23.10.23

 

MENGIKUTI LOMBA PUISI DALAM RANGKA

MEMPERINGATI HARI SUMPAH PEMUDA

Mata Kuliah: Psikologi Inovasi

Tugas: Partisipasi Lomba (Essay 5)

Dosen Pengampu: Dr. Dra. Arundhati Shinta, MA

Di susun oleh: Ari Kurniawan, S.Pd, AIFO-P (21310410044)

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta


Saya berpartisipasi dalam dua lomba menulis puisi yang diadakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dan @lomba_sastra di instagram. Lomba pertama adalah lomba menulis puisi di FKM UI dengan tema semangat sumpah pemuda dalam kesehatan masyarakat, tenggat lomba tanggal 2 sampai 22 oktober 2023. Puisi yang saya tulis untuk lomba ini berjudul "Keluar dari Sebuah Belenggu". Lomba kedua adalah lomba menulis puisi di @lomba_sastra dengan tema "Sepi," dan puisi saya berjudul "Sepi dalam Keheningan Malam," dengan tenggat lomba tanggal 26 oktober 2023.

Puisi pertama, yang berjudul ”Keluar dari Sebuah Belenggu," mencerminkan perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat dalam mencapai kesehatan yang baik. Puisi ini menggambarkan bahwa kesehatan sering dianggap sebagai sesuatu yang mudah diperoleh namun kenyataannya tidak selalu demikian, terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan kelas bawah. Puisi ini mengilustrasikan betapa kerasnya upaya yang harus dilakukan oleh mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Lebih jauh, puisi ini menyoroti ketidaksetaraan dalam akses kesehatan, di mana tidak semua kalangan masyarakat dapat menikmati kesehatan dengan baik. Hal ini disebabkan oleh berbagai hambatan dan rintangan yang perlu diatasi. Puisi ini menekankan pentingnya kerja sama dalam mengatasi tantangan ini dan mewujudkan kesehatan masyarakat yang diidamkan. Kesehatan masyarakat bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama yang harus ditingkatkan mutunya. Puisi ini mengingatkan kita bahwa kesehatan masyarakat adalah sesuatu yang perlu diwujudkan secara nyata dan bukan hanya slogan semata. Sangat penting kesehatan masyarakat dapat dinikmati oleh semua lapisan golongan masyarakat tak terkecuali golongan kelas bawah. Puisi ini juga menekankan persatuan dalam menghadapi masalah kesehatan masyarakat dan menggarisbawahi betapa pentingnya berjuang bersama-sama untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada. Melalui kerja sama dan usaha bersama, diharapkan kesehatan masyarakat dapat terus meningkat dan menjadi suatu realitas yang nyata, bukan hanya sekadar abstraksi. Puisi ini mengingatkan kita bahwa kesehatan adalah hak dasar setiap individu, dan kita semua perlu bekerja bersama untuk menjadikannya kenyataan.

Puisi kedua, "Sepi dalam Keheningan Malam," membawa pembaca ke dalam gambaran malam yang sunyi dan hening, di mana sepi adalah elemen yang mendominasi suasana. Dalam deskripsi langit yang gelap dengan bintang-bintang berkelip-kelip, penulis mencoba menggambarkan suasana atmosfer yang tenang dan mendalam pada situasi tersebut. Bait pertama, menggambarkan perasaan kesepia di mana hati yang sunyi menerima kedatangan sebuah rindu yang mendalam. Namun, rindu tersebut seperti tak terwujud dan hanya meninggalkan sebuah kekosongan perasaan. Bait kedua, menciptakan gambaran tentang sepi yang menjadi pelukis kenangan yang telah ditinggalkan. Ini mencerminkan bahwa dalam keheningan, kenangan tetap abadi dalam jiwa. Suara angin yang lembut hanya menambah kesan sepi yang mendalam, seperti pelukan penuh nostalgia. Bait ketiga, memperlihatkan bahwa dalam pelukan sunyi, individu menemukan diri mereka sendiri dan mendengarkan getaran hati yang terpendam. Sepi dijelaskan sebagai teman yang memungkinkan komunikasi yang tak terucap dalam keheningan. Dalam keheningan inilah hikmah dan kedamaian ditemukan. Kesimpulan puisi ini adalah bahwa malam yang sunyi dan sepi mengajarkan pada arti sebuah makna. Ketenangan malam dan sepi membawa mereka untuk menemukan diri mereka dalam kedamaian yang mendalam. Keseluruhan puisi menciptakan gambaran yang indah dan mendalam tentang hubungan antara sepi, malam, dan pencarian makna dalam kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar