29.12.23

Essay UJIAN AKHIR SEMESTER PSIKOLOGI INOVASI

 

UJIAN AKHIR SEMESTER

PSIKOLOGI INOVASI

 

Dosen Pengampu : Dr. Dra. Arundati Shinta, MA

Nama : Venia Astika Yahya

NIM : 21310410059

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 


 

Sebagai seorang mahasiswa memiliki berbagai kegiatan yang dilakukan, seperti ada mahasiswa yang bekerja sambil kuliah atau juga melakukan kegiatan diluar perkuliahan. Namun ketika menuntut ilmu disuatu Perguruan Tinggi, sebagai mahasiswa tidak lepas dari kewajiban mengerjakan tugas-tugas akademik. Beberapa penyelesaian tugas tersebut antara lain adalah membuat macam-macam tugas akademik maupun ujian  itu merupakan suatu bentuk evaluasi bagi mahasiswa yang dilaksanakan secara rutin, serta kegiatan non akademis lainnya. Dalam memberikan tugas,dosen akan menentukan batas waktu (deadline) tertentu untuk dikumpulkan. Idealnya mahasiswa yaitu bisa berperan aktif dan rajin dalam mengikuti perkuliahan sampai dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen, tetapi yang perlu kita ketahui bahwa masalah pengaturan waktu seringkali menjadi kendala dalam membagi waktu dengan baik. Sehingga menyebabkan kegiatan untuk menyelesaikan tugas menjadi tertunda. Seperti halnya ketika dosen memberikan tugas agar mahasiswa melakukan kegiatan perubahan diri melalui kegiatan olahraga secara rutin selama 8 minggu per 1 jam /minngu. Sebenarnya kegiatan tersebut bisa saja dilaksanakan secara rutin. Tetapi karena ada beberapa faktor internal yaitu dari dalam diri mahasiswa yang menjadi suatu hambatan, seperti kecemasan, persepsi terhadap dosen dan ketidakmampuan dalam untuk mengatur waktu.

Seperti halnya diatas yaitu mengenai kegiatan berolahraga selama 8 minggu dengan rutin. Dangan melakukan olahraga tersebut memang membuat perubahan pada diri jika dilakukan dengam rutin dan senang. Tetapi kembali lagi pada persepsi setiap individu yaitu bagamiana cara memandang kegiatan tersebut. Persepsi terhadap perubahan diri dapat sangat bervariasi antar individu. Beberapa orang mungkin menganggap perubahan sebagai sesuatu yang positif dan bermanfaat, sementara orang lain mungkin mengalami perubahan sebagai tantangan atau bahkan sebagai ancaman.

Faktor-faktor seperti pengalaman hidup, nilai-nilai pribadi, dukungan sosial, dan tingkat keterbukaan terhadap perubahan dapat memengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan perubahan diri. Penting untuk diingat bahwa persepsi ini bersifat subjektif dan dapat berkembang seiring waktu.

Perubahan diri bisa mencakup berbagai aspek, seperti perubahan dalam karir, hubungan interpersonal, kesehatan fisik atau mental, dan aspek-aspek lain dari kehidupan. Proses pemahaman dan penyesuaian terhadap perubahan ini dapat membentuk bagaimana seseorang melihat dan merespons perubahan dalam kehidupannya.

Top of Form

Seperti yang dikatakan Martin Seligman yaitu beliau mengatakan bahwa ada banyak hal yang bisa diajarkan kepada orang seperti rasa pesimis dan rasa optimis. Rasa pesimis merupakan hasil belajar yang menyebabkan terjadinya learned helplessness. Ketika kita mengalami pesimis untuk melakukan kegiatan tersebut karena suatu hal seperti kita merasa sia sia dan tidak mungkin menjadi lebih baik. Mungkin kita bisa  mencari dukungan entah itu dari keluarga, teman atau yang lainnya agar kita bisa lebih optimis bukan pesimis. Karena menurut Marin Seligman rasa optimis bisa diajarkan kepada orang yang semula pesimis, dengan adanya adanya dukungan sehingga individu bisa move on, bangkit dan menjadi percaya diri. Untuk membangun rasa optimis tidak hanya sebatas dukungan tetapi juga pendampingan, pelatihan dan juga konseling.

Setelah kita memiliki rasa optimis, untuk melakukan perubahan diri akan terasa senang dan mudah sehingga kegiatan tersebut bisa berkelanjutan dengan syarat semua faktor diatas bisa saling melengkapi.

 

Sumber : Mayasari, M. D., Mustami'ah, D., & Warni, W. E. (2012). Hubungan antara persepsi mahasiswa terhadap metode pengajaran dosen dengan kecenderungan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Hang Tuah Surabaya. Jurnal Insan Media Psikologi12(2).

0 komentar:

Posting Komentar