19.10.20

REVIEW JURNAL : RESILIENSI PADA REMAJA JAWA

            

TUGAS PSIKOLOGI INOVASI

 Fadilaturochman Tririzki permana

NIM :183104101189

 Dosen Pengampu:Dr.Arudanti Shinta,MA.

Falkutas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Topik

Resiliensi pada Remaja Jawa

Sum-
ber

Ruswahyuningsih, M.C. Dan Tina Afiatin. (2015). Resiliensi Pada Remaja JawaGadjah Mada Journal Of Psychology. Volume 1, No. 2 , Hal 95-105.

Teori

·       Anak diharuskan menurut untuk memenuhi target orangtua, sehingga anak menjadi sangat tertekan dan kemudian dapat melakukan tindakan bunuh diri (Suryani, 2008).

·       Menurut Papalia, Olds dan Fieldman (2004), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 tahun atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

·       Dalam perkembangannya, remaja mempunyai tugas-tugas perkembangan yang harus dihadapi dengan melakukan penyesuaian diri yang baik agar tidak menimbulkan permasalahan dan hambatanhambatan dalam perkembangan remaja selanjutnya (Huvighurst, 1972).

·       Salah satu kualitas pribadi yang dibutuhkan dalam penyesuaian diri yang efektif adalah resiliensi (Retnowati, 2005 dalam Utami, 2009).

·       Menurut Arnett (1999) ada tiga aspek kesulitan yang menandainya periode masa remaja adalah: konflik dengan orang tua, perubahan emosi, dan munculnya perilaku berisiko.

·       Resiliensi mempunyai pengertian sebagai suatu kemampuan untuk bangkit kembali (to bounce back) dari pengalaman emosi negatif dan kemampuan untuk beradaptasi secara fleksibel terhadap permintaan-permintaan yang terus berubah dari pengalaman-pengalaman stres (Ong dkk., 2006; Tugade & Fredericson, dkk., 2003).

·        Mackay dan Iwasaki (Yu & Zhang, 2007) menyatakan bahwa individu yang memiliki kemampuan resilien, sebagai berikut: (a) Individu mampu untuk menentukan apa yang dikehendaki dan tidak terseret dalam lingkaran ketidakberdayaan; (b) Individu mampu meregulasi berbagai perasaan terutama perasaan negatif yang timbul akibat pengalaman traumatik; dan (c) Individu mempunyai pandangan atau kemampuan melihat masa depan dengan lebih baik.

·       Konflik yang terjadi dalam keluarga merupakan konflik dalam kehidupan yang dianggap paling berat), karena kondisi keluarga termasuk didalamnya konflik yang terjadi akan memberikan pengaruh yang signifikan dengan perkembangan kepribadian anak (Aunillah & Moordiningsih, 2010).

Per-
masa-
lahan

·       Ditemukan kasus bunuh diri, depresi, kenakalan dan tindakan patologis yang banyak dilakukan oleh anak dan usia produktif, sebagai adanya penurunan atau degradasi mental pada remaja usia produktif.

·       Perkembangan teknologi yang semakin maju serta kenikmatan hidup ditawarkan dimana-mana, membuat anak kurang memiliki daya juang untuk mencapai sesuatu.

·       Sikap orang tua yang menanamkan kedisiplinan menjadi pisau bermata dua bagi perkembangan reja itu sendiri.

Me-
tode

·       Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan tipe fenomenologi.

·       Responden penelitian ini, adalah remaja Jawa berusia 16 tahun sampai 21 tahun.

·       Sampel diperoleh menggunakan teknik purposive sampling

·       Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara terbuka, dan wawancara non formal.

·       Analisis data dilakukan melalui hasil wawancara terbuka, terkumpul data yang berbentuk deskriptif.

Hasil pene-
litian

·       Remaja Jawa terbukti mempunyai kemampuan mengembangkan emosi positif dan kontrol diri yang baik.

·       Kemampuan remaja untuk memaknai kejadian dan peristiwa-peristiwa hidup yang dialaminya (permasalahan keluarga) membuat remaja tidak terpuruk dan larut dalam kesengsaraannya.

·       Remaja Jawa dapat menerima segala yang terjadi sebagai suatu yang memang harus diterima, dan mereka menjadikannya sebagai suatu pengalaman dan proses pembelajaran dalam hidup (narima).

·       Dukungan keluarga diperoleh remaja Jawa melalui adanya persepsi positif dan adanya rasa hormat remaja pada orang-tua dan keluarga, sehingga remaja mampu memaknai situasi dan kondisi keluarga yang terjadi, untuk kemudian mengelola emosi dan bersama-sama bangkit dari kesulitan-kesulitan yang ada.

·       Sikap rila, nrima, sabar membuat remaja mampu memaknai kejadian yang harus dihadapinya, sehingga ia mampu melakukan strategi coping yang tepat bagi dirinya.

·       Teman sebaya adalah tempat berbagi, masalah, pemberi saran dan informasi bagi remaja Jawa.

·       Faktor religiusitas dirasakan sangat besar pengaruhnya bagi para remaja terutama dirasakan dalam keadaan sulit yang menekan, namun tak lupa juga bersyukur disaat bahagia.

·       Remaja Jawa mampu memanfaatkan sumber-sumber resiliensi baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari lingkungan diluar dirinya, sekalipun hidup dalam lingkungan yang berisiko.

Dis-
kusi

·       Sikap dan perilaku resiliensi remaja Jawa dipengaruhi oleh kemampuan pribadi remaja, faktor religiusitas, dan lingkungan. Sinergi dari ketika hal itu merupakan sumber dari resiliensi remaja jawa.

·       Resiliensi muncul karena individu mengalami tekanan yang mengancam psikologisnya untuk mendapatkan kebahagiaan.

·       Kebahagian ini adalah tujuan hidup seperti kesuksesan, kebahagiaan orang tua, kualitas hidup yang lebih baik, semangat, dan perencanaan masa depan yang baik.

  Kelemahan penelitian ini ada 3 yakni :

1) meski tidak ada batas minimal namun jumlah sampel yang di teliti oleh peneliti hanya tiga orang yang digunakan untuk mengambil kesimpulan mewakili semua remaja jawa.

2) tidak disebutkan jenis kelamin pada sample yang diteliti

3) Peneliti juga tidak memberi gambaran tentang dukungan sosial dari lingkungan pada masing-masing sampel

0 comments:

Post a Comment