14.1.21

RESILENSI DALAM SITUASI KEHIDUPAN SEHARI-HARI

 RESILENSI DALAM SITUASI KEHIDUPAN SEHARI-HARI 

UJIAN PSIKOLOGI INOVASI

Dosen pengampu : Dr.Arundati Sinta



Nama : fadhilah ummu maghfira s.

Nim : 183104101193


     Kehidupan individu sehari-hari tidak akan terlepas dari berbagai kesulitan dalam menghadapi perubahan budaya, gaya hidup, lingkungan dan yang lainnya. Kesulitan dapat terjadi pada waktu dan tempat yang terkadang sulit untuk diprediksikan. Pada situasi tertentu saat kesulitan tidak dapat dihindari, individu yang memiliki resiliensi dapat mengatasi berbagai permasalahan kehidupan dengan cara yang dimilikinya. Individu akan mampu mengambil keputusan dalam kondisi yang sulit secara cepat. Keberadaan resiliensi akan mengubah permasalahan menjadi sebuah tantangan, kegagalan menjadi kesuksesan, ketidakberdayaan menjadi kekuatan. Resiliensi adalah suatu kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan setiap orang. Hal ini disebabkan karena kehidupan manusia diwarnai oleh kondisi yang tidak selalu menyenangkan. Kondisi yang tidak selalu menyenangkan ini menantang manusia untuk mengatasinya, untuk belajar darinya, dan bahkan untuk berubah karenanya (Desmita, 2009). Resiliensi dalam psikologi merupakan kapasitas positif pada manusia dalam menghadapi stres dan kesulitan. Resiliensi merupakan proses sukses beradaptasi kepada pengalaman hidup yang menantang.

Siebert (2005) memaparkan bahwa yang di maksud dengan resiliensi adalah kemampuan untuk mengatasi dengan baik perubahan hidup pada level yang tinggi, menjaga kesehatan di bawah kondisi penuh tekanan, bangkit dari keterpurukan, mengatasi kemalangan, merubah cara hidup ketika cara yang lama dirasa tidak sesuai lagi dengan kondisi yang ada dan menghadapi permasalahan tanpa melakukan kekerasan

Bagaimana individu bereaksi ketika menghadapi kesulitan yang tak terduga

1. Individu yang sehat dan resilien memiliki kepribadian yang tahan uji, tahan stres dan dapat mengambil hikmah dari pengalaman yang tidak menyenangkan.

Individu yang resilien dapat mengatasi kesulitan dan dapat berkembang di bawah tekanan hidup (tak mempan dari kesulitan).

1. Orang-orang yang sangat tinggi resiliensinya pulih dari pengalaman traumatik dengan lebih kuat, lebih baik dan lebih bijaksana.

2. Ketika tersakiti atau mengalami distres, individu yang resilien mencari cara untuk “membalikkan” keadaan. Reaksi individu adalah mencari pelajaran, bukan bereaksi sebagai korban atau menyalahkan.

Sumber-sumber resiliensi menurut Grotberg (1999), antara lain:

Faktor “I am”

Kekuatan yang berasal dari dalam diri:

a. Perasaan dicintai

b. Mencintai, empati, altruistic

c. Percaya diri

d. Mandiri dan bertanggung jawab

e. Harapan dan keyakinan pada yang mahakuasa

Faktor “I have”

Dukungan eksternal dan sumberdaya untuk meningkatkan resiliensi.

Sebelum anak sadar diri (I am) atau apa yang dapat dilakukan (I can), ia butuh faktor-faktor “I have”.

Sumber-sumber dukungan luar (I have) adalah:

a. Trusting relationship

b. Struktur dan aturan dalam keluarga / rumah

c. Role Models

d. Dorongan untuk mandiri

e. Akses kesehatan, pendidikan, kesejahteraan,

Faktor “I can”Kompetensi sosial dan interpersonal

a. Berkomunikasi

b. Memecahkan masalah

c. Pengelolaan perasaan dan dorongan

d. Mengukur temperamen diri dan orang lain

e. Mencari trusting relationshi

     Lebih lanjut, Grotberg (1999), memaparkan kualitas-kualitas yang dimiliki orang yang resilien, yaitu:Ingintahu besar (Apa yang lain ya?) Selalu belajar dari pengalaman (Apa pelajaran dari kejadian ini?)Cepat beradaptasi, fleksibel mental dan emosional.Punya kepercayaan diri yang kuat (saya suka diri saya)Punya hubungan antar manusia yang erat (saling kasih, bersahabat)Jujur mengungkapkan perasaan Optimis (pasti ada caranya supaya jadi lebih baik) Berempati (Bagaimana rasanya kalau jadi mereka?) Berintuisi (Apa yang ingin dikatakan badan saya?) Mempertahankan diri (Fight back) Mampu merubah nasib buruk menjadi baik Makin lama makin baik / kuat (makin kompeten, enjoy life, tegar

Mengacu pada paparan di atas, berikut ini merupakan tips/cara membangun Resiliensi dalam situasi kehidupan sehari-hari, antara lain:

 Menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman atau kerabat.

 Hindari melihat krisis dan kejadian yang buruk sebagai masalah yang tak mungkin dihadapi.

 Menerima keadaan yang tak mungkin diubah.

 Mengembangkan sasaran yang realistis dan terus berusahamenguntungkan

 Mengambil action yang mantap dalam situasi tak menguntungkan.

 Selalu melihat kesempatan penemuan diri setelah mengalami kesulitan / kehilangan.

 Mengembangkan percaya diri.

 Melihat keadaan stres secara lebih positif.

 Miliki harapan dan memvisualisasikan apa yang diinginkan.

 Mengurus kesehatan fisik dan psikis, memperhatikan perasaan & kebutuhan diri sendiri serta melakukan aktivitas-aktivitas yang “enjoyable”.

 Belajar dari masa lalu untuk menjadi lebih baik dikemudian hari.

 Bersikap fleksibel.Meningkatkan spiritualitas.

     Perlu diingat bahwa pikiran dan kebiasaan bisa menjadi hambatan, atau sebaliknya dapat menjadi jembatan ke masa depan yang lebih baik dan perjuangan untuk pulih dari kesulitan akan membawa pada pengembangan kekuatan dan kemampuan yang mungkin sempat terpikir tak mungkin ada.

 

Refrensi :

Desmita. (2009). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja RoReferensi

Grotberg, EH. (1999). Tapping your inner strength: How to find the resilience to deal with anything. Oakland, CA: New Harbinger Publications, Inc

Siebert, A (2005). The resiliency advantage: master change, thrive underpressure, and bounce back from setbacks. California: Berret Koehler Publisher, Inc

 


10.1.21

REVIEW JURNAL RESILIENSI PADA REMAJA KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

 

 REVIEW JURNAL RESILIENSI PADA REMAJA KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

UJIAN PSIKOLOGI INOVASI

Dosen Pengampu : Dr.Arundati Shinta


OLEH :
Nirbita Melani/18.310.410.1180

 

 

JUDUL

Resiliensi pada remaja korban kekerasan dalam rumah tangga

NAMA JURNAL

Jurnal penelitian psikologi

VOLUME DAN HALAMAN

volume 07,nomor 02

TAHUN

2020

PENULIS

Hilyatul Maslahah dan Riza Noviana Khoirunnisa

REVIEWER

Nirbita Melani

TANGGAL

7 Januari 2021

 

TUJUAN PENELITIAN

-

SUBJEK PENELITIAN

2 orang remaja IN (19 Tahun ) dan BF 18 Tahun. 2 Remaja tersebut adalah seorang remaja yang menjadi kekerasan dalam rumah tangga dalam bentuk fisik emosional oleh orang tua kandungnya.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan yang disebut dengan case study.

