20.7.22

KARAKTER KEPEMIMPINAN NICCOLO MACHIAVELLI

 

 

Essay Ujian Akhir Psikologi Sosial

Semester Genap Tahun 2021/2022

Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, MA

Disusun Oleh: Tiyas Wulandari (21310410108)

FAKULTAS PASIKOLOGI

UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

 


            Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memimpin dan mempengaruhi orang lain. Kepemimpinan sering dikaitkan dengan ketrampilan, keckapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang. Kepemimpinan memiliki peran yang sangat penting dalam memimpin dan membawa suatu kelompok kerja kearah yang maksimal. Dalam proses tersebut tentunya juga diperlukan adanya komunikasi yang baik demi mencapai target dan tujuan dari individu, kelompok, dan organiasai.

            Berbicara mengenai kepemimpinan kita tidak bisa lepas dari persoalan manajeman. Gaya kememimpinan atau style of leadership adalah cara seseorang dalam malaksanakan fungsi dan menjalankan manajement kepemimpinan. Terdapat beberapa jenis gaya kepemimpinan dintaranya. Pertama Gaya Kepemimpinan Demokratis, gaya tersebut merupakan suatu kemampuan dalam mempengaruhi orang lain agar dapat bekerjasama dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Gaya kepemimpina demokratis juga sering disebut sebagai gaya yang terpusat pada anggota, yang menganut kesederajatan, kepemimpinan partisipasif atau konsultif. Ciri dari gaya kepemimpinan demokratis pemimpin tidak memiliki wewenang yang mutlak, karena pemimpin melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan dan kebijaakan serta keputusan akhir disepakati bersama.

            Kedua Gaya Kepemimpinan Laissez-faire, gaya kepemimpinan ini pemimpin cenderung pasif, jaranng memberikan arahan, dan sedikit sekali dalam menggunakan kekuasaannya atau sama sekali telah membiarkan anak buahnya untuk membuat keputusan. Gaya ini akan mendorong kemampuan anggota dalam mengambil inisiatif. Interaksi dan kontrol yang telah dilakukan oleh pemimpin tidak sepenuhnya, sehingga gaya tersebut hanya dapat berjalan jika bawahan mampu memperlihatkan tingkat kompetensi dan keyakinan dalam mengejar tujuan dan sasaran yang cukup tinggi. Namun, gaya kepemimpinan ini hamper mirip dengan gaya kepemimpinan demokratis yang keduaya kurang cocok diterapkan pada kondisi yang keritis.

            Gaya kepemimpinan ketiga adalah Birokratis, Gaya kepemimpinan birokratis ditandai dengan adanya keketatan dalam pelaksanaan suatu prosedur yang telah berlaku. Pemimpin membuat segala keputusan berdasarkan dari aturan yang telah berlaku dan tidak ada lagi fleksibilitas. Segala kegiatan yang dilaksanakan terpusat pada pemimpin dan hanya diberi sedikit kebebasan kepada orang lain dalam berkreasi dan bertindak, itupun tak boleh melanggar ketentuan yang sudah berlaku.

Keempat Gaya Kepemimpinan Otoriter/Authotarian, merupakan gaya pemimpin yang telah mengambil secara penuh atas segala keputusan dan kebijakan yang akan dijalani. Semua pembagian tugas dan tanggung jawab akan dipegang oleh pemimpin yang bergaya otoriter tersebut, sedangkan para anggota hanya sekedar melaksanakan tugas yang sudah diberikan. Tipe kepemimpinan ini mengarah kepada tugas. Artinya dengan adanya tugas yang telah diberikan oleh suatu lembaga atau suatu organisasi, maka kebijaksanaan dari lembaganya ini mesti diproyeksikan dalam bagaimana pemimpin memerintah kepada bawahannya agar kebijakan tersebut dapat tercapai dengan baik. Gaya kepemimpinan ini anggota hanya sebagai mesin pengerak sesuai kehendak, dan inisiatif anggota tidak diperhatikan sama sekali.

Berkaitan dengan gaya kepemimpinan juga perlu kita ketahui terdapat beberapa tokoh terkait isu kepemimpinan salah satunya adalah Niccolo Machiavelli penulis buku Il Principe (Sang Penguasa). Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa seseorang yang ingin menjadi penguasa maka ia bisa menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya. Nilai utama yang ditekankan Machiavelli adalah kebutuhan akan stabilitas dalam wilayah seorang penguasa. Pada bab awal buku, Machiavelli mendefinisikan metode-metode pemerintahan yang efektif dalam beberapa bentuk kepenguasaan. Pada bab selanjutnya Machiavelli membahas mengenai pengaturan negara keturunan, dll.

Menganalisis dari buku Il Principe dengan kepemimpinan saat ini, terdapat masalah yang berkaitan. Seorang pemimpin dalam sebuah organisasi yang menerapkan karakter Machiavelli yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Pemimpin yang menjalin hubungann dengan organisasi eksternal dengan mengambil keuntungann dan menamipulasi, kemudian hasilnya diberikan untuk mensejahterakan anggota organisasi (membeli kesetiaan anggota). Sebagai anggota organisasi apakah setuju dengan tindakan pemimpin tersebut?

Menurut pendapat saya sebagai karyawan seharusanya memiliki pendirian yang baik. Selaras dengan gagasan yang diungkapkan oleh Machiavelli, konsep yang digagas Machiavelli bukan hanya soal mendapatkan kekuasaan, tapi lebih jauh ia ingin para penguasa mementingkan kehormatan dan kebahaiaan bangsanya (Ali, 2010:75). Menurut Machiavelli (2005: 56-57) cara licik seperti menipu dan tidak memiliki belas kasihan tentu bisa mendapatkan kekuasaan, tapi tidak dengan kemuliaan. Dengan demikian kita tidak harus melakukan tindakan yang licik untuk mencapai suatau keuntungan, meskipun dengan keuntungan tersebut kehidupan kita dapat terjamin.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mattayang, B. (2019). TIPE DAN GAYA KEPEMIMPINAN: SUATU TINJAUAN TEORITIS. JEMMA: JURNAL OF ECONOMIC, MANAGEMENT AND ACCOUNTING, 2(2). 45-52

Putra, G. F. (2015). EVERYTHING IS PERMITTED: SEBUAH ULASAN SINGKAT IL PRINCIPE KARYA MACHIAVELLI. Jurnal Poetika, 3(1). 75-78

Muhammad, N. A & Hambali, R. Y. (2021). KEJUJURAN DAN ETIKA DALAM KONSEP POLITIK MACHIAVELLI. Jurnal Prespektif, 5(1). 57-73

 

 

0 komentar:

Posting Komentar