19.10.17

RESENSI ARTIKEL: Gerbong Bekas Disulap Jadi Perpustakaan

MANFAATKAN EKS KERETA DIESEL
Gerbong Bekas Disulap Jadi Perpustakaan

WAHYU RELISA NINGRUM
15.310.410.1087
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA



            Balai Yasa Yogyakarta kembali berinovasi. Kali ini, berhasil menyulap gerbong kereta menjadi perpustakaan (rail library). Kami menyebutnya sebagai rail clinics generasi keempat. Generasi keempat ini jauh lebih lengkap karena ada rail library selain ada rail clinics, urai Apriyono. Kereta tersebut tersebut terdiri dari empat gerbong. Dua gerbong utama digunakan sebagai kereta kesehatan, dan dua gerbong lainnya untuk perpustakaan. Kereta kesehatan juga difasilitasi dengan penambahan ruang kebidanan, ibu menyusui dan teknologi pemeriksaan gigi yang semakin canggih. Sedangkan kereta perpustakaan dilengkapi dengan berbagai media digital, diantaranya ruang diskusi dengan layar lebar, ruang belajar berbasis komputer maupun perpustakaan elektronik dengan monitor berisi ribuan e-book.
      Sisi positifnya, memanfaatkan eks kereta diesel adalah sesuatu hal yang nyata dan inovatif yang dapat dilakukan dalam mengurangi sampah dari barang atau benda yang tidak terpakai lagi. Menyulap gerbong bekas menjadi kereta perpustakaan dan kereta kesehatan sangatlah mungkin apabila kita punya ide kreatif inovatif, kemauan, dan aksi nyata utuk mewujudkannya.
          Sisi negatifnya, hasilnya masih belum merata untuk dapat dirasakan oleh masyarakat umum di berbagai daerah. Karena baru ada empat tempat atau lokasi pengoperasian rail clinics dan rail library di Indonesia.  
Sumber:

Kedaulatan Rakyat, 15 September 2017. Hal. 9. 

RESESI ARTIKEL: MENYONGSONG GENERASI EMAS, Mahasiswa Harus Berpikir Kritis dan Kreatif

MENYONGSONG GENERASI EMAS
Mahasiswa Harus Berpikir Kritis dan Kreatif

WAHYU RELISA NINGRUM
15.310.410.1087
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


Nenek moyang Bangsa Indonesia memiliki maha karya yang bisa dibanggakan sampai sekarang, misal Borobudur dan Majapahit yang dikenal dunia sampai sekarang. Menurut Pros Joko, Bangsa Indonesia sekarang belum memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Hal ini karena sumber daya manusianya sekadar bekerja memenuhi kewajiban, bukan benar-benar untuk berkarya. Generasi sekarang punya waktu 12 jam, tetapi belajar saja tidak sampai dua jam, lalu waktu lainnya untuk apa,”kata Prof Joko.
Prof Joko mengemukakan, Bangsa Indonesia sekarang masih menjadi bangsa yang pas pasan. Untuk itu perlu menyiapkan diri menjadi generasi emas. Dibutuhkan dana dan yang terpenting adalah kemauan manusia itu sendiri. Untuk menjadi generasi emas harus memilki berbagai ketrampilan. Diantaranya, harus mampu berpikir kritis, bisa memecahkan permasalahan, dapat berkomunikasi dengan baik, mampu bekerjasama dengan mengedepankanketepatan waktu dan kejujuran, memiliki kreativitas dan inovasi serta menguasai teknologi informasi. Agar hasil pendidikan dapat membawa kebaikan dan keberkahan, maka semua ketrampilan tersebut perlu dilandasi dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan sosial.
      Sisi positifnya ialah memberikan motivasi yang tinggi kepada mahasiswa untuk berkarya dan dapat mengharumkan nama bangsa dengan karya tersebut.
Sisi negatifnya, belum dijelaskan langkah nyata misalnya kegiatan yang dapat dilakukan mahasiswa dalam menyongsong generasi emas 2045.

Sumber: 
Kedaulatan Rakyat, 12 September 2017. Hal. 18.

RESENSI ARTIKEL: ‘PENGIN MULYA, AYO MACA’, Kebiasaan Baca Buku Mulai Berkurang

‘PENGIN MULYA, AYO MACA’
Kebiasaan Baca Buku Mulai Berkurang

WAHYU RELISA NINGRUM
15.310.410.1087
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


            Zaman sekarang, kebiasaan membaca buku sudah mulai berkurang. Masyarakat mulai sibuk dengan gadget, mulai bermain online, berselancar di dunia maya, hingga sibuk dengan media sosial. Tidak dapat dipungkiri, hal ini membuat banyak orang semakin malas membaca buku.
Pesta buku yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kulonprogo serta Diva Press, diharapkan menjadi sarana meningkatkan minat baca. Selain itu juga menjadi media edukasi dan media trasaksi bagi masyarakat Kulnprgo pada umumya.”Pengin Mulya Ayo Maca” itulah tagline yag dikatakan Jumanto, pihaknya berupaya memberi pemahaman bahwa dengan membaca maka wawasan pengetahuan akan bertambah luas, dapat menjadikan manusia yang berbobot, berisi dan berwawasan serta “Hidup kita akan menjadi lebih bermakna atau mulyo karena membaca.
Sisi positifnya, peran Pemerintah dalam menggerakkan elemen masyarakat untuk gemar membaca diwujudkan dengan aksi nyata.
Sisi negatifnya, perlu adanya sosialisasi, peningkatan dan pengembangan pesta buku tersebut agar dapat diikuti oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan di daerah lain. Sehingga masyarakat di lain daerah juga termotivasi untuk membaca.

Sumber:

Kedaulatan Rakyat, 11 Oktober 2017. Hal 23.