Case study yaitu suatu model penelitian kualitatif yang dilakukan dengan cara penyidikan mendalam,terperinci,dan intensif dari berbagai macam informasi mengenai suatu kasus dalam kehidupan nyata dalam batas waktu tertentu dan tempat tertentu dengan malaporkan dalam bentuk deskripsi kasus,Neuman (2016)

Dalam penelitian ini proses pengumpulan data teknik yang digunakan oleh peneliti adalah teknik wawancara.

Kemudian teknik lain yang digunakan adalah teknik analisis tematik,

LANGKAH PENELITIAN

-

HASIL PENELITIAN

Dalam penelitian ini menemukan 3 tema besar yang diperoleh dalam wawancara yaitu :

1.    Latar belakang kekerasan

Terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang diterima oleh anak dapat dilator belakangi oleh berbagai hal yang berbeda,baik dalam kondisi orang tua,anak itu sendiri maupun lingkungan sekitar.Dalam penelitian ini ditemukan bahwa terdapat factor yang berbeda yang menjadikan kedua partisipan mendapatkan kekerasan dari orang tuanya.

2.    Proses Resiliensi

·         Fase memburuk

Fase pertama,dalam menghadapi suatu permasalahn berat dalam hidupnya,mereka mengalami berbagai bentuk kekerasan yang dapat menekan kondisi psikisnya,sehingga mereka merasa tidak memiliki kekuatan untuk melawan dari segala perlakuan yang diterimanya.

Partisipan IN mengungkapkan bahwa menghadapi berbagai permasalahan tersebut dirinya tidak mampu untuk melawannya ataupun melakukan sesuatu untuk menghentikan kekerasan kepadanya,sehingga ia perang batin atau marah pada dirinya sendiri karena tidak adanya kekuatan untuk melawan.

Berbeda dengan partisipan BF,BF tidak memiliki kekuatan untuk melawan tindakan kekerasan yang diberikan ibunya,sehingga BF merasa dirinya sebagai anak sudah tidak lagi ada artinya.

·         Fase Penyesuaian

Dalam fase ini subjek sudah dapat beradaptasi dengan keadaan yang tertekan dalam menerima kekerasan yang diberikan orangtua pasien kapansaja,yang menjadikan subjek merasa sudah terbiasa menghadapi berbagai bentuk kekerasan.

Subjek IN mengatakan bahwa selama dirinya menerima tindakan kasar adri orangtuanya ia berusaha lebih sabar,menahan diri dan legowo/

Subjek BF sudah mampu untuk bersabar dalam menghadapi segala perlakuan yang diberikan dalam menghadapi segala perlakuan yang diberikan kepadanya,dalam bentuk ia lebih mendiamkan saja ketika menerima kekerasan dari ibunya.

·         Fase Berkembanng

Dalam fase ini kondisi subjek sudah berani untuk mengambil tindakan dan dapat memperbaiki hidup menjadi lebih baik.

Subjek IN mengatakan bahwa ketika menghadapi masalah ia mampu mengalihkan pada hal-hal yang dapat menenangkan dirinya sehingga dapat menurunkan stressor.

Subjek BF,berusaha menjadi individu yang mampu hidup mandiri,tidak tergantung pada orang lain,sehingga memilik kemampuan untuk mengatur keuangan sendiri sesuai dengan kebutuhannya.

3.    Sumber Resiliensi

Kemampuan dalam melakukan resiliensi oleh kedua subjek dapat bersumber dari beberapa hal

·         I Have (dukungan eksternal)

Subjek IN mengungkapkan bahwa ia bersyukur mempunyai pacar seperti HD yang dapat meberikan arahan yang baik pada dirinya,dan membantu dalam menghadapi permasalahn IN.

Sedangkan BF,mempunyai panutan dari teman-teman terdekatnya dengan memberikan motivasi untuk tidak memikirkan masalah yang terlalu dalam dan arahan yang diberikan oleh R teman kosnya supaya BF tidsk salah dalam bertindak.

