29.12.20

 Teori Abert Bandura


Windyangreni Mika

                                        19310410047

Dosen pembimbing: Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A.


    Bagi Bandura, walaupun prinsip belajar cukup untuk menjelaskan dan meramalakan perubahan tingkah laku, prinsip itu harus memperhatikan dua fenomena penting yang diabaikan atau ditolak oleh paradigma bahaviorisme.

   Pertama, Bandura berpendapat bahwa manusia dapat berfikir dan mengatur tingkah laku sendiri; sehingga mereka bukan bidak-bidak yang menjado obyek pengaruh lingkungan. Sifat kausal bukan dimiliki sendirian oleh karena lingkungan, karena orang dan lingkungan saling mempengaruhi.

    Kedua, Bandura menyatakan, banyak aspek fungsi kepribadian melibatkan interaksi orang yang satu dengan yang lain. Teori belajar sosial (social learning theoty) dari Bandura, didasarkan pada konsep saling menentukan (reciplocal determinism), tanpa pegaruh (beyond reinforcement), dan pengaturan diri/berfikir (self regulation/congnition)

Determinis resiprokal: yang menjelaskan tingka laku dalam bentuk interaksi                                              timbal-balik yang terus menerus antara determinan kognitif, bahavioral dan lingkungan. Determinis resiprokal adalah konsep yang penting dalam teori belajar sosial Bandura, menjadi     pijakan Bandura dalam memahami tingka laku. Teori belajar sosial memakai saling-determinis prinsip dasar untuk menganalisis fenomena psiko-sosial di berbai tingkat kompleksitas, dan perkembangan intrapersonal sampai tingkah laku interpersonal serta fungsi interaktif dari organisasi dan sistem sosial.

Tanpa reinforsemen: Bandura memandang teori skinner dan Hull terlalu bergantung pada       reinforsemen. Menurutnya, reinforsemen penting dalam menentukan apakah suatu tingkahlaku akan terus terjadi atau tidak, tetapi bukan itu satu-satunya pembentuk tingkalaku. Orang dapat belajar melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa yang dilihatnya. Belajar melalui opservasi tanpa ada reinforsemen yang terlibat, berarti tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi, itu merupakan pokok teori belajar sosial.

Kongnisi dan regulasi diri: teori belajar tradisional sering terhalang oleh ke-tidak senangan atau ketidak mampuan mereka untuk menjelaskan proses kognitif. Konsep Bandura menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur diri sendiri (self regulation), mempengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan, menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkalakunya sendiri.

Sistem Self (self system)

    Tidak seperti skinner yang teorinya tidak memiliki konstruk self, Bandura yakin bahwa pengaruh yang ditimbulkan oleh self sebagai salah satu determinan tingkah laku tidak dapat dihilangkan tanpa membahayakan penjelasan dan kekuatan peramalan. Dengan kata lain, self sebagai unsur struktur kepribadian. Saling determinis menempatkan semua hal saling berinteraksi, dimana pusat atau pemula-nya adalah sistem self. Sistem self itu bukan unsur psikis yang mengontrol tingkah laku, tetapi mengacu kestruktur kognitif yang memberi pedoman mekanisme dan seperangkat fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan pengaturan tingkah laku.

Regulasi Diri

    Menurut Bandura, akan terjadi strategi reaktif dipakai untuk mencapai tujuan, namun ketika tujuan hampir tercapai strategi proaktif menentukan tujuan baru yang lebih tinggi. Orang memotivasi dan membimbing tingkahlakunya sendiri melalui strategi proaktif, menciptakan ketidak seimbangan, agar dapat memobalisasi kemampuan dan usahanya berdasarkan antisipasi apa saja kebutuhan untuk mencapai tujuan. Ada tiga proses yang dapat dipakai untuk melakukan pengaturan diri: memanipulasi faktor eksternal, memonitor dan mengevaluasi tingkahlaku internal. Tingkah laku manusia adalah hasil pengaruh resiplokal faktor eksternal dan faktor internal itu.

