11.10.23

WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF

 ESSAY 3 

WAWANCARA TENTANG DISONANSI KOGNITIF  

DEA KHAIRUN NISA

21310410082

Dosen pengampu : Dr, Arundati Shinta, M.A. 

FAKULTAS PSIKOLOGI 

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


Prevelensi perokok di Indonesia setiap tahunnya meningkat, berbagai kampanye anti rokok telah dilakukan oleh pemerintah dan organisasi untuk mengurangi angka perokok yang dapat berdampak bagi kesehatan. Para perokok mengetahui adanya bahaya yang ditimbulkan oleh rokok sehingga memunculkan adanya disonansi, terlebih Jumlah perokok wanita di Indonesia meningkat pesat. Menurut data Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, pada tahun 2010 jumlah wanita perokok sebesar 4,8 juta (Anonim, 2012). Jumlah tersebut telah meningkat 4 kali lipat dari tahun 1995, dengan jumlah wanita perokok pada tahun tersebut sebesar 1,1 juta. Peningkatan jumlah wanita perokok tersebut dipengaruhi oleh keuntungan yang diperoleh dengan merokok. Bagi wanita, merokok dapat digunakan sebagai sarana mengontrol berat badan dan emosi (Harrell, Fredrickson, Pomerleau, & Hoeksema, 2006). Kenikmatan yang diperoleh dengan merokok akan dirasakan segera dan berbeda dengan dampak negatifnya, yang dampak tersebut akan dirasakan bertahun-tahun kemudian (Leppel, 2006). Di Indonesia sendiri, strategi kampanye komunikasi banyak digunakan, misalnya dengan ikut serta dalam “Hari Tanpa Tembakau Sedunia” atau “No Tobacco Day”, membuat pesan yang persuasif dalam kampanye Public Relations. menggunakan konten yang informatif dan menarik untuk publik. 

Memahami risiko yang timbul karena merokok dan merasakan kenikmatan merokok, mendorong wanita perokok dewasa muda berpendidikan tinggi berada dalam kondisi disonan. Disonansi koginitif ini merupakan suatu keadaan terjadinya hubungan yang tidak sesuai antara elemen-elemen kognitif, yang dapat menimbulkan kejanggalan kognitif (Festinger, 1957). Ketidaksesuaian antara elemen-elemen kognitif yang dapat terjadi pada wanita perokok dewasa muda berpendidikan tinggi ini terlihat dari ketidaksesuaian antara elemen kesadaran mengenai efek samping merokok dengan elemen perilaku merokok yang mereka tampilkan. Keadaan disonansi ini dapat bersumber pada inkonsistensi logis (logical inconsistency), nilai-nilai budaya (cultural mores), pendapat umum (opinion generality), dan pengalaman masa lalu (past experience) (Festinger, 1957). Disonansi ini akan menimbulkan ketidaknyamanan secara psikologis (Eliot & Devine, dalam Allahyani, 2012). Sebagai suatu bentuk ketegangan, individu akan termotivasi untuk mengatasinya agar semua elemen kognitif dapat bersesuaian kembali (konsonan). Terdapat beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi keadaan disonan tersebut, yaitu mengubah elemen tingkah laku, mengubah elemen kognitif lingkungan, dan menambah elemen kognitif baru (Festinger, 1957).

Pada wawancara yang telah dilakukan kepada seseorang perempuan perokok aktif yaitu SPB (21) mahasiswa pada salah satu kampus terbaik di Indonesia, diketahui bahwa SPB mulai merokok pada usia 18 tahun dengan faktor pendorongnya adalah lingkungan dan kemudian menjadi ketergantungan karena merasakan kenikmatan saat merokok. Dia sangat sadar betul akan resiko dari menjadi wanita perokok seperti mendapat stigma buruk dari masyarakat karena wanita perokok umumnya dianggap sebagai perilaku yang tidak pantas atau sangat buruk. kemudia, dalam aspek kesehatan bahwa merokok tentu sangat tidak sehat untuk seorang wanita maupun pria. Namun, ia seperti telah kecanduan dan menganggap dengan merokok maka ia dapat menenangkan pikirannya yang sedang kacau. Merokok telah menjadi sebagian dari rutinitasnya sehari-hari, bahkan ia berpendapat bahwa lebih baik tidak makan dari pada tidak merokok. ini semua menuju pada sikap disonansi kognitif. Dia menginginkan perubahan dalam dirinya sedikit demi sedikit dengan cara memperbanyak kegiatan yang bermanfaat dan mulai melakukan hidup sehat seperi makan makanan yang sehat dan berolahraga. Dia menyatakan bahwa sangat tidak mudah unutuk melakukan perubahan tersebut, bahkan subjek mengatakan bahwa perubahan yang ia lakukan ternyata memberikan dampak yang buruk kepadanya. namun, subjek masih bertahan untuk terus melakukan perubahan. 

Pada subjek penelitian ng ditemukan terjadinya proses disonansi kognitif terhadap perilaku merokoknya. Sumber disonansi subjek adalah inkonsistensi logis (logical inconsistency) dan pendapat umum (opinion generality). Sumber disonansi berupa nilai budaya (cultural mores). Subjek mengurangi disonansinya dengan cara mengubah elemen tingkah laku, mengubah elemen kognitif (elemen lingkungan dan elemen sendiri), dan menambah elemen kognitifnya. Cara mengurangi disonansi dengan mengubah elemen tingkah laku dan menambah elemen kognitif dilakukan oleh subjek .  





DAFTAR PUSTAKA

 Allahyani, M. H. A. (2012). The Relationship Between Cognitive Dissonance & Decision Making Styles in Sample of Female Students at The University of Umm Al Qura. Journal Education, Spring; 132; 3, pg 607.

 Festinger. (1957). A theory of cognitive dissonance. California: Stanford Universitas Press 

 Harrell, Fredrickson, Pomerleau & Hoeksema. (2006). The Role of Trait Self Objectification in Smoking Among College Women. Journal of Sex Role 54: 735 – 743

 Leppel, K. (2006). The Relationship Between College Class and Cigarette Smoking. Journal of Health Education, 107, 1, pg 63-80.


0 komentar:

Posting Komentar