·         IAM (kemampuan batin )

Subjek IN mengatakan bahwa dirinya mempunyai keyakinan bahwa segala Sesutu yang dilakukan atau yang menjadi keputusan dirinya adalah suatu hal besar,sehingga ia memiliki sikap optimism tinggi dalam menghadapi apapun.

·         I Can (kemampuan interpersonal)

Kemampuan yang dimiliki subjek untuk menjalin komunikasi ataupun melakukan sesuatu yang dapat mendorong individu untuk dapat bangkit.

Pada sumber ini hanya didapatkan informasi dari subjek BF yang mengatakan bahwa ia mampu melakukan sesuatu untuk dapat menjadi pribadi yang mandiri,yaitu dengan mampu memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil penelitian tersebut diungkap bahwa terdapat perbedaan latar belakang masalah yang dialami kedua subjek dalam melakukan resiliensi.Terdapat 2 faktor, kondisi keluarga yang dialami subjek ke 2 dan factor ekonomi yang dialami subjek pertama.

Dalam melakukan resiliensi kedua partisipan melalui proses yang tidak singkat,terdapat 3 proses perkembangan : fase memburuk,berkembang,dan andanya sumber resiliensi yang berbeda dari kedua partisipan tersebut.

 

 

RESILIENSI PADA INDIVIDU KECENDERUNGAN INGIN BUNUH DIRI

 

RESILIENSI PADA INDIVIDU  KECENDERUNGAN INGIN BUNUH DIRI

UJIAN PSIKOLOGI INOVASI

Dosen Pengampu : Dr.Arundati Shinta

Penulis ;

    Nama :Nirbita Melani

NIM :18.310.410.1180

 

 

Dewasa ini semakin mudah menemukan informasi mengenai bunuh diri,ini merupakan fenomena yang begitu menarik melihat maraknya kasus bunuh diri menjadi  sangat memprihatinkan yang sebenarnya harus benar-benar menjadi perhatian.

Bunuh diri merupakan upaya yang dilakukan dengan sadar untuk mengakhiri kehidupan secara sadar berupaya untuk mati (Muhith,2015).

Dikutip dari WHO Global Health Estimates 2017 mengeluarkan data bahwa kematian global tertinggi akibat bunuh diri dinegara-negara berpendapatan rendah dan menengah adalah umur 20 tahun.Di Indonesia banyak sekali kasus-kasus mengenai bunuh diri,parahnya ada yang sampai dipublikasikan secara terang-terangan.Lalu mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Menurut Khan (2011),low et al(2012) didapatkan hasil depresi memiliki hubungan dengan ide bunuh diri.Masalah yang tidak terselesaikan akan menimbulkan stress,Sejumlah penelitian melaporkan bahwa stress dan kehidupan yang penuh stress merupakan peristiwa yang sangat terkait dengan gejala depresi,yang kemudian meninggalkan resiko bunuh diri (Zhang et al,2011,you et al,2014)Stres berkelanjutan dapat mengakibatkan kecemasan dan depresi.

Di dalam buku jelajah jiwa hapus stigma menjelaskan beberapa factor yang membuat seseorang memiliki pikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri,diantaranya :

1.    Factor biologis

Banyak penelitian yang melihat adanya hubungan riwayat bunuh diri pada keluarga dengan percobaan bunuh diri,ini dihubungkan baik secara transmisi genetic maupun efek lingkungan yang menunjukan perilaku tersebut.Pada buku tersebut dilakukan penelitian pada 2 subjek yaitu,pada subjek utama tidak mempunyai riwayat keluarga dengan perilaku bunuh diri,namun faktor herediter dan neurotransmitter menjadi pertimbangan dari peran factor biologis dalam tindakan bunuh diri subjek FA dan AS.Perilaku agresif pada keluarga juga berhungungan dengan perilaku bunuh diri,perilaku agresif orang tua berkaitan dengan pola pengasuhan yang menggunakan kekerasan fisik maupun verbal.