Faktor Eksternal dalam Regulasi Diri

   Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua cara, pertama faktor eksternal memberi standar untuk megevaluasi tingkahlaku. kedua, faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk penguatan (reinforcement). 

Faktor Internal dalam Regulasi Diri

   Faktor eksternal berinteraksi dengan faktor internal dalam pengaturan diri sendiri. Bandura mengemukakan tiga bentuk pengaruh internal

Observasi diri (Self Observasi): dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilalan, kuantitas penampilan, orisinalitas tingkah laku diri, dan seterusnya.

Proses penilaian atau mengadili tingkah laku (judgmental process): adalah melihat kesesuaian tingkah laku dengan standar pribadi, membandingkan tingkah laku dengan norma standar atau dengan tikah laku orang lain, menilai berdasarkan pentingnya suatu aktivitas, dan memberi atribusi performansi.

Reaksi-diri-afektif (self response) : akhirnya berdasarkan pengamatan dan judgement    itu, orang mengevaluasi diri sendiri positif atau negatif, dan kemudian menghadiai atau    menghukum.

Efikasi Diri (Self Effiication)

       Bagaimana orang bertingkahlaku dalam situasi tertentu tergantung kepada resiplokal antara lingkungan dan kondisi kognitif. Khususnya faktor kognitif yang berhubungan dengan keyakinannya bahwa dia mampu atau tidak mampu melakukan tindakan yang memuaskan. Bandura menyebut keyakinan atau harapan diri ini sebagai efikasi diri, dan harapan hasilnya disebut ekspektasi hasil.

Efikasi diri atau efikasi ekspektasi (self effication – expectation) adalah “Presepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu.” 

Ekspektasi hasil (outcome expectations): perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah   laku diri itu akan mencapai hasil tertentu.

Ekspektasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuatu dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi menggambarkan penilaian diri. Orang yang ekspektasunya tinggi (percaya bahwa dia dapat mengerjakan sesuai dengan tuntutan situasi) dan dan harapan hasilnya realistik (memperkirakan hasil sesuai dengan kemampuan diri), orang itu akan berkerja keras dan bertahan mengerjakan tugas sampai selesai.

Sumber Efikasi Diri

     Perubahan tingka laku, dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahanekspektasi efikasi (efikasi). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau empat sumber, yakni pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment), pengalaman vikarius (vicarius experience), persuasi sosial (social persuation) dan pembangkitan emosi (emotionall physiological states).

Pengalaman performansi

    Adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang lalu. Mencapai keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya:

  Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi.

Kerja sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibandingkan kerja kelompok, dibantu orang   lain.

  Kegagalan menurunkan efikasi, kalau orang merasa sudah berusaha sebaik mungkin.

Kegagalan dalam suasana emosional/stres, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya      optimal

Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinannya efikasinya belum kuat.

Orang yang bisa berhasil, sesekali gagal tidak mempengaruhi efikasi.

Pengalaman Vikarius

     Diperoleh melalui modal sosial. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kemampuannya kira-kira sama dengan dirinya ternyata gagal.

Persusai Sosial

     Efikasi juga Dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi sosial. Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri.


Keadaan Emosi

     Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi dibidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas, stres, dapat mengurangi efikasi diri. Namun bisa terjadi, peningkatan emosi (yang tidak berlebihan) dapat meningkatkan efikasi diri.


Efikasi Diri sebagai Prediktor Tingkalaku

     Menurut Bandura, sumber pengontrol tingkahlaku adalah resiprokal antara lingkungan, tingkahlaku dan pribadi. Efikasi dari merupakan variabel pribadi yang penting, yang kalau digabung dengan tujuan-tujuan spesifik dan pemahaman mengenai prestasi, akan menjadi penentu tingkahlaku mendatang yang pertama. Setiap individu mempunyai efikasi diri yang berbeda-beda pada situasi yang berbeda, tergantung kepada:

Kemampuan yang dituntut oleh situasi yang berbeda itu.

