guru merupakan unsur yang paling penting dalam proses pendidikan. Tanpa adanya guru, pendidikan hanya menjadi slogan dan pencitraan karena segala bentuk kebijakan dalam sektor pendidikan pada akhirnya yang akan menentukan tercapainya tujuan pendidikan adalah guru. Guru menjadi titik sentral dan awal dari semua pembangunan pendidikan.
       Guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan, dimana guru akan melakukan interaksi langsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Melalui proses belajar dan mengajar inilah berawalnya kualitas pendidikan. Artinya, secara keseluruhan kualitas pendidikan berawal dari kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di ruang kelas. Secara kuantitas, jumlah guru di Indonesia cukup memadai. Namun secara distribusi dan mutu, pada umumnya masih rendah. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Keadaan ini cukup memprihatinkan, dengan prosentase lebih dari 50% di seluruh Indonesia.
      Untuk membahas peranan guru diindonesia, pihak Fakultas Psikologi Up 45 yogyakarta mengadakan seminar yang berjudul ‘’Kompetensi Guru Sebagai Penentu Kesuksesan Pendidikan Karakter “ yang di ikuti oleh Guru PAUD, SD, SMP, SMA, dan mahasiswa dari berbagai universitas di yogyakarta.  Seminar ini  di pandu oleh Bp. Susilo Nugroho sebagai moderator dan diisi oleh  Narasumber yang berkompeten yaitu : Bp. Armunanto ( staff UNICEF ), Drs. Indra Wahyudi ( Dosen senior di Fakultas Psikologi UP 45 ) dan Bp. Miftah ( DIKPORA ).
        Pada sesi pertama menjelaskan tentang apa itu karakter dan bagaimana menciptakan karakter yang baik sesuai dengan jaman. Hal ini dijelaskan oleh Bp. Armunanto  “ Bahwa sebagian yang di alami anak remaja berkisar antar 39- 64 %  kurang fokus, banyak mengantuk dan cenderung mengutamakan main game daripada belajar. Apalagi saat ini terdapatnya game online yang menyita waktu anak sekolahan, nama game itu MOBILE LEGENDS. Untuk itu perlu diberikan perhatikan lebih dalam pemberian gizi untuk anak- anak agar tidak mengantuk dan juga juga memberi arahan kepada anak didiknya untuk mengurangi bermain game. Perlu diketahui juga bahwa kekurangan gizi ini akan berakibat sangat berbahaya bagi para remaja wanita, yang bisa mengakibatkan pendarahan yang berujung kematian saat melahirkan, dan terjadinya obesitas yang berlebihan di kalangan remaja laki-laki, dan juga mengakibatkan kerusakan mata
         Beliau juga menambahkan bahwa “ Dalam mendidik anak sekolahan perlu memperhatikan 3 hal berikut yaitu : Pendidikan Fisik, Pendidikan Kognitif dan Pendidikan Moral atau Karakter “. Pendidikan fisik adalah pendidikan yang mengutamakan kekuatan tubuh dan juga kekuatan mental kita dalam menghadapi dunia luar. Pendidikan kognitif  adalah kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan setiap masalah. Sedangkan Pendidikan moral adalah pendidikan yang mengembangkan sikap, akhlaq, rohani maupun spiritual dengan harapan akan dihasilkan output peserta didik yang berbudi pekerti luhur.
      Hal yang perlu diperhatikan adalah pendidikan moral atau Karakter. Karakter ini lebih pada tindakan yang dilakukan siswa yang berdasarkan keadaan jiwa yang terjadi secara spontan dan tidak perlu dipikirkan lagi atau bertindak karena telah dilatih secara terus-menerus dan menjadi sebuah kebiasaan sehingga tindakan tersebut terjadi secara spontan. Karakter ini  menjadi sebuah persoalan yang sudah ada sejak anak usia dini, jika tidak di arahkan dengan baik mereka akan sulit menghadapi permasalahan dunia luar. Hal ini juga tidak lepas dari didikan orangtua dalam menasehati anaknya akan lebih berkarakter.
        Menurut Bp. Indra W selaku Dosen UP 45, Bahwa Teman sebaya jauh lebih menyenangkan bagi para remaja jaman sekarang, yang mana terjadi karena pengaruh dari Medsos. Hal ini akan berdampak Secara Langsung Terhadap Karakter, Tetapi Akan Mempengaruhi Pola Berfikir Anak. Seorang ibu yang “ Mengabaikan “ akan berdampak kepada anak yang memberikan reaksi yang tidak berani terjung lapangan terhadap apa yang ada di sekitar dan yang ada di lingkungannya. Sikap seperti ini juga akan membentuk karakter anak yang tidak baik pula di masa depan.  Di tambahkan juga oleh Bp. Miftah (DIKPORA) bahwa Kurikulum 2013 di rancang untuk menyiapkan anak – anak dalam kompetensi untuk menghadapi abad 21. Program 5 hari sekolah yang di cetuskan oleh pemerintah, bertujuan agar dalam 2 hari itu anak-anak lebIh banyak belajar tentang pendidikan karakter yang lebih baik.

Berdasarkan pembahasan seminar diatas maka di ambil kesimpulan bahwa :

1.     Pembentukan karakter dan kesuksesan dari seorang anak itu adalah tanggung jawab utama dari orang tua.
2.   Pembentukan karakter untuk menciptakan kesuksesan seorang anak didik itu tidak hanya menjadi tanggung jawab Guru. Guru hanyalah fasilitator dalam pengembangan karakter anak didik.
3.    Peran orang tua dan pola asuh yang tepat yang di berikan oleh orang tua merupakan faktor penentu keberhasilan dalam pembentukan karakter yang lebih baik.