11.10.23

essay 4: berperilaku inovatif: mengubah sampah plastik menjadi hiasan dinding

 

Esai 4 Berperilaku Inovatif


 

Mengubah Sampah Plastik Menjadi Hiasan Dinding

Clarita Savdurin

Nim: 21310410031

Kelas Reguler A

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Dra. Arundati Shinta

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

Menurut Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Penanganan Sampah, sampah merupakan hasil dari aktivitas sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berwujud padat. Sampah terdiri dari jenis sampah rumah tangga, jenis sampah yang serupa dengan sampah rumah tangga, dan sampah yang bersifat spesifik. Contoh sampah yang dihasilkan di lingkungan kampus termasuk dalam jenis sampah yang serupa dengan sampah rumah tangga dan sampah spesifik, terutama jika terkait dengan penggunaan bahan berbahaya atau adanya limbah berbahaya dan beracun di laboratorium kampus.

Untuk mengatasi masalah sampah, banyak orang yang sudah menerapkan 3R dalam pengolahan sampah plastik.

1.                  Reduce (Mengurangi): Langkah pertama dalam pengelolaan sampah adalah mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan. Hal ini dilakukan dengan menghindari atau mengurangi penggunaan bahan-bahan sekali pakai, seperti kantong plastik, botol air minum, atau kemasan makanan. Dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan ini, kita dapat mengurangi produksi sampah secara keseluruhan.

 

2.                  Reuse (Menggunakan Ulang): Setelah meminimalkan penggunaan bahan-bahan sekali pakai, langkah selanjutnya adalah menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa digunakan. Misalnya, botol plastik dapat digunakan kembali sebagai wadah minuman atau tempat penyimpanan. Kita juga bisa mendaur ulang baju bekas menjadi bahan kerajinan.

 

3.                  Recycle (Mendaur Ulang): Langkah terakhir dalam konsep

 

Recycle atau daur ulang adalah proses mengubah barang bekas atau sampah menjadi bahan baru yang dapat digunakan kembali. Tujuan utama dari recycle adalah mengurangi limbah dan mengurangi penggunaan sumber daya alam yang berlebihan. Proses recycle dimulai dengan mengumpulkan sampah yang dapat didaur ulang, seperti kertas, plastik, logam, dan kaca. Kemudian, sampah tersebut dipisahkan berdasarkan jenisnya. Setelah itu, sampah diproses melalui beberapa tahap, termasuk penghancuran, pemisahan, pembersihan, dan pemulihan.



Dari penjelasan di atas tentang pengolahan sampah, sampah sendiri menjadi permasalahan bagi saya. Sebagai anak muda yang sering  berbelanja secara online, produk yang dibeli pasti akan dibungkus dengan plastik untuk melindungi produk tersebut. Semakin banyak produk yang  dibeli, maka akan semakin banyak pula sampah plastik yang dihasilkan di kost saya. Mulai dari berbagai jenis warna sampah plastik ternyata menumpuk saja di kost, mencoba untuk memanfaatkan dengan menjadikan sebagai wadah mengisi bekas makanan atau sampah sejenisnya, namun sepertinya ini bukan solusi yang cukup menarik. Lantas apa solusi yang saya lakukan untuk mengatasi masalah ini? Sebagai anak muda yang hidup dengan berbagai macam platform media sosial maka, harusnya ini menjadi sebuah langkah bagi saya agar berperilaku inovatif dengan memanfaatkan sampah plastik yang ada. Dari sampah plastik hasil pembelian produk secara online, maka saya memilih untuk memanfaatkannya dengan membuat hiasan dinding berbentuk bulat dengan bunga-bunga cantik yang ditaruh diatasnya. Hiasan dinding tersebut kemudian saya jual pada salah satu platform jual beli online, salah satu platform tempat saya sering melakukan transaksi membeli produk online yang kemudian menghasilkan banyak sampah plastik.

 Link produk: https://shp.ee/qxsbzne

           

Referensi:

 

Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas, N. F., Irwansyah, I., & Hasna, S. (2020). Disonansi Kognitif Perokok Aktif di Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 11(1), 1. https://doi.org/10.24036/rapun.v11i1.108039

 

 

0 komentar:

Posting Komentar