13.7.17

MENUJU KEMENANGAN GEMILANG



MENUJU KEMENANGAN GEMILANG
Dalam Menghadapi Perubahan
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Irwanto
NIM. 163104101125
Program Studi Psikologi

            Secara bahasa, halal bi halal adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari. Masyarakat Arab di Mekah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji Indonesia dengan keterbatasan kemampuan bahasa Arab mereka bertanya halal? Saat bertransaksi di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Mereka menanyakan apakah penjual sepakat dengan tawaran harga yang mereka berikan, sehingga barang menjadi halal untuk mereka. Jika sepakat, penjual akan balik mengatakan “halal”. Atau saat ada makanan atau minuman yang dihidangkan di tempat umum, para jama’ah haji biasanya bertanya “halal?” untuk memastikan bahwa makanan/minuman tersebut gratis dan halal untuk mereka. Kata majemuk ini tampaknya memang made in Indonesia, produk asli negeri ini. Kata halal bi halal justru diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sejumlah orang dan merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia”.

Penulis menyebutkan bahwa halal bi halal adalah suatu tradisi berkumpul sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk saling bersalaman sebagai ungkapan saling memaafkan agar yang haram menjadi halal. Umumnya, kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan shalat Idul Fithri. Kadang-kadang, acara halal bi halal juga dilakukan di hari-hari setelah Idul Fithri dalam bentuk pengajian, ramah tamah atau makan bersama.
Dalam kesempatan Bapak Ir. Bambang Irjanto, MBA, selaku Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta memberikan sambutan yang mengatakan bahwa tidak ada yang kekal di muka bumi ini, kecuali perubahan. Pernah mendengar pepatah seperti itu? Ya, perubahan akan selalu ada di muka bumi ini. Mulai dari hal kecil yang simpel sampai hal-hal besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak pasti akan selalu megalami perubahan. Sehingga bisa dibilang bahwa sebuah  perubahan adalah kekal adanya. Zaman ini berbeda dengan zaman itu, yaitu masa yang dulu dilalui oleh orang tua kita, bangsa Indonesia kini juga berbeda dengan Indonesia kala Sukarno dan Suharto memimpin dahulu, bahkan sampai perkara yang paling kecil dan sederhana pun ikut berevolusi mengikuti pergerakan langkah zaman.
Kalau demikian adanya, maka tidak ada satu orang pun di belahan bumi ini yang mampu terhindar dari perubahan. Kalau begitu apakah hidup ini untuk sebuah perubahan?Ini bukan teori evolusinya Darwin yang terkenal itu, tapi evolusi yang dimaksud disini adalah suatu keadaan yang disertai dengan rentetan peristiwa yang melekat dan dialami oleh setiap individu. Kata "perubahan" itu sendiri, karna tidak bisa dipungkiri bahwa ada perubahan yang dinilai banyak orang sebagai sesuatu yang positif, namun ada juga perubahan yang menurut sebagian orang dinilai sebagai hal yang negatif. Memahami sebuah proses bukan lah hal yang mudah, karena perkara ini terkait dengan inter-aksi banyak hal, sehingga tidak mudah menyimpulkan suatu proses. Misalnya, Mengapa dan bagaimana Susilo Bambang Yodoyono (SBY) bisa menjadi Presiden RI? Bagaimana menyimpulkan proses yang dijalani dan dialami oleh Presiden SBY? Sekali lagi ini bukan hal yang mudah. Kalau bagi sebagian orang itu bisa terjadi karna sudah menjadi takdirnya menjadi Presiden. Satu sisi ungkapan itu tidak keliru, namun perkataan itu tidak memiliki penjelasan ilmiah yang bisa membuka fikiran banyak orang mengenai cara dan proses untuk menjadi Presiden.
Bagi siapa saja yang mengagumi karena seninya Iwan Fals, sang musisi fenomenal itu, tentu tau bahwa ada potongan baid dalam lagunya yang berbunyi "yang penting adalah prosesnya". Kalau dilihat dengan kaca mata takdir tentu menjadi tidak menarik untuk membahas makna proses, tapi kalau "proses" dipahami dengan beragam ilmu pengetahuan, maka rasanya akan berbeda dan lebih memberi nilai plus bagi banyak orang. Kalau "proses" itu terjadi karna banyaknya inter-aksi dengan beragam hal, maka sebenarnya proses itu bisa disederhanakan. Contoh, Sebelum SBY menjadi Presiden, beliau berprofesi sebagai militer, padahal kalau dilihat secara ilmiah, puncak pencapaian seorang militer bukan Presiden, tapi mengapa beliau bisa menjadi Presiden? Ini artinya ada pengrucutan interaksi yang bisa menghasilkan suatu kesimpulan yang jelas tentang subuah proses.

“Bukan yang paling kuat yang bisa bertahan hidup, bukan juga yang paling pintar. Yang paling bisa bertahan hidup adalah yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan” (Charles Darwin).



0 comments:

Post a Comment