28.12.23

ESSAY 5 PSIKOLOGI INOVASI PARTISIPASI LOMBA

 

ESSAY 5 PSIKOLOGI INOVASI PARTISIPASI LOMBA


 

Brhyllianda Ridwan Susila

21310410115

 

Dosen pengampu: Dr, Arundati Shinta, M.A.

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


 


Mengarungi Emosi dan Perubahan Melalui Puisi: Partisipasi dalam Lomba Dua Puisi Bertema Ayah dan Milenial Unjuk Aksi

 

Puisi sebagai bentuk seni tulis telah menjadi wadah ekspresi yang penuh makna bagi para penulis untuk menggambarkan perasaan, pengalaman, dan visi mereka terhadap kehidupan. Lomba puisi dengan tema ayah dan milenial unjuk aksi menjadi panggung inspiratif yang mengundang para penyair untuk mengeksplorasi kedalaman relasi keluarga dan semangat perubahan dalam generasi muda.

 

Ayah: Melukis Keindahan Kisah Kasih

 

Tema pertama, ayah, membangkitkan nostalgia dan rasa cinta yang mendalam terhadap sosok yang sering menjadi pilar kekuatan di dalam keluarga. Dalam lomba puisi ini, para penulis memiliki kesempatan untuk merentangkan kata-kata yang merangkai kisah tentang cinta, kesabaran, dan kebijaksanaan yang ditorehkan oleh sang ayah.

 

Puisi tentang ayah dapat membuka jendela ke dalam momen-momen indah yang dibagikan antara anak dan ayah. Karya-karya ini sering kali menjadi cermin kebaikan, kehangatan, dan keteladanan yang tercipta melalui ikatan keluarga. Penulis dapat menyampaikan apresiasi terhadap pengorbanan ayah dan menggambarkan bagaimana sosok tersebut memainkan peran sentral dalam pembentukan karakter anak.

 

Milenial Unjuk Aksi: Suara Generasi Muda yang Berkobar-kobar

 

Sementara itu, tema kedua mengenai milenial unjuk aksi membawa kita ke arena perubahan sosial. Generasi muda sering didefinisikan oleh semangatnya dalam menyuarakan pemikiran, mengekspresikan aspirasi, dan terlibat dalam aksi nyata. Dalam lomba puisi ini, penulis diundang untuk meresapi dan merangkai kata-kata yang mencerminkan semangat revolusioner para milenial.

 

Puisi mengenai milenial unjuk aksi dapat menjadi sarana bagi penulis untuk menyampaikan pesan-pesan kebenaran, ketidakpuasan terhadap ketidakadilan, dan tekad untuk menciptakan perubahan. Kata-kata ini tidak hanya menciptakan gambaran aksi di jalanan, tetapi juga menyoroti perjuangan batin dan semangat kolektif yang menggerakkan generasi ini.

 

Merajut Kedua Tema: Harmoni Tradisi dan Perubahan

 

Partisipasi dalam lomba puisi dengan dua tema ini membuka peluang untuk merajut kisah-kisah yang berbeda menjadi satu narasi yang kompleks dan kaya makna. Ayah, sebagai lambang tradisi dan stabilitas, dapat dihubungkan dengan semangat milenial yang dinamis dan progresif. Melalui puisi, penulis dapat menggambarkan bagaimana hubungan ini dapat menciptakan keseimbangan yang unik antara kedua generasi.

 

Puisi yang menggabungkan tema ayah dan milenial unjuk aksi menjadi tempat bagi penulis untuk menggambarkan perjalanan emosional, keterikatan keluarga, dan semangat perubahan dalam satu rangkaian kata-kata yang indah. Dalam menggabungkan dua tema ini, penulis dapat menciptakan sebuah karya seni yang merangkum kompleksitas kehidupan.

 

Kesimpulan: Puisi sebagai Katalisator Pemahaman dan Perubahan

 

Partisipasi dalam lomba puisi dengan tema ayah dan milenial unjuk aksi memberikan kesempatan bagi penulis untuk menjelajahi kedalaman emosi dan merayakan semangat perubahan. Puisi mampu menjadi katalisator pemahaman dan refleksi terhadap nilai-nilai keluarga, serta memberikan suara pada semangat progresif yang membawa kita ke arah masa depan yang lebih baik. Puisi adalah jendela ke dalam pikiran, perasaan, dan aksi, menciptakan ruang di mana kata-kata menjadi lebih dari sekadar ungkapan; mereka menjadi gerakan menuju perubahan yang diimpikan.






 

0 komentar:

Posting Komentar