30.12.16

Keluarlah dari Zona Nyaman bila ingin Berhasil

Keluarlah dari Zona Nyaman bila ingin Berhasil

Tri Welas Asih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Sering kita terlena dan merasa puas dengan apa yang telah kita dapat saat ini. Posisi kerja yang nyaman, gaji yang cukup dan jaminan hidup yang sudah pasti.  Hal seperti itulah yang membuat sebagian orang merasa tidak perlu melakukan hal yang lain untuk memperoleh hasil yang berbeda dengan yang di dapat. Mereka berfikir terlalu sempit yaitu bila mereka mencari alternatif pekerjaan lain hasil yang didapat adalah tidak sebaik yang mereka dapatkan sekarang. Mereka terlalu takut untuk mengambil resiko bila hasil yang mereka harapkan tidak sesuai dengan keinginan. Padahal belum tentu bila hasil yang di dapat itu lebih buruk dari hasil sekarang , bahkan ada yang hasilnya lebih bagus dari yang di dapat sekarang.

Hal yang sama sempat terjadi dengan saya, saya mendapatkan posisi pekerjaan yang sesuai dengan keinginan saya, gaji yang cukup dan rutin ditambah dengan tunjangan kesejahteraan lain yang lebih dari cukup. Saya melakukan semua rutinitas pekerjaan ini selama hampir 2 tahun. Ketika beranjak tahun ketiga saya memutuskan untuk keluar dari rutinitas pekerjaan yang selama ini saya jalani. Berawal dari mengikuti suatu diklat yang bertolak belakang dengan keinginan saya, bahkan saya tidak mempunyai ketertarikan sama sekali dengan bidang ini. Saya mulai mengikuti diklat dalam bidang pendidikan, dan ketika itu saya harus membayar biaya diklat untuk bisa memperoleh pekerjaan di bidang jasa pendidikan tersebut. Setelah selesai diklat saya bergabung dalam suatu lembaga menjadi seorang pegawai dengan pendapatan yang tidak sebanding dengan yang dulu sayadapatkan pada pekerjaan sebelumnya. Tetapi dilingkungan pekerjaan yang baru saya merasa lebih nyaman, tidak hanya melakukan rutinitas pekerjaan semata tetapi lebih merasa puas dengan aktivitas baru yang berhubungan dengan anak-anak serta orang banyak. Dari sini saya mulai belajar banyak hal tentang kepemimpinan, relationship, kerjasama, mengelola pekerjaan dan masih banyak hal lain.

Kepercayaan dari atasan mulai saya dapatkan ketika kinerja saya dinilai baik oleh mereka. Beberapa tanggungjawab mulai di berikan kepada saya, dan seketika itu saya tidak bisa menerima karena saya sebagai orang baru belum pantas menerima tanggung jawab yang begitu besar. Tetapi karena beberapa pertimbangan pihak lembaga tetap memberikan amanah kepada saya. Saya mulai berfikir mungkn ini salah satu proses belajar saya. Akhirnya saya menerima tanggung jawab tersebut dan berusaha untuk mewujudkan apa yang menjadi tugas saya. Dari sinilah mulai terasa ada perbedaan perlakuan dari rekan kerja. Ada yang senang , ada pula yang merasa tersaingi. Mereka berfikir ,harusnya yang mendapat tanggung jawab atau promosi jabatan adalah karyawan yang sudah lama bekerja. Saat itu saya hanya berprinsip bahwa mereka memberi tanggung jawab besar kepada saya karena saya mampu dengan tanggung jawab tersebut. Dan saya bisa mewujudkan tanggung jawab itu dalam beberapa waktu kemudian. Ketika masih ada yang berfikir apakah saya mampu melanjutkan lagi tanggung jawab itu, saya hanya berprinsip saya ingin memenangkan amanah dan cita-cita saya. Apa yang menjadi prasangka orang saya jadikan sebagai motivasi kuat untuk membukitkan bahwa saya bisa amanah dengan tanggung jawab itu dan berhasil mewujudkannya. Ketika keberhasilan itu tampak, tetap ada yang tidak puas, itu adalah hal yang wajar.

0 comments:

Post a Comment