3.10.20

KETIKA TERDAPAT SI PENGADU DI DALAM SUATU KELOMPOK SOSIAL

 

Dampak Adanya Anggota Kelompok yang Suka Mengadu pada Pimpinan

Andi Purnawan/19310410002

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45

Yogyakarta

Dosen Pembimbing: Dr. Arundati Shinta, MA.

(Sumber Gambar : Liputan6.com)

Bekerja merupakan suatu kelaziman bahkan sudah menjadi suatu tuntutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbagai pekerjaan dilakukan baik yang bersifat individu maupun kelompok yang tentunya bergabung dalam suatu perusahan atau  instansi baik negeri maupun swasta. Jika berbicara soal perusahaan, seseorang yang bergabung tentu berstatus sebagai karyawan. Sebagai karyawan, tentu seseorang tidak bisa bekerja dengan sendirinya. Setiap hari berinteraksi dan melakukan kerja sama untuk menjalankan operasional perusahaan sesuai dengan divisi masing-masing.

Berinteraksi dengan berbagai rekan kerja tentu dapat semakin mengenal bermacam karakter dan sikap kerja masing-masing dari mereka. Tidak bisa dipungkiri, model rekan kerja ”penjilat” atau yang sering dikenal sebagai si tukang mengadu dapat dijumpai di tempat dimana kita mencari penghasilan. Model rekan kerja seperti itu sangat tidak sehat bagi keberlangsungan kinerja karyawan yang lainnya. Sebab, tujuan dari si penjilat tadi bersifat individualis. Tujuan rekan kerja tersebut ingin mendapat perhatian lebih dan terlihat menonjol di antara rekan-rekan kerjanya, atau ingin mempromosikan dirinya agar mendapat jabatan yang lebih tinggi (Afifullah, 2017).

Sebagai karyawan yang bersifat makhluk sosial dan mempunyai citra kerja yang tinggi tentu sangat menyayangkan rekan kerja yang mudah mengadu pada atasan. Mereka susah untuk di tindak lanjuti. Hal yang dilakukan si pengadu mirip seperti seorang detektif yang memata-matai rekan kerjanya sendiri. Ketika melihat ada rekan satu-dua orang rekan kerjanya yang duduk-duduk santai atau kebetulan sedang iseng membuka media sosial, si tukang ngadu ini tidak segan-segan melaporkan. Mereka selau menilai buruk rekan-rekannya saat bekerja yang merupakan santapan bahan informasi panas untuk segera di adukan ke keatasan.

Tempat kerja merupakan salah satu macam kelompok sosial. Rekan kerja yang mudah mengadu atau melapor-laporkan kinerja rekannya sendiri tentu akan menjadi toxic dalam kelompok kerja tesebut. Apa saja bahaya yang terjadi jika dalam tempat kerja terdapat hal semacam itu:

(1). Kacaunya sistem team work di lapangan. Rekan seperti itu memandang buruk kinerja rekan-rekannya yang lain. Hal tersebut berpengaruh dalam penyelesaiian kerja yang bersifat kerja sama tim.

(2). Memunculkan sikap saling benci dan persaingan tidak sehat antara karyawan yang lain. Karyawan yang lain merasa seolah-olah kinerjanya terawasi di setiap geraknya.

(3). Terancamnya rekan kerja yang lain. Hasil laporan dari rekan si pengadu jika diterima tidak secara selektif dan bijak tentu atasan akan mudah mempercayainya, yang nantinya surat peringatan bahkan pemecatan langsung dijatuhkan ke rekan yang dilaporkan.

(4). Hilangnya rasa kekeluargaan di tempat kerja dan lebih parahnya menimbulkan sikap saling menjatuhkan sebagai aksi balas dendam dari rekan lain.

Kunci kelompok sosial yang sehat terdapat dua hal, yaitu kesadaran dan komunikasi. Kesadaran harus terbentuk mengingat semua anggota kelompok memiliki peran yang sama-sama penting dan sama-sama memiliki tujuan yang sama. Saling menjatuhkan dalam hal ini contohnya sering mengadu ke pimpinan merupakan tindakan yang bisa digolongkan sebagai penyakit sosial dan terkesan egois. Jika, dalam kelompok kerja mendapati rekan yang seperti itu, diperlukan kecerdasan komunikasi. Semua bisa diselesaikan dengan diskusi dan bersifat dialog serta tidak mencerna laporan secara mentah-mentah.

 

Referensi:

Afifullah, Iip. (2017). 10 Ciri Khas ‘Pegawai Penjilat’, Jangan Dilakuin Ya!. IDN Times. Retrivied on October 03 2020 from:

https://www.idntimes.com/life/career/iip-afifullah/ciri-pegawai-penjilat-c1c2

 

 

0 comments:

Post a Comment