2.11.23

Persepsi dan Perilaku Terkait Sampah: Dampaknya terhadap Yogyakarta yang Ramah Lingkungan

Psikologi Lingkungan

Essay Ujian Tengah Semester 

Mohammad Evansyah (19310410049)

Dosen pengampu: Dr. Arundati Shinta, M.A.

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Saat ini, Yogyakarta dihadapkan pada tantangan serius yang disebabkan oleh jumlah sampah yang tidak terkelola secara ramah lingkungan semenjak TPA piyungan ditutup sementara untuk upaya perluasan daya tampung sampah. Menurut data, volume sampah masuk dari Kota Yogyakarta, Bantul dan Sleman di atas 700 ton/hari. Pada tahun 2022, sampah yang masuk rerata 747 ton/hari. Pada tahun 2023, sampah yang masuk masih di atas 700 ton/ hari. Sementara pada April – Mei 2023, volume sampah masuk ada di bawah 700 ton/hari (Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, 2023). Persoalan ini tidak hanya memengaruhi lingkungan fisik, tetapi juga merembet ke berbagai sektor, seperti pariwisata dan kesehatan. 

Persepsi individu tentang sampah memainkan peran penting dalam pengelolaan sampah karena merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya (Nugraha, Sutjahjob, & Amin, 2018). Bagaimana orang melihat sampah, apa yang mereka pahami tentang dampaknya, dan sikap mereka terhadapnya, semuanya memengaruhi cara mereka memperlakukan sampah. Individu yang memiliki persepsi negatif terhadap sampah, yang menyadari dampak negatifnya, cenderung lebih cermat dalam membuang sampah mereka dengan benar. Mereka mungkin lebih memilih untuk mendaur ulang atau menggunakan praktik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

Sektor pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi utama di Yogyakarta. Namun, persepsi negatif terhadap sampah dapat mengancam industri ini. Turis yang datang ke Yogyakarta mungkin akan merasa terganggu oleh masalah sampah yang mencolok di sekitar tempat wisata. Hal ini dapat memengaruhi citra Yogyakarta sebagai tujuan wisata yang bersih dan indah. Turis mungkin akan enggan untuk kembali atau merekomendasikan tempat ini kepada orang lain, berdampak negatif pada perekonomian daerah.

Pembakaran sampah yang masif, yang terjadi sebagai akibat dari kurangnya pengelolaan sampah yang baik, dapat Menyebabkan pencemaran udara. Menurut Faridawati dan Sudarti (2021) tindakan dari pembakaran sampah dampak negatifnya lebih tinggi daripada dampak positif. Persepsi masyarakat tentang risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh polusi udara ini adalah faktor yang penting. Jika penduduk merasa bahwa pembakaran sampah berdampak negatif pada kesehatan mereka, mereka mungkin lebih cenderung untuk mendukung tindakan peningkatan pengelolaan sampah. Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) adalah salah satu dampak kesehatan yang sering terjadi akibat polusi udara (Rokom, 2023).

Norma sosial dan tekanan kelompok juga berperan penting dalam pengelolaan sampah. Persepsi individu tentang norma yang ada dalam masyarakat mereka dapat memengaruhi tindakan mereka terkait sampah. Jika seseorang melihat bahwa banyak orang di sekitarnya mendukung praktik pengelolaan sampah yang baik, mereka mungkin lebih cenderung untuk mengikuti norma tersebut. Ini adalah contoh bagaimana persepsi sosial dapat membentuk perilaku individu.

Menurut Jati (2013) saat ini penanganan sampah masih bertumpu pada pemerintah karena masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menciptakan kebersihan lingkungan. Makan dari itu, kampanye pendidikan lingkungan dan kesadaran masyarakat dapat memainkan peran besar dalam mengubah persepsi dan perilaku individu terkait sampah. Ketika penduduk memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang dampak negatif dari pengelolaan sampah yang buruk, mereka mungkin lebih cenderung untuk mendukung praktik yang ramah lingkungan. Pendidikan juga dapat membantu mereka memahami pentingnya berkontribusi pada solusi masalah sampah.

Keterlibatan aktif dalam program daur ulang dan ketersediaan infrastruktur yang mendukung pengelolaan sampah ramah lingkungan dapat membantu individu untuk menerapkan perilaku yang lebih baik terkait sampah. Jika penduduk memiliki akses mudah ke fasilitas daur ulang, mereka mungkin lebih cenderung untuk memanfaatkannya.

Kebijakan pemerintah yang mendukung pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dapat memengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat. Larangan pembakaran sampah atau insentif untuk mendaur ulang, misalnya, dapat merubah persepsi dan tindakan individu.

Dalam rangka mengatasi masalah sampah di Yogyakarta, penting untuk memahami peran penting yang dimainkan oleh persepsi individu. Edukasi, kesadaran masyarakat, norma sosial, dan kebijakan pemerintah semua dapat berperan dalam membentuk persepsi dan perilaku terkait sampah. Dengan upaya bersama dan perubahan positif dalam persepsi individu, Yogyakarta dapat bergerak menuju pengelolaan sampah yang lebih baik dan menjaga keberlanjutan lingkungan dan perekonomian daerah.

Daftar Pustaka:

Faridawati, D., & Sudarti, S. (2021). Pengetahuan masyarakat tentang dampak pembakaran terhadap lingkungan kabupaten jember. Jurnal Sanitasi Lingkungan, 1(2), 50-55.

https://doi.org/10.36086/salink.v1i2.1088

Jati, T. K. (2013). Peran pemerintah boyolali dalam pengelolaan sampah lingkungan permukiman perkotaan. Jurnal Wilayah Dan Lingkungan, 1(1), 1-16.

Nugraha, A., Sutjahjob, S.H., & Amin, A.A. (2018). Persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga melalui bank sampah di jakarta selatan. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 8(1), 7-14.

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. (2023). Kabupaten/kota harus kurangi sampah di hulu, gubernur diy mempersilakan penggunaan sg sebagai tempat penampungan sementara. 

https://jogjaprov.go.id/berita/kabupatenkota-harus-kurangi-sampah-di-hulu-gubernur-diy-mempersilakan-penggunaan-sg-sebagai-tempat-penampungan-sementara

Rokom, R, (2023, Agustus 28). Cegah dampak polusi udara dengan 6m 1s. Sehatnegeriku Kemkes

https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230828/4143734/cegah-dampak-polusi-udara-dengan-6m-1s/#


0 komentar:

Posting Komentar