30.12.16

KETENAGAKERJAAN: MENCIPTAKAN NILAI TAMBAH DALAM BEKERJA



LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF


Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Olah raga pagi yang menyehatkan adalah bersepeda seminggu tiga kali. Apalagi bila jalannya naik, maka otot kaki menjadi kencang. Kebugaran fisik ini diperoleh bila kita menyempatkan diri untuk berolah raga. Persoalannya, kita juga sering kreatif untuk membuat alasan sehingga waktu untuk berolah raga selalu tidak ada. Alasan yang paling sering muncul adalah pekerjaan, sehingga olah raga kalah prioritas dengan pekerjaan. Jadi dalam hal ini motivasi internal kita telah dikalahkan oleh hal-hal yang eksternal. Alasan-alasan eksternal berbanding lurus dengan kreativitas kita membuat alasan. Semakin kreatif maka alasannya semakin banyak, dan alasan itu semuanya masuk akal.


Bagaimana cara mengalahkan alasan-alasan yang menggembosi motivasi internal kita untuk berolah raga? Cara yang paling jitu untuk memperkuat motivasi internal adalah membuat nilai tambah pada segala kegiatan kita. Kegiatan yang mempunyai banyak nilai tambah berarti akan semakin memperkuat motivasi internal kita. Bila tidak kreatif membuat nilai tambah pada kegiatan yang rutin dilakukan, maka kita akan bosan dan meninggalkan kegiatan itu meskipun kegiatan tersebut penting.

Apa nilai tambah itu? Nilai tambah atau value added adalah kegiatan untuk memberi nilai yang lebih pada suatu produk atau jasa. Pemberian nilai yang lebih itu bisa berarti memperbarui, menambah, atau mengubah, sehingga produk / jasa yang dihasilkan akan tampil beda, tambah menarik, dan lebih disukai orang. Pemberian nilai tambah itu merupakan usaha yang kreatif, karena seseorang mungkin saja bosan dengan produk yang dihasilkan, atau ingin meningkatkan daya jual produknya.

Apa saja nilai tambah yang bisa dilakukan untuk kegiatan sederhana seperti olah raga pagi? Nilai tambah pertama yaitu sengaja memilih jalan yang mana saya sempat mematikan lampu jalan. Penduduk yang di depan rumahnya ada lampu jalan, agaknya tidak peduli atau malas mematikan lampu tersebut. Jadi kegiatan olah raga dengan hasil badan sehat menjadi lebih menyenangkan karena ada tambahan rasa bangga bahwa saya menjadi pahlawan lingkungan di desa tersebut. Nilai tambah kedua yaitu berolah raga sambil memulung paku-paku yang sering tersebar di jalanan. Semula, niat untuk memulung paku adalah untuk menghindarkan ban bocor para pengendara sepeda motor / mobil. Memang itu adalah niat yang mulia, namun sayangnya tidak bertahan lama. Saya kemudian menciptakan nilai tambah baru yaitu paku-paku hasil memulung itu kemudian dijual ke Bank Sampah langganan saya. Harga paku-paku itu memang sangat rendah, namun saya merasa puas. Rasanya tidak sabar lagi untuk melakukan kegiatan olah raga bersepeda lagi.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari kegiatan memberi nilai tambah ini, terutama untuk dunia kerja? Bekerja selama 40 jam setiap minggunya, tentu akan membosankan. Apalagi bila pekerjaan itu bukan menjadi passion karyawan. Keluar dari pekerjaan karena bosan, tentu bukan merupakan jalan keluar yang cerdik. Strategi yang sering dikemukakan para motivator adalah karyawan harus menemukan passion dari pekerjaannya sehingga motivasi internalnya terjaga. Sayangnya, ide tersebut kurang membumi. Adanya ide untuk memberi nilai tambah ini diharapkan karyawan dapat segera menciptakan nilai tambah untuk pekerjaan yang dihadapinya setiap hari. Contoh nilai tambah yang bisa diciptakan di kantor yaitu sering menggunakan fasilitas tangga, bukan lift. Hasilnya adalah badan bugar, dan pekerjaan selesai.

Tulisan ini adalah materi Lomba Menulis yang diadakan oleh Bapak Sunali Agus, 31 Agustus 2016.

1 comment:

  1. Bu Sinta, saya mahasiswanya Ibu pada masa lampau. Masih sering naik sepeda to? Sehat banget ya? Saya ingin ke Yogya lagi, kuliah S2 di Yogya. Bu Sinta bisa memebri saya rekomendasi to? Siip lah

    ReplyDelete