16.5.22

Sampah bisa mendatangkan uang?

 Essay Persyaratan Ujian Tengah Semester

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan


Sri Ayu (19310410079)

Faultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Selama ini paradigma manusia tentang sampah hanyalah dengan membuangnya ketempat sampah yang sudah disediakan oleh pemerintah ataupun dibakar dan dibuang ke sungai, namun hal itu tentu berdampak buruk untuk lingkungan, maka utnuk menghindari hal tersebut paradigma itu harus dirubah dengan Prinsip Pengolahan Sampah Berbasis Masyarakat, yaitu: Mengurangi (Reduce), Menggunakan Kembali (Reuse), Mendaur Ulang (Recycle).

Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam berbentuk padat (UU No. 18 2008). Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Sampah (refuse) dalam ilmu kesehatan lingkungan adalah sebagian dari benda atau hal-hal yang dipandang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau harus dibuang, sedemikian rupa sehingga tidak sampai mengganggu kelangsungan hidup. Bentuknya bisa pada berbagai fase materi, seperti padat cair dan gas.

Berdasarkan pengertian diatas, dapat difahami bahwa sampah adalah sisa kegiatan manusia atau proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis, tidak dipakai dan digunakan kembali, tidak disenangi dan harus dibuang sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kelangsungan hidup manusia. Tapi tidak bisa dikatakan juga bahwa sampah merupakan zat akhir yang tak bisa dimanfaatkan kembali, karena terdapat kata “belum memiliki nilai ekonomis, tidak terpakai lagi dan tidak disenangi” yang artinya dapat dikatakan bahwa jika sampah tersebut kembali diberi nilai ekonomis, dan bisa digunakan bahkan disenangi maka sampah tersebut mampu berubah wujud menjadi bukan sampah.

Prodak Kerajinan

Produk kerajinan berbahan limbah adalah benda kerajinan yang dibuat oleh tangan-tangan manusia, bukan karya mesin, melainkan keterampilan tangan serta keahlian atau kemahiran tangan dalam mengolah bahan dalam penyusunan teknik dalam proses pembuatan benda kerajinan yang bahan utamanya berasal dari limbah. Contoh: tikar yang terbuat dari bekas bungkus kopi ABC dan lainlain. Produk kerajinan adalah hal yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan (kerajinan tangan). Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan.

Fungsi produk kerajinan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi karya kerajinan sebagai benda pakai dan fungsi karya kerajinan sebagai benda hias. Karya kerajinan sebagai benda pakai meliputi segala bentuk kerajinan yang digunakan sebagai alat, wadah, atau dikenakan sebagai pelengkap busana. Karya kerajinan sebagai benda hias meliputi segalabentuk kerajinan yang dibuat dengan tujuan untuk dipajang atau digunakan sebagai hiasan atau elemen estetis.

DAFTAR PUSTAKA

Chandra, Dr. Budiman. Pengantar Kesehatan Lingkungan. 2007. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran 

Hartono, Rudi. Penanganan dan Pengelolaan Sampah. Penebar Swadaya

Environmental Services Program. Comparative Assessment on Community Based Solid Waste Management (CBSWM) – Medan, Bandung, Subang, and Surabaya. November 2006. Development Alternatives, Inc. for USAID

Mengenal Lebih dalam Personal Space

 Essay Persyaratan Ujian Tengah Semester

Mata Kuliah Psikologi Lingkungan


Sri Ayu (19310410079)

Faultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Istilah personal space pertama kali digunakan oleh katz pada tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam istilah biologi, antropologi, dan arsitektur. Masalah mengenai ruang personal ini berhubungan dengan batas-batas disekeliling seseorang. Menurut sommer ruang personal adalah daerah di sekeliling seseorang dengan batas-batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya. Goffman (dalam Altman, 1975) menggambarkan ruang personal sebagai jarak atau daerah disekitar individu dimana jika dimasuki orang lain menyebabkan ia merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang dan kadang-kadang menarik diri.