Gangguan fisik yang menyertai seseorang dengan percobaan bunuh diri mempunyai beberapa aspek yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri.Ditemukan pada kasus AS terdapat gangguan pendengaran kongenital sehingga menimbulkan gangguan body image dan disfungsi yang disebabkan gangguan tersebut.

 

2.    Factor psikologis

Factor psikologis dalam penelitian ini dilihat dari pola asuh dan stabilitas keluarga,temperamen,kepribadian,mekanisme coping,dan psikopatologi yang ada.pada kasus FA terdapat pola asuh yang mengandung kekerasan verbal dan fisik (physical violence dan verbal abuse).

Dampak KDRT dapat berupa dampak fisik dan dampak psikis,dampak yang fatal adalah kematian,dan yang tidak fatal seperti cedera,keluhan fisik,dan kecacatan.

Pada kasus ke 2 yaitu orang tua AS memiliki sikap double bind kepada AS,yaitu seperti ibu AS memiliki watak yang protektif tetapi meminta As untuk hidup mandiri,dan Ayah As yang membebaskan anak-anaknya agar mandiri.

Kepribadian yang terkait dengan bunuh diri adalah kepribadian yang ambang,antisosial,dan histrionic.

Kepribadian ambang yang menunjukan agresivitas dan impulsivvitas.Kepribadian histrionic mempunyai keinginan untuk menarik perhatian dan mendapatkan keunntungan sekunder.Kepribadian antisosial menunjukan lemahnya nilai dan ikatan emosional dengan keluarga dan masyarakat.

3.    Factor sosiokultural

Factor sosiokultural juga dapat melatarbelakangi perilaku bunuh diri seseorang,diantaranya pertemanan,problem group,minoritas,penghayatan spiritual,nilai-nilai hidup,masalah keahlian,bakat,pendidikan,dan proses kreatif.

           

            Bagaimana pemikiran bunuh diri bisa muncul ?

            Ide bunuh diri bisa muncul karena mindset seorang individu yang menganggap bahwa bunuh diri adalah jalan keluar dari masalah yang dihadapi,menganggap bahwa cara ini adalah cara yang dapat mengubah realitas yang terjadi,

            Gangguan jiwa dapat ditangani dengan sikap optimis gejala maupun disfungsi penyerta.Upaya preventif yang dilakukan adalah pencegahan terhadap relasi bunuh ide bunuh diri yang muncul pada seorang individu.

Dalam buku jelajah jiwa hapus stigma bahwa mengingat urgensi masalah bunuh diri,sangatlah penting untnuk dilakukan penampisan dini dan intervensi pada fasilitas pelayanan kesehatan primer atau local gatekeeper lain yang memungkinkan untuk dilaksankan (Perlemen,et al.,2011)Berkembangnya ide untuk bunuh diri dapat dipertanyakan melalui wawancara langsung atau penampisan melalui mekanisme self report (Shain,2016).

            Dalam penelitiannya,proses penampisan dilaksanakan pada tahapan pencegahan primer dengan melakukan deteksi dini bahwa individu mempunyai kecenderungan ide bunuh diri berdasarkan adanya factor-faktor resiko.

            Persepsi para pemangku kebijakan tentang bunuh diri akan sangat mempengaruhi masa depan upaya pencegahan bunuh diri di setiap Negara (Hermes,2009:Word Health Organization,2012). Indonesia telah memberlakukan UU no 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial,beberapa pelayanan kesehatan ditanggung oleh BPJS kesehatan antaranya gangguan kesehatan menyakiti diri sendiri.

            Bagaimana mendeteksi individu yang cenderung ingin bunuh diri ?