Kehadiran orang lain, khususnya saingan dalam situasi itu.

Keadaan fisiologi dan emosional; kelelahan, kecemasan, apatis, murung.

Efikasi Kolektif (Collective Efficacy)

     Bandura berpendapat, orang berusaha mengontrol kehidupan dirinya bukan hanya melalui efikasi dari individual, tetapi juga melalui efikasi kolektif. Efikasi diri dan efikasi kolektif bersama-sama saling melengkapi untuk mengubah gaya hidup manusia. Efikasi kolektif timbul berkaitan dengan masalah-masalah perusakan hutan, kebijakan perdagangan, perusakan ozone, kemajuan teknologi, hukum dan kejahatan, birokrasi, perang, kelaparan, bencana alam, dan sebagainya.

Menurut Bandura, motivasi adalah konstruk kognitif yang mempunyai dua sumber, gambar pada masa yang akan datang (yang dapat menimbulkan motivasi tingkah laku saat ini), dan harapan keberhasilan didasarkan pada pengalaman menetapkan dan mencapai tujuan-tujuan antara. Dengan kata lain, harapan mendapat reinforsemen pada masa yang akan datang memotivasi seseorang untuk bertingkah laku tertentu.

      Bandura setujuh bahwa penguatan menjadi penyebap belajar. Namun orang juga dapat belajar dengan penguat yang diwakilkan (vicarious reinforcement), penguat yang ditunda (expectation reinforcement), atau bahkan tanpa penguat (beyond reinforcement):

Penguatan Vikarius (Vicarious reinforcement): mengamati orang lain yang mendapat penguatan, membuat orang ikut puas dan berusaha belajar gigih agar menjadi orang seperti itu

Penguatan yang ditunda (expectation reinforcement): orang terus menerus berbuat tanpa mendapat penguatan, karena yakin akan mendapat penguatan yang sangat memuaskan pada masa yang akan datang

Tanpa penguatan (beyond reinforcement): belajar tanpa reinforsemen sama sekali, mirip dengan konsep otonomi fungsional dari allport.


 Ekspektasi peguatan dapat dikembangkan dengan mengenali dampak dan tingkah laku; pengamatan terhadap praktek mengganjar dan menghukum tingkah laku orang lain yang ada dilingkungan sosial, dan mengganjar dan menghukum tingkah lakunya sendiri. penerimaan dan kritik sangat besar perannya dalam membimbing tingkahlaku, sehingga tingkah laku orang menjadi tetap (konsisten), tidak terus menerus berubah akibat adanya perubahan sosial.

Belajar Melalui Observasi

     Menurut Bandura, kebanyakan belajar terjadi tanpa reinforsemen yang nyata. Dalam penelitiannya, ternyata orang dapat mempelajari respon baru dengan melihat respon orang lain, bahkan belajar tetap terjadi tanpa ikut melakukan hal yang dipelajari itu, dan model yang diamatinya juga tidak mendapat reinforsemen dari tingkahlakunya. Melalui observasi orang dapat memperoleh respon yang tidak terhingga banyaknya, yang mungkin diikuti dengan hubungan atau penguatan.

Peniruan (Modelling)

     Inti belajar melalui observasi adalah modeling. Peniruan atau meniru sesungguhnya tidak tepat untuk mengganti kata modeling, karena modeling bukan sekedar menirukan atau mengulangi apa yang dilakukan orang model (orang lain), tetapi modeling melibatkan penambatan dan atau pengurangan tingkahlaku yang teramati, menggeneralisir berbagai pengamatan sekaligus, melibatkan proses kognitif.

Modeling Tingkahlaku Baru

     Melalui modeling orang dapat memperoleh tingkahlaku batu, ini dimungkinkan karena adanya kognitif. Stimuli berbentuk tingkah laku model ditransformasi menjadi gambaran mental, dan yang lebih penting lagi ditransformasi menjadi simbol verbal yang dapat diinginkan kembali suatu saat nanti. Ketrampilan kognitif yang bersifat simbolik ini, membuat orang dapat menttransform apa yang dipeajari atau menggabung-gabung apa yang diamatinya dalam berbagai situasi menjadi pola tingkah laku baru.