Ruang personal adalah ruang di sekeliling individu, yang selalu dibawa orang kemana saja ia pergi dan orang akan merasa terganggu jika ruamg tersebut diinterferensi (Gifford, 1987). Artinya kebutuhan terhadap ruang personal terjadi ketika orang lain hadir. 

Ada 4 lapisan personal space menurut Hall, diantaranya: 

a) Jarak intim (0-0.5m) jarak ini adalah jarak dimana kita hanya mengizinkan orang-orang yang terasa  sangat dekat dengan kita untuk berada didalamnya. Biasanya kekasih pasangan, orang tua, kakak/adik, dan sahabat dekat dapat mamasukinya tanpa menimbulkan rasa risih 
b) Jarak personal (0.51.3m) jarak ideal untuk percakapan antara 2 orang teman atau antar orang yang sudah saling akrab 
c) Jarak sosial (1.3-4m) jarak yang biasany kita buat untuk hubungan yang bersifat formal, seperti  seperti : bisnis, pembicaraan denga orang yang baru kita kenal 
d) Jarak publik (4-8m) jarak untuk hubungan yang lebih formal seperti penceramah dengan hadirinya. Pempampresnya amerika biasanya membuat ruang kosong selebar +?/4m untuk menjaga pejabat penting. 

Unsur-unsur yang mempengaruhi jarak Ruang Personal seseorang          

a. Jenis Kelamin    

Umumnya laki-laki memiliki ruang yang lebih besar, walaupun demikian faktor jenis kelamin bukanlah faktor yang berdiri sendiri,          

b. Umur    

Makin bertambah usia seseorang, makin besar ruang personalnya, ini ada kaitannya dengan kemandirian. Pada saat bayi, hampir tidak ada kemampuan untuk menetapkan jarak karena tingkat ketergantungan yang makin tinggi. Pada usia 18 bulan, bayi sudah mulai bisa memutuskan ruang personalnya tergantung pada orang dan situasi. Ketika berumur 12 tahun, seorang anak sudah menerapkan RP seperti yang dilakukan orang dewasa. 

c. Kepribadian  

Orang-orang yang berkepribadian terbuka, ramah atau cepat akrab biasanya memiliki RP yang lebih kecil.  Demikian halnya dengan orang-orang yang lebih mandiri lebih memilih ruang personal yang lebih kecil.  Sebaliknya si pencemas akan lebih mengambil jarak dengan orang lain, demikian halnya dengan orang yang bersifat kompetitif dan terburu-buru.  

d. Gangguan Psikologi atau Kekerasan 

Sebuah penelitian pada pengidap skizoprenia memperlihatkan bahwa kadang-kadang mereka membuat jarak yang besar dengan orang lain, tetapi di saat lain justru menjadi sangat dekat.

e. Kondisi Kecacatan 

Beberapa penelitian memperlihatkan adanya hubungan antara kondisi kecatatan dengan RP yang diterapkan.  Beberapa anak autis memilih jarak lebih dekat ke orang tuanya, sedangkan anak-anak dengan tipe autis tidak aktif, anak hiperaktif dan terbelakang mental memilih untuk menjaga jarak dengan orang dewasa.     

f. Ketertarikan 

Ketertarikan, keakraban dan persahabatan membawa pada kondisi perasaan positif dan negatif antara satu orang dengan orang lain.  Namun yang paling umum adalah kita biasanya akan mendekati sesuatu jika tertarik.  Dua sahabat akan berdiri pada jarak yang berdekatan dibanding dua orang yang saling asing.  Sepasang suami istri akan duduk saling berdekatan dibanding sepasang laki-laki dan perempuan yang kebetulan menduduki bangku yang sama di sebuah taman.

DAFTAR PUSTAKA

Altman, I. (1975). The Environment & Social Behavior, Privacy. Personal Space. Territory. Crowding. Monterey: Brooks/Cole publishing company. 

