9.11.21

KESEHATAN MENTAL

 

KESEHATAN MENTAL

Ujian MID Psikologi Inovasi

Fakultas Psikologi

Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 


Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA.

Ahmad Prasetiyo / 19310410029 / Reguler A

 

Masalah gangguan mental di Indonesia masih sangat tinggi prevalensinya, terutama pada kalangan usia lima belas tahun keatas. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tingkat kecenderungan kasus gangguan kesehatan mental (emosional) yang ditunjukkan melalui gejala seperti depresi dan panik/kecemasan adalah sebanyak 6% pada kalangan 15 tahun keatas (sekitar empat belas juta orang). Jika melihat kasus gangguan schizophrenia terdapat prevalensi sebanyak 1.7 tiap 1000 penduduk atau sekitar 400000 orang (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2008).

Sebelum membahas tentang kesehatan mental, kita perlu memahami pengertian
dari sehat itu sendiri. Sehat menurut World Health Organization (WHO) adalah:

A state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity (WHO, 2001).

WHO memberikan pengertian tentang sehat sebagai suatu keadaan fisik, mental, dan sosial yang lengkap sejahtera dan tidak semata-mata karena tidak adanya penyakit atau kelemahan. Definisi ini semakin menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan. Kesehatan mental juga sangat berhubungan dengan kesehatan fisik dan perilaku. WHO lalu memberikan pengertian tentang kesehatan mental sebagai:

A state of well-being in which the individual realizes his or her own abilities, can cope with normal stresses of life, can work productively and fruitfully, and is able to make a contribution to his or her community (WHO, 2001).

Kesehatan mental merupakan kondisi dimana individu memiliki kesejahteraan yang tampak dari dirinya yang mampu menyadari potensinya sendiri, memiliki kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup normal pada berbagai situasi dalam kehidupan, mampu bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Mengutip dari jargon yang digunakan oleh WHO, thereis no health without mental health menandakan bahwa kesehatan mental perlu dipandang sebagai sesuatu yang penting sama seperti kesehatan fisik. Mengenali bahwa kesehatan merupakan kondisi yang seimbang antara diri sendiri, orang lain dan lingkungan membantu masyarakat dan individu memahami bagaimana menjaga dan meningkatkannya (WHO, 2001).

Meskipun masalah kesehatan mental saat ini banyak ditemui mengganggu orang dewasa seperti depresi, kecemasan, gangguan makan, dan psikosis, namun banyak masalah kesehatan mental tersebut yang sudah memunculkan gejala atau hambatan saat masih anakanak dan remaja (O’Reilly, 2015). Terdapat pula gangguan yang memiliki dasar neurologis yang jelas, seperti Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguang tic, learning disabilities dan lainnya. Kondisi ini hadir dengan berbagai kesulitan yang biasanya hadir dari masa anak-anak yang sangat dini dan memengaruhi perkembangan anak dalam cara-cara tertentu.

Upaya Pemberian Dukungan Kesehatan Mental

Promosi kesehatan mental bertujuan untuk mempromosikan kesehatan mental yang positif. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatan kesejahteraan psikologis, kompetensi, ketahanan manusia, serta menciptakan kondisi dan lingkungan hidup yang mendukung (WHO, 2002). Promosi kesehatan mental dapat dilakukan dengan mengumpulkan data terkait insidensi gangguan tersebut supaya masyarakat meningkat kesadarannya dan mendapat pengetahuan terkait permasalahan. Selain itu, tindakan pemeliharaan lingkungan hidup seperti pemeliharaan kesehatan dan kebugaran badan, pemeliharaan masa kehamilan khususnya pada masa prenatal dan pascanatal serta gizi makanan penting dilakukan. Perubahan gaya hidup seperti nutrisi yang baik, olahraga dan tidur yang cukup dapat mendukung kesehatan mental (Herrman, et al., 2005).

