9.5.20

Adahkah perubahan psiklogi terhadap anak selama pandemic???



Dosen Pengampuh: Arundati Shinta
YANSES KALA’ IRI’
19310410046
Psikologi sosial
salah satu upaya pemerintah dalam mengurangi penyebaran virus ini yaitu dengan melakukan social distancing dan saat ini juga di berlakukan PSBB yang sudah di keluarkan surat edarannya dari pemerintah. Social distancing adalah tindakan pembatasan untuk mengendalikan infeksi nonfarmasi atau memperlambat penyebaran suatu penyakit menular (kompas.com, 3 Mei 2020). Semenjak di berlakukannya social distancing tersebut aktivitas yang dilkukan hampir seluruhnya di lakukan di dalam rumah, tetapi dalam keadaan mendesak bisa dilakukan di luar denagn catatan selalu safe.
Tidak dapat dipungkiri, pandemi virus Corona COVID-19 membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan. Tak hanya orang dewasa, kondisi psikologis anak pun rentan terganggu oleh situasi yang serba tak menentu saat ini. Anak-anak diharuskan belajar dari rumah, tidak dapat bermain dan bertemu dengan teman-teman, serta berbagai hal lain harus dilakukan demi menekan penularan infeksi COVID-19 tersebut. Di sisi lain, anak-anak yang tidak begitu mengerti tentang penyakit ini juga bisa tertekan dan terganggu mentalnya akibat rasa ketakutan yang dimilikinya. “Ketakutan dan kecemasan tentang suatu penyakit dapat luar biasa dan menyebabkan emosi yang kuat pada orang dewasa dan anak-anak,”
Berikut ini beberapa tanda anak tertekan dan terganggu mentalnya saat pandemi COVID-19 seperti (cnnindonesia.com, diakses 3 Mei 2020):
1. Perilaku Regresif "Secara umum, kita semua akan mengalami sedikit kemunduran dalam fungsi kita selama masa transisi besar ini, anak-anak akan mengalami kemunduran dalam bersikap dan berperilaku seperti kembali mengisap ibu jari, membutuhkan mainan kesayangannya lagi, mengompol, dan sebagainya.
2. Perubahan Nafsu Makan, Nafsu makan dan tidur anak sering kali merupakan tanda pertama bahwa segalanya tidak beres, Seringkali seorang anak akan menunjukkan peningkatan tajam atau penurunan nafsu makan.
3. Masalah Tidur Selama tertekan, pola tidur juga dapat berubah. Perhatikan apakah anak Anda tidur sepanjang hari atau sebaliknya mengalami kesulitan tidur atau tertidur.  Gangguan tidur sering terjadi pada masa-masa sulit sehingga anak-anak mungkin mengalami masalah tidur, terbangun di malam hari atau berbagai kelainan lainnya.
4. Perubahan suasana hati Perilaku yang harus diketahui terdiri dari ledakan kemarahan, putaran tangisan tak terduga, kesedihan, ketidaksabaran, kehilangan gairah dalam tugas-tugas yang disukai serta berpisah dari yang lain. Anak-anak yang gelisah kemungkinan besar benar-benar merasa lebih gugup, sementara mereka yang bermasalah mungkin memiliki lebih banyak ledakan biasa.
5. Bertindak berlebihan Selama masa pandemi ini, para orang tua dapat mengamati dan menilai perilaku anak-anak mereka. Apakah mereka bertindak lebih dari biasanya? Anak-anak mungkin mulai mendesak adanya batasan, menunjukkan tingkat permusuhan yang lebih besar, hingga tidak mematuhi arahan atau terlibat dalam lebih banyak perdebatan dengan anggota keluarga.
Jadi, Selama masa pandemi ini, para orang tua dapat mengamati dan menilai perilaku anak-anak mereka. Apakah mereka bertindak lebih dari biasanya? Serta orang tua juga harus selalu inovatif dalam mengajak anak-anak untuk menghindari hal-hal yang membuat anak-anak mengalami perubahan psikologi yang terlalu berat. Dan terusa mengajak anak-anak untuk melakukan hal-hal yang positif bersama angota keluarga lainnya agar anak maupun anggota keluarga lainnya tidak mengalami hal yang sama.


Sumber:

0 comments:

Post a Comment