Dayakisni, T. (2001). Psikologi Sosial. Malang: Universitas Muhammdiyah Malang

Albin, R. S. (2002). Emosi Bagaimna Mengenai Menerima Dan Mengarahkannya. Yogyakarta: 



















Penanganan Sampah Masyarakat-masyarakat

 Penanganan Sampah Masyarakat



Danang Wahyu Saputro 20310410047
Psikologi lingkungan UP45






Pengelolaan sampah telah diatur dalam undang-undang No. 18 Tahun 2008. Tempat pemrosesan akhir (TPA) adalah tempat untuk memproses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan. Pemrosesan sampah didahului dengan mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah/volume sampah. Penyediaan TPA di kota-kota besar menghadapi kendala keterbatasan lahan. Oleh sebab itu, pengelolaan TPA secara regional menjadi lebih dibutuhkan.

Pengelolaan sampah dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan serta memulihkan sumber daya alam. Pengelolaan sampah pada dasarnya ingin menangani atau mengubah sampah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis dan kemanfaatan serta mengubahnya menjadi material yang tidak membahayakan lingkungan hidup

Mengutip National Geographic, TPA ditimbun dengan lapisan dari tanah liat dan plastik tipis, lalu ditimbun lagi dengan beberapa meter tanah agar tanaman bisa tumbuh di atasnya. Meskipun tempat pembuangan sampah dirancang hanya untuk menampung sampah, beberapa di antaranya akan mengalami dekomposisi seiring waktu.

Berdasarkan sistem operasionalnya, terdapat tiga metode pembuangan akhir sampah, yaitu sanitary landfill, controlled landfill, dan open dumping.

1.     Sanitary Landfill

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Pengantar Kesehatan Lingkungan, sanitary landfill adalah sistem pemusnahan sampah yang dilakukan dengan cara menimbun sampah dengan tanah yang ditimbun selapis demi selapis. Dengan demikian, sampah tidak berada di ruang terbuka sehingga tidak menimbulkan bau atau menjadi sarang binatang pengerat. Syarat sanitary landfill yang baik meliputi:

 

a.     Tersedia tempat yang luas.

b.     Tersedia tanah untuk menimbunnya.

c.     Tersedia alat-alat besar.

 

Lokasi sanitary landfill yang lama dan sudah tidak terpakai dapat digunakan sebagai tempat pemukiman, perkantoran, dan sebagainya.

 

2.     Controlled LandFill

Controlled Landfill adalah sistem open dumping yang diperbaiki yang merupakan sistem pengalihan open dumping dan sanitary landfill yaitu dengan penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan setelah TPA penuh yang dipadatkan atau setelah mencapai periode tertentu.

Merujuk buku Menuju Rumah Minim Sampah, definisi controlled landfill adalah sistem pembuangan dengan meratakan dan memadatkan sampah yang datang setiap hari menggunakan alat berat. Sampah dipadatkan menjadi sebuah sel, lalu dilapisi dengan tanah setiap lima hari atau seminggu sekali. Tujuannya untuk mengurangi bau, perkembangbiakan lalat, dan keluarnya gas metana. Selain itu, dibuat juga saluran pengumpul air lindi (leachate), instansi pengolahannya, pos pengendalian operasional, fasilitas pengendalian gas metana, serta saluran drainase untuk mengendalikan air hujan.

 

3.     Open Dumping

Open Dumping, yaitu sistem pembuangan sampah yang dilakukan secara terbuka. Hal ini akan menjadi masalah jika sampah yang dihasilkan adalah sampah organik yang membusuk karena menimbulkan gangguan pembauan dan estetika serta menjadi sumber penularan penyakit.

 

Metode pengelolaan sampah yang dipilih harus disesuaikan dengan jenis sampah yang akan diolah. Jika tidak, justru akan membuat pencemaran baru yang akan menganggu lingkungan sekitar atau bahkan menggangu kesehatan warga disekitar lokasi pemrosesan.

 

Sumber :

https://katadata.co.id/safrezi/berita/61fb8cc643288/landfill-adalah-tempat-pembuangan-akhir-pahami-jenis-dan-dampaknya

https://data.pu.go.id/dataset/tempat-pembuangan-akhir-tpa

https://eprints.uny.ac.id/8147/3/bab%202%20-%2008304241033.pdf

http://perpustakaan.menlhk.go.id/pustaka/images/docs/Tempat_pemrosesan_akhir_sampah_BROSUR.pdf