Modeling Mengubah Tingkahlaku Lama

     Disamping damapak mempelajari tingkah laku baru, modeling mempunyai dua macam dampak terhadap tingkah laku. Pertama, tingkahlaku model yang diterima secara sosial dapat memperkuat respon yang sudah dimiliki pengamat. Kedua, tingkahlaku model yang tidak diterima secara sosial dapat memperkuat atau memperlemah pengamat untuk melakukan tingkah laku yang tidak diterima secara sosia, tergantung apakah tingkah laku model itu diganjar atau dihukum.


Modeling Simboik

      Dewasa ini sebagian besar modeling tingkah laku berbentuk simbolik. Film dan televisi menyajikan contoh tingkahlaku yang takterhitung yang mungkin mampu mempengaruhi pengamatnya. Sajian itu berpotensi sebagai model tingkah laku.


Modeling Kondisioning

      Modeling dapat digabung dengan kondisioning klasik menjadi kondisioning klasik vikarius (vicarious classical conditioning). Modeling semacam ini banyak dipakai untuk mempelajari respon emosional. Pengamat mengobservasi model tingkahlaku emosional yang mendapat penguatan.

Faktor-faktor Penting dalam Belajar Melalui Observasi

      Menurut Bandura, ada empat proses yang penting agar belajar melalui observasi dapat terjadi, yakni :

Perhatian (attention process): Sebelum meniru orang lain, perhatian harus dicurakan ke orang itu.

Representasi (representation process): tingkahlaku yang akan ditiru, harus disimbolisasikan dalam ingatan. 

Peniruan tingkahlaku model (behavior production process): sesudah mengamati dengan penuh perhatian, dan memasukkan ke dalam ingatan, orang lalu bertingkahlaku. Dan memasukkan ke dalam ingatan, orang lalu bertingkahlaku.

Motivasi dan penguatan (motivation and reinforcement process): belajar melalui pengamatan menjadi efektif kalau pembelajar memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat melakukan tingkahlaku modelnya.

Dampak Belajar

     Setiap kali respon dibuat, akan diikuti dengan berbagai konsekuensi; ada yang  konsekuensinya menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan, ada yang tidak masuk kekesadaran sehingga dapaknya sangat kecil. Konsekuensi dari suatu respon mempunyai tiga fungsi:

Pemberi infotmasi: memberi informasi mengenai dampak dari tingkahlaku, informasi ini dapat disimpan untuk dipakai membimbing tingkalaku pada masa yang akan datang

Memotivasi tingkahlaku yang akan datang: Menyajikan data sehingga orang dapat membayangkan secara simbolik hasil dari tingkahlaku yang akan dilakukannya, dan bertingkahlaku sesuai dengan peramalan-peramalan yang dilakukannya.

Penguat tingkahlaku: Keberhasilan akan menjadi penguat sehingga tingkahlaku menjadi berpeluang diulang, sebaliknya kegagalan akan membuat tingkahlaku cenderung tidak diulang.

Psikopatologi

      Bandura sependapat dengan Eysenck dan Wolpe bahwa terapi tingkahlaku dapat efektif mengurangi reaksi kecemasan. Dia tidak percaya bahwa tekanan emosional menjadi elemen kunci penyebap reaksi takut yang berlebihan, sehingga harus dihilangkan agar tingkahlaku berubah. Menurutnya, masalah pokonya adalah orang percaya bahwa dirinya tidak dapat menangani situasi tertentu secara efekti. Karena itu perlu dikembangkan self-efficacy, agar terjadi perubahan tingkah laku. Tingkahlaku patogis itu dipengaruhi oleh faktor kognitif, proses neurofifiologis, pengalaman masa lalu yang mendapat penguatan, dan nilai fasilitatif dari lingkungan.

