2.6.20

Rokok dan Disonansi Kognitif

Rokok dan Disonansi Kognitif 


Rifdah Nur Aqilah (19.310.410.061)
Mata Kuliah : Psikologi Sosial 1
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA. 

Tak asing lagi dengan kata “rokok”. Rokok menjadi salah satu kebutuhan yang menimbulkan sensasi nikmat saat menghisap asapnya. Barang yang terbuat dari tembakau ini sudah banyak dikonsumsi di seluruh dunia di mana awal mulanya dari suku Maya di benua Amerika sejak lebih dari seribu tahun sebelum masehi yang kemudian diperkenalkan kepada orang Eropa yang datang pada abad ke-16. Pada era modern, rokok sudah banyak diproduksi dan tentunya permintaan produksi rokok juga besar setiap tahunnya. 

Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk perokok terbesar di dunia, yang mana persentasenya mencapai 39,9 persen atau masuk pada peringkat ke-7. Dapat diartikan sejumlah 57 juta orang di Indonesia menjadi perokok aktif (Brahm, 2020). Alasan seseorang untuk merokok, berawal dari ikut-ikutan, coba-coba, pengaruh iklan di TV, mengikuti trend, dan akan menjadi kebiasaan atau kecanduan. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa kebiasaan merokok juga karena faktor keluarga dan masyarakat.


Di dalam sebatang rokok terkandung 4.000 jenis senyawa kimia beracun yang berbahaya untuk tubuh. Ketika seseorang telah kecanduan rokok, nikotin yang terkandung dalam tembakau merangsang otak untuk melepas zat yang memberi rasa nyaman sehingga menyebabkan rasa ketergantungan. Merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit, khususnya kanker paru, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, penyakit jantung koroner, gangguan pembuluh darah, bahkan kematian (Rokom, 2013).

Bahaya merokok dapat memicu perasaan yang tidak nyaman bagi para perokok dan dapat dianalisis dengan teori disonansi kognitif. Menurut Festinger (West and Turner, 2008) disonansi kognitif merupakan perasaan yang dimiliki seseorang ketika mereka menemukan diri mereka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Teori disonansi kognitif ini digunakan karena adanya rasa ketidaknyamanan sebagai perokok yang mengetahui bahaya merokok. Dan di teori ini, Festinger mengemukakan 3 cara untuk mengurangi disonansi, yaitu mengubah elemen perilaku, mengubah lingkungan untuk memvalidasi perilakunya, dan mengubah elemen kognitifnya.

Berdasarkan survey, padangan negatif dari lingkungan tentang kebiasaan merokok justru tidak bisa membuat perokok menghentikan kebiasaannya. Semakin bertambahnya usia, kebiasaan merokok juga semakin banyak dan lebih sering karena sudah kecanduan. Perokok bukannya tidak paham akan bahaya merokok di masa mendatang namun mereka beranggapan bahwa merokok itu bermanfaat bagi dirinya yang dapat dirasakan saat ini, misalnya menjadi lebih tenang, santai dan fokus. Dari sinilah terdapat penyangkalan kognitif pada perilaku dan mendorong terjadinya disonansi. Nah, jika para perokok menutup mata atas informasi tentang bahaya merokok dan peringatan kesehatan di kemasan rokok, itu artinya akan sulit bagi perokok untuk mengurangi disonansi tersebut.


Referensi :

Brahm. (2020, Maret 16). IDN Times : 7 Negara dengan Persentase Penduduk Perokok Terbesar di Dunia. Diakses dari : https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/amp/brahm-1/7-negara-dengan-persentase-penduduk-perokok-terbesar-di-dunia-c1c2 

Rokom. (2013, November 5). Sehat Negeriku : Tanya Jawab Perokok Remaja dan Bahayanya. Diakses dari : http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20131105/219083/tanya-jawab-perokok-remaja-dan-bahayanya/ 

West, Richard. & Turner, Lynn H. (2008). Pengantar Teori Komunikasi : Analisis dan Aplikasi (Buku 1). Jakarta: Salemba Humanika.

Referensi gambar :

Rahmawati, Dina. (2019, November 19). SehatQ : 10 Penyakit Akibat Rokok yang Perlu Diwaspadai. Diakses dari : https://www.sehatq.com/artikel/10-penyakit-akibat-merokok-yang-perlu-di-waspadai/amp 

0 comments:

Post a Comment