14.4.17

ARTIKEL : SIKAP KOOPERATIF YANG BERPENGARUH PADA PERKEMBANGAN ANAK

Siti Hanifah
(16.310.410.1151)
Psikologi Umum



        Anak yang diterlantarkan, ditolak atau diperlakukan dengan kejam tidak mengalami cinta dan kerja sama. Dia tidak mengetahui apa artinya merasakan hubungan positif dengan orang-orang lain dan akibatnya dia sering merasa terisolasi dan curiga terhadap orang-orang lain. Apabila dihadapkan pada kesulitan-kesulitan dia cendrung menilai terlalu tinggi kesulitan-kesulitan ini dan menilai terlalu rendah kemampuan-kemampuannya sendiri. Untuk membereskan apa yang tidak diperoleh sebagai anak dia mungkin merasa berhak mendapat perhatian khusus atau kompensasi. Dia mungkin menginginkan orang-orang lain memperlakukan dirinya dengan baik tetapi sebaliknya tidak merasa wajib untuk membalasnya. Baik anak yang dimanjakan dan terlantar atau yang diperlakukan dengan kejam mungkin memiliki harapan-harapan yang sama seperti orang dewasa. Kelompok pertama mengharapkan supaya pemanjaan yang sudah biasa dilakukan diteruskan, sedangkan kelompok kedua menuntut pemanjaan sebagai kompensasi. Kedua kelompok ini merasa berhak untuk segala-galanya tetapi tidak memiliki kewajiban untuk segala-galanya.
      Disamping pengaruh-pengaruh orang tua, Adler adalah orang pertama yang mengakui bahwa posisi anak dalam urutan saudara kandung pada keluarga dapat mempengaruhi perkembangan anak dalam cara-cara yang kritis (Adler, 1992b, hlm. 126-132). Menjadi seorang anggota yang berarti dalam keluarga adalah penting dan sang anak mungkin berkecil hati bila dia berpikir bahwa dia berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Misalnya, pengalaman anak sulung (yang tertua) merasa diturunkan dari posisinya karena kelahiran adiknya dan dengan demikian dia akan memutuskan untuk memperoleh kembali kekuasaan yang telah disaingi oleh adiknya. Dalam kehidupan kemudian pola perjuangan untuk memperoleh kembali keunggulan mungkin akan berlangsung terus pada bidang pekerjaan dimana dia mengontrol bawahannnya secara berlebihan dan di keluarga dia dapat menjadi raja yang alim.
        Anak kedua yang mengalami saudara kandung yang lebih tua sebagai perintis jalan mungkin akan mengadakan respons dengan terus-menerus berjuang untuk mengungguli dan mengalahkan kakaknya. Apabila ini terasa sangat sulit , dia mungkin menyerah dan menarik diri dari persaingan. Anak bungsu memiliki banyak perintis jalan dan dapat menjadi sanagat ambisius, atau mungkin dia tidak mengembangkan keberanian yang dibutuhkan untuk merealisasikan ambisi-ambisinya dan tetap menjadi bayi yang tidak berdaya. Anak tungggal cenderung menghabiskan kehidupannya untuk ada bersama dengan orang-orang dewasa dan seringkali menjadi pusat perhatian. Akibatnya anak ini tidak mungkin dapat belajar bagaimana bekerja sama dengan kawan-kawan sebayanya.
       Tentu saja Adler menyadari bahwa contoh-contoh yang dikemukakan di atas sangat terbatas. Posisi objektif anak bukan merupakan faktor yang berpengaruh melainkan posisi psikologis dan makna yang diberikan anak pada posisi tersebut. Dengan demikian dua anak yang lahir dengan jarak kelahiran beberapa tahun mungkin berkembang dalam cara-cara yang sangat serupa dengan anak tunggal. Di lain pihak apabila orang tua membantu anak-anaknya menanggulangi tuntutan-tuntutan yang unik dari posisinya dalam susunan keluarga dan bila ada suasana keluarga yang kooperatif dan bukan kompetitif anak-anak mungkin tidak akan mengembangkan karakteristik-karakteristik yang berhubungan dengan masing-masing posisinya.  
         Saat usia anak masih balita alangkah lebih baik jika sang anak dibentuk dengan sikap kooperatif terlebih dahulu. Kompetitif boleh diajarkan jika sekiranya sang anak sudah matang dengan sikap kooperatifnya. Dengan demikian perkembangan selanjutnya masa remaja atau dewasa dia tidak akan menonjolkan sikap kompetitifnya dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam dunia pekerjaaan. 

Daftar Pustaka 
Semium, Yustinus. (2013). TEORI-TEORI KEPRIBADIAN: Psikoanalitik Kontemporer.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

1 comment:

  1. Mbak Hanif, boleh konsul? Anak saya sulit diajak kerjasama bersama teman2nya. Ia sering ribut. Bagaimana cara mengatasinya ya? Tolong dong kami-kami (ibu-ibu di dusun meguwo) diberi petunjuk.

    ReplyDelete