Usahakan untuk mulai peka pada kondisi sekitar kita,belajar untuk selalu care terhadap siapapun karena sebetulnya seseorang yang cenderung ingin bunuh diri aktivitasnya dapat diamati seperti,merasa sedih,sering menangis,anxietas dan gelisah,perubahan mood drastic,mudah tersinggung,bingung,menurunnya minat dalam kegiatan sehari-hari,sulit mengambil keputusan,menyakiti diri sendiri atau orang lain,menjadi fanatic terhadap agama atau bisa menjadi artheis,terdapat juga fakotr bunuh diri didalam komunitas yaitu,keyakinan kultural tentang kehidupan setelah kematian dan penerimaan tentang bunuh diri rasional sebagai sebuah solusi terhadap masalah social

Ketersediaan metode bunuh diri,prevalensi masalah psikososial seperti depresi dan gangguan penggunaaan zat yang membatasi kemampuan individu untuk beradaptasi terhadap keadaan yang penuh tekanan

            Pencegahan bunuh diri di Indonesia telah dilakukan diantaranya :

1.    Pengembangan program pencegahan bunuh diri yang efektif dengan sosialisasi yang massif

2.    Penguatan edukasi mengenai kesehatan mental bagi masarakat

3.    Pemantauan secara berkala di tingkat nasional melalui data yang akurat,

4.    Keluarga perlu proaktif untuk mencari informasi dan memahami tentang pola asuh yang mengikuti perkembangan zaman

5.    Menyikapi konflik orang tua dan anak secara wajar

6.    Orang tua perlu berempati dengan kebutuhan anaknya

7.    Who Indonesia ikut mensosialisasikan strategi pencegahan bunuh diri dan dijadikan program oleh masin-masing lembaga terkait yang tercantum dalam rekomendasi demi tercapainya common goals dari strategi pencegahan bunuh diri

8.    Konsisten mendampingi Indonesia dalam ikhtiar mencapai targetgoal terkait bunuh diri

9.    Pada media massa menjalankan amanat UU nomor 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa yang mengatur upaya promotif media massa.

10. Mengikuti perkembangan kaidah tentang penulisan berita tentang bunuh diri

11. Melakukan edukasi kepada masyarakat tentang jesehatan jiwa secra umum,dan bunuh diri secra khusus untuk mengurangi stigma terkait bunuh diri.

Maka dapat disimpulkan bahwa kecenderungan ingin bunuh diri bermula pada diri kita sendiri,stress yang berlebihan,dan kecemasan yang teramat sangat dapat memicu kita untuk depresi.Kita cenderung untuk ingin mengubah sebuah realita,namun tidak dapat dilakukan dengan semudah itu,dengan kita bisa menerima maka kita akan terhindar dari pikiran stress dan kecemasan.

Tidak hanya itu,ternyata factor dari luar juga dapat memicu kecenderungan ingin bunuh diri seperti keluarga,lingungan tempat tinggal,pertemanan,dan lain-lain.Bunuh diri dapat mewariskan penyesalan yang tak bekesudahan bagi keluarga yang ditinggalkan,Ada sebuah rasa penasaran tentang apa penyebabnya,memungkinkan bahwa selama ini keluarga tidak mengenali sosok pelaku bunuh diri.Kondisi tidak berdamai dengan realita akan berdampak toxic pada keberlangsungan hidup kita.


referensi :

Yusuf,Nova Riyanti.2020.Jelajah Jiwa Hapus Stigma Autopsi Psikologis Bunuh Diri Dua Pelukis.Jakarta:PT.Kompas Media Nusantara

Winurini,Sulis.2019.Pencegahan bunuh diri di Indonesia.bidang kesejahteraan sosial,VolXI no 20.ISSN 2088-2351

http://Materi-Bunuh-diri-talk-show dr-Carla.pdf

Aulia,Nur & dkk.2019.Analisis hubungan faktor resiko bunuh diri dengan ide bunuh diri terhadap remaja.Jurnal Keperawatan.Volume 11 No 4 hal 303-310.ISSN2085-2049