16.6.20

PERILAKU MENOLONG (PRO SOCIAL BEHAVIOR)


UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP
PSIKOLOGI SOSIAL
RIZAL ARIFFUDIN
19310410020
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA



MOTIF-MOTIF DASAR YANG MELATARBELAKANGI PERILAKU PROSOSIAL
Bagaimana kita dapat menjelaskan mengapa orang memiliki perilaku heroik dan pengorbanan diri yang besar ketika orang tersebut mampu untuk tidak peduli? Hal tersebut disebabkan oleh perilaku prososial (prosocial behavior), yaitu setiap perilaku yang memiliki tujuan untuk menguntungkan orang lain (Penner, Dovidio, Piliavin & Schroeder, 2005).


Perilaku prososial dapat dilatarbelakangi motif kepedulian pada diri sendiri dan mungkin pula karena altruisme. Pembahasan berikut ini lebih berfokus pada perilaku prososial yang dimotivasi oleh altruisme, yaitu keinginan untuk menolong orang lain walaupun orang yang menolong tersebut harus mengeluarkan biaya atau pengorbanan. Altruisme merupakan perbuatan menolong yang dilakukan murni tanpa adanya keinginan untuk mengambil keuntungan atau meminta balasan, bahkan terkadang orang terse but harus mengeluarkan biaya atau pengorbanan bagi dirinya.



Perilaku prososial dan altruisme, ditentukan oleh faktor genetik atau faktor belajar/pengasuhan? Apakah ada motif menolong yang murni? Berikut  ini  beberapa teori yang menjelaskan hal tsb.

Psikologi Evolusioner: Insting dan Gen
Menurut teori evolusi Charles Darwin (18), seleksi alam merupakan salah satu cara untuk bertahan hidup. Sebaliknya, gen yang memperkecil kemungkinannya untuk mempertahankan hidup maupun menghasilkan keturunan, lebih kecil kemungkinannya untuk diturunkan.
Bagaiman teori evolusi menjelaskan tentang altruisme? Jika orang-orang mencapai tujuan untuk memastikan bahwa dirinya dapat bertahan hidup, mengapa
mereka mau menolong orang lain yang dapat mengorbankan dirinya sendiri? Jika mengacu pada teori evolusi maka tidak akan ada yang namanya altruism, karena orang bertindak untuk mementingkan dirinya sendiri. Benarkah demikian?

Seleksi Keturunan (Kin Selection)
Kin selection merupakan suatu pemikiran dimana orang berperilaku untuk lebih memilih untuk menolong seseorang yang memiliki hubungan genetis dalam rangka untuk bertahan hidup. Orang akan lebih memilih seseorang yang memiliki hubungan genetis daripada yang tidak dalam situasi hidup dan mati, misalnya peristiwa kebakaran.


Para psikolog  tidak menyarankan  bahwa orang  harus  mempertimbangkan pentingnya biologis dari perilaku mereka sebelum memutuskan untuk menolong atau tidak. Menurut teori evolusi, orang-orang yang mengikuti aturan "pentingnya biologis" lebih dapat bertahan hidup daripada yang tidak.

       Norma Timbal Balik (Norm of Reciprocity)
Dalam menjelaskan altruisme, psikolog juga merujuk pada norma timbal balik, yaitu harapan bahwa menolong orang lain akan meningkatkan kemungkinan bahwa  mereka akan menolong kita di masa yang akan datang. Pemikiran tersebut yaitu sebagai rnanusia kita berkembang, sekelompok individu yang egois, dimana masing-masing individu hidup dalam area atau gua-nya  masing-masing  akan  merasa lebih sulit untuk bertahan hidup jika dibandingkan dengan  sekolompok  orang yang telah belajar bekerja sarna. Orang-orang yang bertahan hidup adalah orang-orang yang telah memahami arti timbale balik dengan para tetangganya  : "Saya akan me nolong kamu sekarang, dengan perjanjian bahwa ketika saya membutuhkan pertolongan, kamu akan membantu saya sebagai balasannya".

