14.10.20

CARA JITU MENGHADAPI PSIKOTES ONLINE DAN WAWANCARA ONLINE

Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang sangat berperan dalam suatu organisasi dalam memberikan pelayanan kepada publik (Baedhowi, dalam Yullyanti, 2009). Salah satu aktivitas dalam pengelolaan SDM adalah rekrutmen dan seleksi. Menurut Handoko (2008:69), “Rekrutmen merupakan proses pencarian dan “pemikatan” para calon pekerja (pelamar) yang mampu untuk melamar sebagai pekerja”. Untuk mendapatkan calon pekerja yang berkualitas, maka perusahaan harus dapat melakukan proses rekrutmen yang baik. Dalam perekrutan karyawan disebuah perusahaan biasanya selalu dilakukan wawancara dan psikotes. Sehingga dengan diadakannya test wawancara dan psikotes diharap bisa mendapatkan karyawan yang diinginkan.

Wawancara adalah situasi berhadap-hadapan antara pewawancara dan responden yang dimaksudkan untuk menggali informasi yang diharapkan, dan bertujuan mendapatkan data tentang responden dengan minimum bias dan maksimum efisiensi (Singh, 2002). Sedangkan psikotes adalah kegiatan pemerikasaan psikologi yang menggunakan alat tes psikologi tertentu sebagai alat ukur (dalam bentuk soal-soal tes) yang diciptakan oleh para ahli psikologi. Test ini bertujuan mengukur kondisi-kondisi seseorang yang barkaitan dengan kemampuan intelektual, emosi, minat, bakat, dan kepribadian. (GIBASA Team, 2009:3).

Psikotes dan wawancara sering dianggap sebagai tahap seleksi yang sangat sulit. Ditambah dengan era industri 4.0 dan kondisi pandemi seperti sekarang yang menjadikan proses psikotes dan wawancara dilakukan secara daring. Maka dari itu Universitas Proklamasi 45 dan biro psikologi Universitas Proklamasi 45 bekerja sama dengan Mitra Optima Talenta mengadakan seminar yang dilaksanakan pada hari Senin, 12 Oktober 2020 melalui aplikasi zoom. bertujuan untuk membantu para calon pelamar dalam menghadapi psikotes dan wawancara yang dilakukan secara daring. Seminar yang berjudul “Cara Jitu Menghadapi Psikotes dan Wawancara Online” ini menghadirkan dua narasumber yaitu Venny Hidayat, M. Psi., Psikolog dan Dewi Handayani Harahap, M. Psi., Psikolog. Seminar ini dihadiri sekitar 65 peserta dari kalangan guru, mahasiswa sampai pelajar.

Venny Hidayat, M. Psi., Psikolog atau biasa disapa ibu Venny ini merupakan direktur Mitra Optima Talenta Yogyakarta dan juga merupakan asesor kompeten BNSP. Dalam seminar kali ini, beliau menyampaikan bahwa yang harus dipelajari saat akan menghadapi psikotes yaitu percaya terhadap kemampuan diri sendiri, memahami instruksi, fokus mengerjakan sesuai arahan, memiliki sikap kerja dan konsistensi. Sedangkan inti dari keberhasilan wawancara yaitu ekspresi wajah, sikap tubuh, antusiasme saat menjawab atau menjelaskan, keahlian, kesopanan, tanggapannya terhadap lingkungan sosial dan selalu mengekspresikan “Magic Words” (salam, terimakasih, maaf, tolong, permisi dan pujian).

Dewi Handayani Harahap, M. Psi., Psikolog yang merupakan dosen fakultas psikologi Universitas Proklamasi 45 juga membenarkan hal yang serupa. Ia juga menambahkan bahwa saat akan melamar sebuah pekerjaan ada beberapa hal yang harus direnungkan. Beberapa diantaranya yaitu bakat, gairah/passion, kebutuhan dan nurani.

Banyak sekali mitos-mitos yang beredar seputar psikotes dan wawancara. Contohnya banyak orang beranggapan bahwa psikotes merupakan tahapan yang paling sulit. Kata sulit tersebut sebenarnya relatif. Bagaimana cara orang berpikir terhadap kata sulit tersebut. Lalu saat wawancara, penampilan sering dianggap bagian penting. Namun nyatanya, penampilan memang harus diperhatikan tapi bukan merupakan aspek yang sangat penting.

Lalu bagaimana jika kita sudah melakukan hal-hal diatas namun tetap gagal? Menurut Dewi Handayani Harahap, M. Psi., Psikolog yang biasa disapa ibu Dewi, suatu kegagalan itu tidak ada. Tetapi yang ada hanyalah umpan balik atau feedback untuk diri kita. Hal yang harus kita lakukan yaitu mengenali penyebab kegagalan tersebut. Hasilnya digunakan untuk mengubah persepsi kita dan membuat sebuah strategi. Sehingga saat kita akan memulai kembali, kita sudah mempersiapkannya dengan matang.

Keberhasilan sebuah wawancara dan psikotes itu tergantung kepada diri kita masing-masing, termasuk siap kita dalam menghadapi wawancara dan psikotes. Dengan terus berusaha memperbaiki diri, hal tersebut akan membangun rasa percaya diri. Seperti sebuah pepatah, guru terbaik dalam kehidupan adalah pengalaman.


 

Daftar Pustaka

Kurnia, dkk. (2018). Proses Rekrutmen dan Seleksi Pekerja K3L UNPAD. Jurnal Pekerjaan Sosial, 1(2), 109.

Lukman, H. N. (2013). Ulasan Metodologi Kualitatif: Wawancara Terhadap Elit. Aspirasi, 4(2), 167.

Satryawati, dkk. (2012). Peranan Tes Psikologi Terhadap Penempatan Pegawai Pada Politeknik Negeri Samarinda. Jurnal Eksis, 8(2), 2226.

 

0 comments:

Post a Comment