7.6.20

Akibat Cyberbullying Dunia Maya pada Remaja


Akibat Cyberbullying Dunia Maya pada Remaja
Nama : Maily Qisti Rofiq
NIM : 19310410095
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, M.A.
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Media sosial (Medsos) merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Melalui media sosial yang semakin banyak berkembang memungkinkan informasi menyebar dengan mudah di masyarakat. Informasi dalam bentuk apa pun dapat disebarluaskan dengan mudah dan cepat sehingga mempengaruhi cara pandang, gaya hidup, serta budaya suatu bangsa. Melalui media sosial, manusia diajak berdialog, mengasah ketajaman nalar dan psikologisnya dengan alam yang hanya tampak pada layar, namun sebenarnya mendeskripsikan realitas kehidupan manusia. Namun, tidak disangkal bahwa pesan-pesan yang ditayangkan melalui media elektronik dapat mengarahkan khalayak, baik ke arah perilaku prososial maupun antisosial.
Setiap perkembangan teknologi pasti selalu disertai dengan dampak positif maupun negatif. Salah satu penikmat perkembangan teknologi yang dihawatirkan terkena dampak negatif adalah remaja, karena pada usia remaja merupakan periode transisi penuh badai dalam kehidupan batiniah anak-anak yang dapat membuat sangat labil kejiwaannya dan mudah dipengaruhi oleh rangsangan eksternal. Sehingga usia remaja ini rentan akan kekerasan baik dalam dunia nyata maupun dunia maya. Salah satu bentuk kekerasan yang sering dialami remaja dalam dunia maya adalah Cyberbulliying.
Cyberbullying atau kekerasan dunia maya ternyata lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan kekerasan secara fisik. "Korban cyberbullying sering kali depresi, merasa terisolasi, diperlakukan tidak manusiawi, dan tak berdaya ketika diserang," ujar para peneliti. Intimidasi secara fisik atau verbal pun menimbulkan depresi. Namun, ternyata para peneliti menemukan korban cyberbullying mengalami tingkat depresi lebih tinggi. Dampak dari cyberbullying untuk para korban tidak berhenti sampai pada tahap depresi saja, melainkan sudah sampai pada tindakan yang lebih ekstrim yaitu bunuh diri. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Hinduja dan Patchin mengungkapkan fakta bahwa meskipun tingkat bunuh diri di AS menurun 28,5 % pada tahuntahun terakhir namun ada tren pertumbuhan tingkat bunuh diri pada anak dan remaja usia 10 sampai 19 tahun

Perundungan maya juga memiliki dampak jangka panjang. Hasil studi yang dilakukan kajian Hinduja dan Patchin (2008) menunjukkan bahwa remaja yang pernah menjadi korban perundungan maya, mereka juga memiliki kecenderungan untuk terlibat dalam perilaku agresif atau kekerasan ketika mereka sudah dewasa. Proses demikian terjadi kemungkinan karena selama mereka menjadi korban, mereka juga belajar perilaku agresif. Kajian Center for Disease Control (2015) juga menunjukkan bahwa remaja yang terlibat dalam perilaku bullying memiliki resiko lebih besar dalam penggunaan obat-obatan terlarang. Pada tingkat yang lebih parah, perundungan maya juga dapat mendorong korbannya untuk melakukan bunuh diri. Remaja yang dirundung juga memiliki resiko lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri (Espelage & Holt, 2013; Hinduja & Patchin, 2010)
Selain dampak negatif yang ditimbulkan dari cyberbullying, ternyata ada juga dampak positif bagi diri individu, namun hanya sebagian kecil individu yang mampu menjadikan bullying sebagai hal yang positif yaitu hanya individu yang kuat fisik dan mentalnya. Remaja yang terkena bullying akan termotivasi untuk berani membela dirinya dihadapan orang lain, membela temannya, lebih proaktif, dan tanggap akan permasalahan yang dihadapi, timbul keinginan untuk belajar lebih giat, timbul rasa setia kawan yang tinggi karena ada rasa peduli akan derita teman, bisa mengontrol emosi dengan baik, lebih percaya diri karena merasa dirinya memiliki harga diri yang pantas untuk dihargai dan dihormati (tidak mau disakiti), meningkatkan keberanian berkomunikasi, menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam diri sendiri, menjadi lebid dewasa dalam bersikap, berusaha bengkit dan menjadi pribadi yang tangguh dan kuat secara fisik dan mental, berani menghadapi tantangan dan cobaan hidup, dan lebih dekat dengan orang tua dan guru.

DAFTAR PUSTAKA
Pandie, M. M.,  Ivan Th. J. W. (2016). Pengaruh Cyberbullying di Media Sosial Terhadap Perilaku Reaktif Sebagai Pelaku Maupun Sebagai Korban Cyberbullying pada Siswa Krisrten SMP Nasional Makassar. Jurnal Jaffray, 14(1), April 2016.

Anon, Kekerasan Dunia Maya dan Depresi, Mediaindonesia, http://www.mediaindonesia.com/read/ 2010/09/22/169941/78/22/Kekerasan-DuniaMaya-dan-Depresi, 2010, retrieved July 15, 2011.

S. Hinduja and J.W. Patchin, Cyberbullying and Suicide: Cyberbullying Research Summary, http://www.cyberbullying.us/cyberbullying_ and_suicide_research_fact_sheet.pdf, 2010, retrieved August 20, 2011

Rifauddin, M. (2016). Fenomena Cyberbullying pada Remaja. Khizanah Al-Hikmah, 4(1), Januari-Juni 2016, 2354-9629

Sartana & Nelia. A. (2017). Perundungan Maya (Cyiberbullying) pada Remaja Awal. Jurnal Psikologi Insight, 1(1), April 2017, 25-39.

Sumber Gambar


0 comments:

Post a Comment