11.10.23

Disonansi Kognitif dalam Perilaku Perokok yang Sadar akan Bahaya Merokok

 


Disonansi Kognitif dalam Perilaku Perokok yang Sadar akan Bahaya Merokok

oleh

Aulia Khoiru Ummatin (21310410086)

Psikologi Inovasi – Tugas ke 3: Wawancara tentang Disonansi Kognitif

Dosen Pengampu: Dra. Arundati Shinta, MA.

Identitas Interviewee

Nama                  : DHP

Jabatan               : Mahasiswa

 

Di sebuah lingkungan yang semakin sadar akan risiko dan dampak merokok terhadap kesehatan, masih ada beberapa individu yang terlibat dalam merokok, meskipun mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang bahaya merokok. Perilaku semacam ini menggambarkan apa yang disebut sebagai disonansi kognitif, yaitu suatu keadaan dimana seseorang memiliki keyakinan atau pengetahuan yang bertentangan dengan perilakunya, dan individu yang seperti ini sangat menarik menjadi subjek untuk diwawancarai.

Sebelum itu, kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan disonansi kognitif. Disonansi kognitif adalah ketidakcocokan antara keyakinan dan Tindakan seseorang. Seseorang yang sadar akan bahaya merokok, tetapi terus merokok, mengalami disonansi kognitif (Festinger, 1957).

Beberapa waktu yang lalu, kami melakukan wawancara dengan individu yang memiliki pengalaman tentang disonansi kognitif dan wawancara ini adalah Langkah pertama untuk memahami fenomena ini secara lebih mendalam. Ketika kami mewawancarai seorang perokok yang memiliki pengetahuan tentang bahaya merokok, subjek menjelaskan bagaimana subjek ini menyadari risikonya. Subjek mengetahui tentang penyakit paru-paru, kanker, dan penyakit jantung yang ditimbulkan akibat bahaya merokok. Namun, subjek tetap melanjutkan perilaku merokok tersebut.

Subjek menyatakan beberapa alasan untuk mendukung perilakunya yang sesuai dengan disonansi kognitif. Salah satunya adalah dalam rokok terdapat adiksi nikotin. Nikotin adalah zat adiktif yang ditemukan dalam rokok, dan setiap kali subjek merokok, nikotin tersebut akan mempengaruhi otak, menciptakan kebutuhan untuk merokok lagi. Bahkan ketika subjek tahu bahwa merokok ini berbahaya, dorongan adiktif ini seringkali lebih kuat daripada pengetahuan subjek tentang risikomya.

Selain itu, ada faktor psikologis yang mendukung peran subjek dalam disonansi kognitif. Subjek yang terus merokok mengandalkan rokok sebagai alat untuk mengatasi stress, kecemasan, atau masalah emosional lainnya. Subjek merasa bahwa merokok memberikan kenyamanan dan ketenangan sementara, meskipun subjek tahu jika konsekuensinya jangka Panjang.

Kesadaran tentang bahaya merokok bukanlah jaminan bahwa seseorang akan berhenti merokok. Disonansi kognitif adalah bentuk ketidakcocokan antara pengetahuan dan perilaku, dan ini adalah fenomena yang kompleks. Agar kita dapat membantu individu-individu ini mengatasi disonansi kognitif mereka dan berhenti merokok, kita perlu melakukan pendekatan yang holistik. Hal ini dapat melibatkan dukungan psikologis, strategi pengendalian dorongan, dan pendidikan yang lebih mendalam tentang bahaya merokok.

 

DAFTAR PUSTAKA

Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.

0 komentar:

Posting Komentar