  Mempelajari Norma Sosial
Herbert Simon (1990) berpendapat bahwa sangat mudah bagi individu untuk mempelajari norma sosial dari anggota lain dari masyarakat. Orang-orang yang rnempelajari dengan baik norma dan kebiasaan dari suatu masyarakat memiliki keuntungan dalam bertahan hidup. Karena sejak berabad-abad yang lalu, budaya rnernpelajari hal-hal seperti bagaimana orang dapat bekerja sarna dengan baik, dan orang yang mempelajari aturan ini lebih dapat bertahan hidup daripada yang tidak. Akibatnya, melalui seleksi alam, kemampuan untuk mempelajari norma sosial menjadi bagian dari perbaikan genetis. Salah satu norma yang dipelajari dan dinilai berharga oleh orang-orang adalah menolong orang lain. Singkatnya, orang-orang secara genetis diprogram untuk mempelajari norma-norma sosial, dan salah satu normanya adalah altruisme (Hoffman, 1981; Kameda, Takezawa, & Hastie, 2003).
Pertukaran Sosial: Costs dan Rewards dalam Menolong
Walaupun beberapa ahli psikologi sosial tidak setuju dengan pendekatan evolusioner tentang perilaku prososial, namun mereka tetap memberikan pandangan bahwa perilaku altruism dapat timbul karena adanya self-interest. Bahkan, teori pertukaran sosial berpendapat bahwa kebanyakan dari yang kita lakukan berakar dari keinginan untuk  memaksimalkan  penghargaan yang  akan kita dapat dan menimimalkan pengorbanan yang harus kita lakukan (Homans, 1961; Lawler & Thye, 1999; Thibaut & Kelley, 1959). Perbedaan teori pertukaran sosial dan pendekatan evolusioner adalah: Teori pertukaran sosial tidak mencari akar dari keinginan itu sendiri, atau tidak diasumsikan bahwa keinginan tersebut ada berdasarkan kondisi genetis. Teori pertukaran sosial mengasumsikan bahwa orang-orang dalam hubungan mereka dengan orang lain berusaha untuk memaksimalkan rasio dari penghargaan sosial yang nantinya akan dapat dibandingkan dengan pengorbanan sosial yang harus dilakukan.
Menolong dapat menjadi suatu yang berharga dalam beberapa cara, antara lain:
1.   Seperti yang kita ketahui dalam norma timbal balik, menolong dapat meningkatkan kemungkinan seseorang akan menolong kita juga sebagai balasannya.
2.   Menolong seseorang merupakan investasi masa depan, akan menjadi pertukaran sosial suatu hari nanti, seseorang akan menolong kita ketika kita membutuhkan pertolongan.
3.   Menolong juga dapat meredakan "tekanan personal" yang ditimbulkan orang lain yang berada di sekeliling kita. Orang akan merasa terganggu ketika mereka melihat orang lain menderita dan mereka menolong orang tersebut paling tidak untuk meredakan "tekanan" mereka sendiri (Dovidio, 1984; Dovidio, Piliavin, Gaertner, Schroeder, & Clark, 1991; Eisenberg & Fabes, 1991).
4.   Dengan menolong orang lain kita juga bisa mendapatkan penghargaan secara sosial dari orang lain dan meningkatkan rasa berharga bagi diri kita sendiri.

Namun di sisi lain, menolong orang lain juga dapat menimbulkan adanya suatu pengorabanan yang besar. Perbuatan menolong menjadi menurun ketika pengorbanan yang harus dilakukan pada perbuatan itu besar, misalnya ketika perbuatan tersebut menempatkan kita pada suatu kondisi membahayakan bagi fisik tubuh kita, yang dapat menyebabkan rasa sakit dan malu, atau yang paling mudah, perbuatan tersebut sangat menyita waktu yang kita miliki (Dovidio et aI, 1991; Dovidio, Piliavin, Gaertner, Schroeder, & Clark, 1981; Piliavin, Piliavin, & Rodin, 1975).
Pada dasarnya, teori pertukaran sosial berpendapat bahwa altruisme yang sesungguhnya itu tidak ada. Orang menolong ketika keuntungan yang didapatkan lebih besar dari pengorbanan yang harus dilakukan.

Empati dan Altruisme : Motif yang Tulus dalam Menolong
Daniel Batson (1991) adalah tokoh yang paling kuat menyatakan pemikiran bahwa banyak orang yang tekadnya menolong murni keluar dari kebaikan hati mereka. Batson mengatakan bahwa orang terkadang menolong orang lain untuk alasan pribadi, namun terkadang motif orang tersebut murni altruistik, dimana tujuan mereka yaitu hanya menolong orang lain, walaupun dalam menolong tersebut memerlukan pengorbanan yang besar bagi dirinya. Batson mengatakan, altruisme yang murni akan muncul ketika kita merasakan empati terhadap orang lain yang membutuhkan bantuan, yaitu menempatkan diri kita pada posisi orang lain serta merasakan emosi dan kejadian seperti yang mereka rasa.



REFERENSI:
 Aronson, E., Wilson. T.D., & Akert, R.M. (2007). Social Psychology (6th edition).
Singapore: Pearson Prentice Hall.






0 comments:

Post a Comment