19.7.22

KEBIJAKAN ORGANISASI: MENURUNKAN POTENSI KARWAYAN?

KEBIJAKAN ORGANISASI: MENURUNKAN POTENSI KARYAWAN?


ESSAY UJIAN AKHIR SEMESTER 2021/2022

PSIKOLOGI INDUSTRI DAN ORGANISASI


DOSEN PENGAMPU: Dr. ARUNDATI SHINTA, M.A


OLEH: ARNOLDINA LEKI (21310410050)


FAKULTAS PSIKOLOGI

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

2022




Kenyataannya, meletakkan potensi pribadi sebagai dasar pengembangan diri bukan hal tabu, yang baru dirundingkan. Secara sadar individu terus menggali kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan. Pentingnya mengelola kemampuan merupakan langkah awal yang patut di afirmasi secara layak. Akan tetapi, kenyataan seperti meletakan diri secara jelas dalam situasi yang kurang tepat. Sering kali kita dihadapkan dalam pilihan-pilihan konkrit dengan buntut peristiwa lainnya. Dengan pengaruh yang membawa kemampuan diri seperti diombang-ambing layaknya mempertanyakan sistem pertahanan. Lantas pilihan apa yang diambil? Sebaik-baiknya upaya konsekuensi tetap menjadi buntut.


Stephen P. Robbins dalam bukunya Perilaku Organisasi (2003:52) merumuskan bahwa kemampuan adalah suatu kapasitas individual untuk menyelesaikan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan tertentu. Demikan, dalam mengelola kemampuan diri sebagian besar kendali berada dalam diri kita. Namun, hal ini tidak luput dari pandangan orang lain bahkan hingga pada keterlibatan yang cukup intens, misalnya relevansi antara individu dan suatu organisasi di tempat ia bekerja, ini merupakan kendala yang secara sadar telah memberi ruang antara proses dan pencapaian. 


Apabila dalam suatu organisasi dengan menyandang gelar S.Psi individu ditempatkan dalam organisasi terbaik yang dipandang sebagai sebuah peruntungan. Setelah beberapa waktu bekerja, untuk terus mengembangkan potensi dan value diri maka individu perlu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka menuntut ilmu. Akan tetapi, relevansi antara kebijakan organisasi dengan individu kurang memungkinkan. Kebijakan organisasi dinilai sangat egois (selfish). Artinya, organisasi tidak bersedia memberi ruang sebagai kesempatan mengelola potensi diri. Kebijakan organisasi cenderung tidak memberi cuti ketika menjalani ujian di kampus, tidak menawarkan beasiswa sebagai salah satu bentuk upaya. Bahkan, tidak peduli dengan keinginan menggali potensi diri. Namun, yang menjadi bentuk keanehnya organisasi bersedia menawarkan promosi karier apabila setelah lulus. Tentu saja, hal ini merupakan tindakan merugikan yang kurang bertanggung jawab. Sudah tidak memberi kemudahan, namun pandai memetik hasil. 


Apa jadinya dengan dunia kerja di masa depan yang terbiasa mendambakan tenaga kerja berkualitas, namun kebijakan organisasi cenderung bersifat egois (selfish)? (Greiner, 1998) merumuskan bahwa organisasi yang berasaskan suatu tim tidak selalu terikat pada formalitas dan sistem yang kaku, namun mampu menyesuaikan diri terhadap kemauan tim dalam batasan tertentu. Dengan demikian, jika organisasi cenderung tidak efektif dalam kebijakannya maka hal itu dapat mengurangi tingkat kepercayaan tenaga kerja atau tim yang ada hingga berpotensi menjadi kaku, baik secara interpersonal maupun intrapersonal dalam organisasi tersebut. Untuk berevolusi menjadi lebih baik, organisasi sebaiknya lebih rasional dalam menerapkan kebijakannya. Sehingga bertindak dengan potensi organisasi yang tidak hanya memandang keuntungan sebagai rotasinya.


Tetap teguh pendirian dalam menuntut ilmu? Atau bersedia mematuhi kebijakan organisasi? Lantas apa pilihan tepat yang harus dilakukan? Pilihan ini tentu menjadi mudah saja apabila individu bersedia memberikan diri untuk semakin berkembang tanpa melihat latar belakang organisasi yang diakui keunggulannya berdasarkan prespektif masyarakat luas. Jika hanya keuntungan dan kualitas yang dipandang organisasi, maka kondisi ini kurang tepat untuk menata karir menjadi lebih baik. Karena individu atau tenaga kerja membutuhkan dukungan yang memadai. Lantas apa yang perlu dipertahankan? Persepktif masyarakat tentang mutu organisasi yang dinilai unggul, namun tidak sesuai dengan harapan? Tentu saja tidak! Oleh karena itu, selama proses pengembangan diri menuju positif masih berada dalam jarak genggaman, maka meninggalkan organisasi adalah pilihan tepat untuk memberi ruang, sehingga secara lebih individu dapat menggali potensi diri dengan ilmu lanjutan atau berpendidikan. Dengan berpendidikan dapat menambah wawasan, meningkatkan keahlian, meningkatkan kesiapan mental untuk berkompetisi dalam dunia kerja dan lain sebagainya. Sehingga, kemampuan individu atau tenaga kerja semakin proper dengan kebutuhan organisasi yang lebih fleksibel dengan bidang yang sesuai.


Untuk itu potensi diri merupakan kemampuan atau kapasitas dalam diri yang dimiliki setiap orang, baik yang belum terwujud maupun yang telah terwujud, akan tetapi belum sepenuhnya tampak atau diaktualisasi secara maksimal oleh diri kita. Sederhananya, mengembangkan potensi diri juga membutuhkan cukup dukungan, jika terkendala beberapa hal yang kurang memungkinkan baik dalam segi lingkungan, sosial, maupun kerabat tentukan pilihan yang bersifat afirmasi. Tidak semua pilihan merugikan jika masih dalam kadar positif, dengan begitu konsekuensi yang ada dijadikan bentuk pembelajaran yang memiliki nilai tersendiri. Apabila dihadapkan pada pilihan untuk tetap mengembangkan potensi diri atau bertahan dalam kondisi kerja di bawah tekanan, maka pilihan tepat adalah terus mengakari potensi diri. Selain mendapatkan manfaat ilmu yang semakin bertambah, dapat menemukan kondisi lingkungan pekerjaan yang lebih memenuhi serta mendukung.



DAFTAR PUSTAKA 


Greiner, L. E. (1998). Evolution and Revolution as Organizations Grow. Harvard Business Review Classic.

Mochammad Al Musadieq, dkk, Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Karyawan (Studi pada Karyawan PT.Telekomunikasi Indonesia Tbk. Kandatel Malang), jurnal administrasi bisnis Volume 16 No. 1

Soehardi. (2003). Esensi Perilalu Organisasional. Bagian Penerbit Fakultas Ekonomi Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta.

Robbins, Stephen, P. (2003). Prinsip-Prinsip Perilaku Organisasi. Erlangga. Jakarta.


0 komentar:

Posting Komentar