9.10.23

essay 3: wawancara tentang disonansi kognitif

 Esai 3 Wawancara tentang Disonansi Kognitif

Clarita Savdurin

Nim: 21310410031

Kelas Reguler A

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Dra. Arundati Shinta

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 


Disonansi kognitif adalah ketidaknyamanan psikologis yang muncul ketika seseorang memiliki dua atau lebih keyakinan, nilai, atau sikap yang saling bertentangan atau tidak sesuai. Ini menciptakan kebingungan atau tekanan mental karena orang cenderung menginginkan konsistensi dalam pandangan dan perilaku mereka. Contoh sederhana dari disonansi kognitif adalah ketika seseorang merokok meskipun mereka tahu bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan. Konflik antara pengetahuan bahwa merokok berbahaya dan tindakan merokok menciptakan disonansi kognitif.Menurut laporan WHO tentang Epidemi Rokok Global tahun 2019, persentase perokok di Indonesia pada tahun 2018 adalah 62,9% untuk pria dan 4,8% untuk wanita yang berusia di atas 15 tahun. Sedangkan pada kelompok usia 13-15 tahun, persentase perokok pria adalah 23% dan wanita adalah 2,4%. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi masalah serius terkait rokok saat ini (World Health Organization, 2019). Untuk mengatasi disonansi kognitif, orang cenderung melakukan berbagai strategi, seperti mengubah keyakinan atau tindakan mereka, mencari informasi tambahan untuk mendukung keyakinan yang ada, atau mencoba meminimalkan pentingnya konflik tersebut.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang Disonansi Kognitif pada seorang perokok, maka saya telah melakukan wawancara pada laki-laki berumur 21 tahun, sebut saja A.R. yang merupakan seorang perokok aktif. Berikut beberapa pertanyaan wawancara yang telah saya lakukan.

1. Apa alasan Anda mulai merokok?

Karena lingkungan pertemanan saya

2. Bagaimana kebiasaan merokok Anda mempengaruhi kesehatan Anda?

Saya pernah beberapa kali ketika sakit merasakan sesak di dada dan juga batuk

3. Apakah Anda pernah mencoba berhenti merokok sebelumnya? Jika ya, apa yang membuat Anda kembali merokok?

Saya tidak pernah berhenti, saya berhenti merokok mungkin hanya di saat saya tidak memiliki uang untuk membeli rokok

4. Bagaimana merokok mempengaruhi hubungan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda, terutama mereka yang tidak merokok?

Saya kadang harus menjauh dari keluarga atau orang di dalam rumah karena mereka tidak suka asap rokok

5. Apakah anda tahu bahaya merokok.

Ya, saya cukup tau bagaimana bahaya merokok bagi kesehatan. Berbagai macam penyakit telah disebabkan oleh kebiasaan merokok

6. Apakah Anda memiliki strategi atau usaha untuk berhenti merokok di masa depan?

Sepertinya belum, karena saat ini saya ketika banyak pikiran maka akan berusaha menghibur diri dengan merokok

 

Pada kasus seorang perokok, disonansi kognitif terjadi ketika seseorang menyadari bahwa merokok berisiko dan berpotensi merugikan kesehatannya, namun tetap melanjutkan kebiasaan merokok. Berdasarkan wawancara yang dilakukan, perokok berinisial A.R. ini tahu bagaimana dampak merokok terhadap kesehatannya, tapi dia tetap memilih untuk melakukannya dan menganggap bahwa kebiasaannya itu adalah cara dia untuk menghibur dirinya. Dalam teori disonansi kognitif, orang cenderung mencari konsistensi antara keyakinan dan tindakan mereka. Dalam hal merokok, seseorang mungkin memiliki pengetahuan yang kuat tentang dampak negatif merokok terhadap kesehatan, seperti risiko penyakit jantung, kanker, dan gangguan pernapasan. Namun, mereka juga mungkin menghadapi tekanan sosial atau ketergantungan fisik terhadap nikotin, yang membuat mereka sulit untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

Sehingga yang dapat dilakukan oleh perokok untuk dapat mengurangi kebiasaannya adalah pertama, penting untuk memahami bahwa disonansi kognitif adalah ketidakselarasan antara keyakinan atau nilai-nilai seseorang dengan perilaku yang sebenarnya dilakukan. Dalam konteks perokok, ini berarti seseorang mungkin menyadari dampak negatif merokok pada kesehatan mereka, namun mereka tetap melanjutkan kebiasaan tersebut. Meningkatkan pemahaman tentang dampak buruk merokok pada kesehatan dapat membantu mengurangi disonansi kognitif.

 

 

Referensi:

Fadholi, F., Prisanto, G. F., Ernungtyas, N. F., Irwansyah, I., & Hasna, S. (2020). Disonansi Kognitif Perokok Aktif di Indonesia. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 11(1), 1. https://doi.org/10.24036/rapun.v11i1.108039

0 komentar:

Posting Komentar