28.12.23

Pentingnya Persepsi dalam Perubahan Perilaku - UAS Psi Inovasi

 

Ujian Akhir Semester Psikologi Inovasi

Nama / Nim : Ira Prastiwi 21310410060

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta., MA

 


Stimulus  yang sama berupa intruksi dosen supaya mahasiswa melakukan kegiatan olah raga,  dalam waktu yang sama bisa saja dipersepsikan berbeda bagi setiap mahasiswa. Persepsi tentang olahraga sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti budaya, pengalaman pribadi, kondisi kesehatan, dan nilai-nilai individu.

Banyak orang melihat olahraga sebagai kunci dalam menjaga kesehatan dan kebugaran fisik seperti peningkatan stamina, kekuatan otot, dan kesehatan jantung. Beberapa orang mungkin menganggap olahraga sebagai kegiatan yang melelahkan atau sulit untuk dilakukan, terutama jika mereka tidak terbiasa atau memiliki masalah kesehatan tertentu.

Contoh dari persepsi berasarkan pengalaman pribadi ialah ketika saya mengalami peningkatan kesehatan fisik dan mental sebagai hasil dari berolahraga yang saya lakukan yakni jogging, sehingga saya mengembangkan persepsi positif terhadap aktivitas tersebut. Sebaliknya, mungkin teman-teman lain memiliki pengalaman cedera atau ketidaknyamanan fisik selama atau setelah berolahraga yang kemudian dapat menciptakan persepsi negatif.

Perbedaan persepsi inilah yang kemudian menjadi persoalan pada mahasiswa. Pengalaman positif sering kali mendorong pandangan positif terhadap olahraga, sementara pengalaman negatif dapat menciptakan tantangan untuk memotivasi seseorang untuk terlibat lebih lanjut dalam aktivitas fisik, sehingga kreativitas perilaku untuk  mengatasi situasi yang tidak nyaman ini perlu dimunculkan.

Mengembangkan pikiran kreatif untuk mendorong diri dalam berolahraga bisa menjadi cara yang efektif untuk membuat aktivitas fisik lebih menarik dan memotivasi. Berikut beberapa cara untuk memunculkan pikiran kreatif agar lebih termotivasi dalam berolahraga:

  • Variasi olahraga. jika bosan dengan jogging, cobalah bersepeda, berenang, hiking, atau mencoba olahraga baru yang menarik minat Anda.
  • Membuat playlist musik. Hal ini dapat meningkatkan semangat dan membuat olahraga lebih menyenangkan.
  • Tantangan dan Tujuan Pribadi. Meningkatkan jarak lari atau jumlah langkah per hari. Ini dapat memberikan motivasi ekstra untuk terus berolahraga.
  • Gaya Hidup Aktif Sehari-hari. Pertimbangkan untuk mengubah gaya hidup secara keseluruhan seperti bersepeda ke tempat kerja, berjalan kaki, atau menggunakan tangga daripada lift.
  • Menentukan Waktu yang Tepat. Pilih waktu yang tepat untuk berolahraga berdasarkan energi dan preferensi pribadi.

Penting untuk menemukan jenis olahraga dan pendekatan yang sesuai dengan kepribadian dan minat pribadi. Dengan menghadirkan pemikiran kreatif dan inovatif dalam rutinitas olahraga, dapat menciptakan pengalaman meningkatkan motivasi.

Orang yang optimis dapat menghadapi tantangan olahraga dengan sikap positif, yang dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental mereka.

Sedangkan orang yang cenderung merasa pesimis mungkin mengalami kesulitan dalam menemukan motivasi untuk berolahraga, terutama jika mereka cenderung melihat masalah atau hambatan yang sulit diatasi.

Ketika pengalaman pribadi membawa saya pada persepsi positif terhadap aktivitas olahraga terutama jogging, maka hal itu mendorong perilaku saya dalam melakukan aktivitas tersebut, tetapi yang menjadi tantangan adalah dalam meningkatkan jumlah waktu.

Hal ini berkaitan dengan teori rasa pesimis oleh Martin Seligman, adanya rasa pesimis yang merupakan kecenderungan untuk melihat masalah, dan kesulitan sebagai sesuatu yang mungkin terjadi. Saya cenderung kehilangan motivasi untuk meningkatkan jumlah waktu/ durasi saat berolahraga.

Bagi orang yang memiliki kecenderungan pesimis, menjaga konsistensi atau keberlanjutan dalam kegiatan jogging mungkin merupakan hal yang menantang, sehingga perlu menerapkan strategi yang dapat membantu meraih konsistensi tersebut. Salah satunya fokus pada pola pikir yang positif dan mencoba untuk mengubah cara menyikapi tantangan, mengalihkan fokus dari hambatan menjadi potensi pencapaian dan manfaat yang di dapat dari kegiatan jogging.

 

Daftar Pustaka:

Shinta, A. (2013). Persepsi terhadap lingkungan. Kupasiana. Retrieved from: http://kupasiana.psikologiup45.com/2013/04/persepsi-terhadap-lingkungan.html

Tanjung, A. R., Simaremare, C., Putri, D. A., Attar, F., & Ediyono, S. KONSEP KEBAHAGIAAN MENURUT PSIKOLOGI POSITIF.

0 komentar:

Posting Komentar