Pemerintah dapat memberikan kebijakan terkait perlindungan serta peningkatan kualitas hidup, seperti meningkatkan pemberian dan penyebaran makanan yang bernutrisi, hunian rumah yang nyaman serta akses untuk mendapat pendidikan yang memadai. Hal tersebut tentu berkaitan pula dengan kondisi perekonomian serta jaringan komunitas yang ada.

Dalam memperingati World Mental Health Day yang jatuh pada tanggal 10 Oktober, Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia mengadakan lomba poster dan video reels dengan tema “Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Mental. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya turut berkontribusi dalam mengikuti lomba poster. Walaupun belum terlalu menguasai skill pembuatan poster yang baik dan benar. Saya nekat untuk mencobanya. Prinsip saya yaitu “coba dulu, untuk hasil serahkan kepada Tuhan”. Berikut adalah karya poster yang saya buat :

 


Dalam pembuatan poster tersebut saya menggunakan Microsoft Word. Alasannya adalah karena saya sudah sangat familiar dengan Microsoft Word. Selain itu, saya rasa pengoperasiannya Microsoft Word sangatlah mudah. Dengan sabar saya mencoba untuk mendesain poster tersebut. Memang poster yang saya buat terlihat tidak se-keren poster yang lain. Namun, dalam proses pembuatannya juga memerlukan waktu yang tidak sedikit. Poster yang saya buat tersebut lebih banyak menggunakan bentuk persegi panjang. Alasan saya menggunakan bentuk persegi panjang adalah agar memudahkan dalam menuliskan kalimat di dalam bentuk tersebut dan bentuk persegi panjang juga saya rasa adalah bentuk yang simple. Selanjutnya saya tambahkan dengan 2 gambar manusia dengan emot smile. Tujuannya adalah mengajak para pembaca agar selalu tetap tersenyum dan bersyukur dalam keadaan apapun.

Saya juga menambahkan seperti bentuk pita yang menjadi pembatas berwarna biru. Biru itu adalah warna kesukaan saya. Warna biru juga dapat memberikan kesan tenang, terpercaya, ilmu dan wawasan. Saya tuliskan 4 Tips Menjaga Kesehatan Mental yaitu : Fokuslah pada dirimu, emukan cara baru untuk berkomunikasi, salami perasaanmu dan berbaik hatilah pada diri sendiri dan orang lain. Di bagian pojok kanan bawah poster, saya tambahkan kalimat “Kalau sudah merasakan kejenuhan, cara ampuh mengatasinya adalah berusaha mencari kegiatan positif untuk menghibur diri”. Hal ini saya tunjukkan kepada teman-teman yang memang merasa sudah mengalami gangguan mental yang masih tingkat wajar seperti sedih, merasa cemas dan merasa stress. Dengan kalimat tersebut saya mengajak teman-teman untuk tetap membuat diri terhibur dengan cara mencari kegiatan positif. Misalnya adalah ketika sudah merasa stress karena adanya tekanan tugas kuliah, cobalah untuk mencari waktu luang untuk pergi piknik ke pantai atau ke tempat yang disukai atau bisa saja ikut pengabdian di masyarakat.

Saya berharap poster yang saya buat dapat memberikan dampak positif dan memberikan pengetahuan kepada kita semua akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Saya sangat senang bisa ikut lomba poster ini. Walaupun belum rejeki saya untuk menjadi pemenang, namun saya tetap bangga dengan diri saya. Menurut saya bukan diliat dari hasilnya nanti, namun proses yang saya lakukan sekarang. Semoga kedepannya nanti saya bisa memenangkan lomba-lomba yang lain.






Daftar Pustaka :       

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2008). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Herrman, H., et al. (2005). Promoting Mental Health: Concepts, Emerging Evidence, Practice. A
Report of the WHO.
Geneva: World Health Organization.

O’Reilly, M & Lester, J.N. (2015). The Palgrave Handbook of Child Mental Health. UK: Pagrave
Macmillan

WHO. (2001). Basic documents, 43rd Edition. Geneva: World Health Organization.

WHO. (2002). Prevention and promotion in mental health. Mental health: evidence and research.
Geneva: Department of Mental Health and Substance Dependence.

0 komentar:

Posting Komentar