7.1.21

Body Shame remaja di jejaring sosial

 

Ujian Akhir Psikologi Sosial 2

Dosen Pengampu :  Dr. Arundati Shinta, MA.

Herlinda Desi Anggraini/19310410008

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

 

 

            Interaksi manusia pada masa kini sudah sangat dimudahkan karena adanya teknologi. Tanpa harus tatap muka secara langsung, manusia dapat berhubungan melalui jejaring sosial. Pada masa kini yang sering menggunakan jejaring sosial adalah kaum remaja. Menurut Djamarah (2002) dalam Yunistiati, F., Djalali, M., & Farid, M. (2014) remaja adalah suatu stadium dalam siklus perkembangan anak berada dalam rentangan usia 12 sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai dengan 23 bagi pria yang dikenal sebagai masa pencarian identitas diri. Kartono (1995) dalam Yunistiati, F., Djalali, M., & Farid, M. (2014) berpendapat pula bahwa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Dikatakan pula bahwa remaja dalam periode ini masuk kepada periode transisi mengalami perubahan-perubahan yang besar dan esensial baik secara biologis, psikologis, sosial dan ekonominya.

Pada masa peralihan tersebut jejaring sosial akan sangat mempengaruhi perkembangan pada masa remaja. Akan ada dampak baik dan juga dampak buruk. Dampak baik dari penggunaan jejaring sosial salah satunya adalah remaja mampu memanfaatkan untuk mengakses pendidikan dengan mudah. Dampak buruk dari penggunaan jejaring sosial salah satunya adalah untuk ajang “pamer” dan persaingan yang melibatkan fisik. Hal tersebut yang akan membuat perkembangan pada masa remaja terganggu. Biasanya, remaja menggunakan jejaring sosial dan juga mempergunakannya untuk photo sharing. Aplikasi yang menunjang photo sharing salah satunya adalah instagram. Dari aplikasi tersebut remaja biasanya mulai membandingkan bentuk tubuhnya sendiri dengan remaja lain. Hal tersebut sering disebut dengan body shame. Body shame merupakan penilaian individu akan tubuhnya yang memunculkan perasaan bahwa tubuhnya memalukan yang disebabkan penilaian dirinya dan orang lain terhadap bentuk tubuh ideal tidak sesuai dengan tubuhnya (Damanik 2018:14 dalam Sakinah 2018).

Body Shame tersebut akan mempengaruhi interaksi sosial remaja di jejaring sosial maupun pada saat interaksi tatap muka. Ketika remaja merasa tidak percaya diri akan bentuk tubuhnya, ia akan semakin menghindari interaksi sosial baik pada jejaring sosial maupun di dunia nyata. Menurut Xiao, A. (2018) tidak jarang disebutkan bahwa seseorang akan menjadi sulit untuk bertahan hidup, apabila ia tidak menjalin interaksi dengan seorang individu lainnya. Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian utama. Peran orang tua akan sangat berpengaruh ketika mendampingi remaja yang tidak percaya diri pada bentuk tubuhnya.

Jadi, peran orang tua dalam pendampingan remaja ketika menggunakan jejaring sosial sangatlah penting untuk menyelesaikan tugasnya pada masa remaja. Menurut Hurlock (1980) dalam Yunistiati, F., Djalali, M., & Farid, M. (2014) mengemukakan bentuk dan tugas perkembangan remaja adalah mencapai hubungan baru yang lebih matang dengan teman sebaya baik pria maupun wanita dalam mencapai peran sosial, menerima keadaan fisik dan menggunakan tubuhnya secara efektif. Orang tua bisa membantu anaknya yang sedang memasuki masa remaja dengan cara mengontrol penggunaan jejaring sosial, dan mengarahkan anak agar menggunakan jejaring sosial ke arah yang positif. Selain itu, juga bisa mendorong anak yang sedang memasuki masa remaja ini agar lebih percaya diri akan bentuk tubuhnya dan berhenti membandingkan bentuk tubuhnya dengan remaja lain baik melalui jejaring sosial atau secara langsung. 

 

 

Referensi      :

 

Sakinah. (2018). “Ini Bukan Lelucon”: Body Shaming, Citra Tubuh, Dampak dan Cara Mengatasinya. Jurnal Emik, 1, 53–67.

 

Yunistiati, F., Djalali, M., & Farid, M. (2014). Keharmonisan Keluarga, Konsep Diri dan Kenakalan Remaja. Persona:Jurnal Psikologi Indonesia, 3(02), 71-82.

 

Xiao, A. (2018). Konsep interaksi sosial dalam komunikasi, teknologi, masyarakat. Jurnal Komunika : Jurnal Komunikasi, Media Dan Informatika, 7(2), 94-98.

6 komentar:

  1. Artikelnya sangat bagus, sangat bermanfaat, terima kasih sudah berbagi tentang body shaming di artikel ini🙏

    BalasHapus
  2. Benar sekali, saya sangat setuju dengan apa yang dikemukakan oleh mbak Herlinda. Terimakasih, artikelnya sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
  3. Mantap kak. Suksek selalu

    BalasHapus