9.10.23

Esai 3 : Wawancara tentang Disonansi Kognitif

 

 

Esai 3 Wawancara tentang Disonansi Kognitif

Cica Ayu Betiyanti

Nim: 21310410026

Kelas Psikologi SJ

Mata Kuliah Psikologi Inovasi

Dosen Pengampu: Dr. Dra. Arundati Shinta

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Disonansi kognitif adalah situasi yang mengacu pada konflik mental, yang terjadi ketika keyakinan, sikap, dan perilaku seseorang tidak selaras. Hal ini semua mengakibatkan adanya ketidak konsistenan dengan apa yang diketahui dan apa yang dilakukan. Contoh dari disonansi kognitif ini yaitu seeorang yang merokok padahal mereka tahu akan bahaya dan penyebabnya. Rokok adalah produk tembakau yang penggunaannya dengan cara dibakar dan dihisap asapnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan (Menurut PP. RI. No.109, 2012) . seperti yang kita ketahui bersama bahwa merokok dapat menyebabkan penyakit paru-paru kronismerusak gigi dan menyebabkan bau mulut, stroke dan serangan jantung serta masih banyak bahaya lainnya. Statista mencatat, ada 112 juta perokok di Indonesia pada 2021. menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah perokok berusia 15 tahun ke atas di dunia sebanyak 991 juta orang pada 2020. Angka tersebut turun 3,41% atau 35 juta orang dibanding tahun 2015 yang sebanyak 1,026 miliar orang.

Untuk mendukung argumen yang saya tulis saya telah melakukan wawancara dengan seorang perokok berinisial DI (laki-laki, 23 tahun) yang merupakan perokok aktif. Wawancara ini saya lakukan di sebuah caffe di Yogyakarta tempat DI bekerja. DI mengungkap bahwa alasnnya merokok pada awalnya yaitu karena rasa penasaran dan tidak enak jika ditawari rokok oleh teman yang merokok sampai saat ini DI telah kecanduan dan tidak dapat berhenti merokok. DI mengetahui akan bahaya merokok seperti adanya penyakit yang mengenai paru-paru , sesak nafas ataupun yang lainnya namun DI belum mampu untuk bisa merokok. DI mengaku ketika selesai makan ia harus mengisap satu batang rokok sebagai pelengkap di akhir makan, itu sudah menjadi kebiasaannya dan juga kebiasaan setiap hari. Dan salah satu alasan terkuat masih menjadi perokok aktif adalah rokok bisa mengurangi stres di kepalanya. Karena DI mengetahui bahaya akan merokok DI mengaku sempat berhenti merokok dan beralih ke Vape atau Vapor namun tidakl berhasil karena dalam kesehariannya ia masih membutuhkan menghisap rokok walaupun hanya 1 batang 2 batang, sampai akhirnya DI mengehentikan vapornya dan beralih ke rokok lagi.

Dari penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa DI mengetahui bahaya apa saja yang ditimbulkan dari rokok dan berpotensi mengurangi kesehatannya namun tetap melanjutkan kebiasaan merokoknya. Terdapat teori disonansi kognitif dalam psikologi sosial yang membahas mengenai perasaan ketidaknyamanan seseorang akibat sikap, pemikiran, dan perilaku yang saling bertentangan dan memotivasi seseorang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Yang saat ini juga dialami oleh DI.

 

0 komentar:

Posting Komentar