Reaksi depresi: Standar pribadi dan tujuan penetapan tujuan yang terlalu tinggi, membuat orang rentan mengalami kegagalan, dan akan berakibat orang megalami depresi. Sesudah dalam keadaan depresi, orang cenderung menilai rendah prestasi dirinya, sehingga “keberhasilan” tetap dipandang kegagalan.

Fobia: Perasaan takut yang kuat dan mendalam, sehingga berdampak buruk terhadap kehidupan sehari-hari seseorang. Begitu mendalam perasaan takut itu, sehingga obyek penyebapnya menjadi kabur, obyek itu digeneralisasikan secara salah.

Agresi: Menurut Bandura, angresi diperoleh melalui pengamatan, pengalaman langsung dengan reinforsemen positif dan negatif, latian atau perintah, dan keyakinan yang ganjil (bandingkan dengan Freud dan dan kawan-kawannya yang menganggap agresi adalah dorongan bawaan).

Psikoterapi

       Secara umum,terapi yang dilakukan Bandura adalah terapi kognitif-sosial. Tujuannya untukmemperbaiki regulasi sel, melalui pengubahan tingkahlaku dan mempertahankan perubahan tingkahlaku yang terjadi. Ada tiga tingkatan keefektifan suatu tritmen yakni; tingkat induksi perubahan, generalisasi, dan pemeliharaan.

Tingkatan Induksi Perubahan: Tritmen dikatakan efektif kalau dapat mengubah tingkahlaku. Misalnya terapi menghilangkan takut ketinggian penderita akrofobia, sehingga dia berani naik tangga yang tinggi.

Tingkat Generalisasi: Tritmen yang lebih tinggi, memungknkan terjadinya generalisasi. Penderita akrofobia itu bukan hanya berani naik tangga, dia juga berani naik lift, naik kapal terbang, dan membersihkan kaca gedung bertingkat.

Tingkat Pemeliharaan: Sering terjadi tingkahlaku positif hasil terapi berubah kembali menjadi tingkahlaku negatif (khususnya tingkahlaku habit negatif, merokok, alkohol, narkotika). Terapi mencapai tingkat efektif yang tertinggi kalau hasil induksi dan generaslisai dapat terpelihara, tidak berubah menjadi negatif.

      Bandura mengusulkan tiga macam pendekatan tritmen, yakni; latihan penguasaan (desensitisasi modeling), modeling terbuka simbolik.

Latihan penguasaan (desensitasi modeling): Mengajari klien untuk menguasai tingkahlaku yang sebelumnya tidak bisa dilakukan (misalnya karena takut).

Modeling terbuka (modeling partisipan): Klien melihat model nyata, biasanya diikuti dengan klien berpartisipasi dalam kegiatan model, dibantu oleh modelnya meniru tingkahlaku yang dikehendaki, sampai akhirnya mampu melakukan sendiri tanpa bantuan

Modeling simbolik: Klien melihat model dalam film, atau gambar/cerita. Kepuasan vikarious (melihat model mendapat penguatan) mendorong klien untuk mencoba/meniru tingkahlaku modelnya.

Metodologi

      Bandura banyak meneliti masalah dunia nyata dalam laboratorium, seperti masalah agresi, fobia, penyembuhan dari serangan jantung, perolehan kemampuan matematik pada anak. Tujuan pokoknya adalah untuk menyatukan kerangka konseptual yang dapat mencakup berbagai hal yang mempengaruhi perubahan tingkahlaku.Bandura mengembangkan microanaiytic approach: riset yang mementingkan asesmen yang ditil sepanjang waktu untuk mencapai keselarasan antara persepsi diri dengan tingkah laku pada setiap tahapan performansi tugas.

Referensi:

Alwisol (2009). Psikologi Kepribadian, Edisi Revisi. Malang : UMM Press (diakses pada 28 Dsember 2020)

0 komentar:

Posting Komentar