9.6.20

Motivasi: Senjata Ampuh Tingkatkan Kinerja



Oleh:
Alia Nanda Rumekti
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Perkembangan ekonomi dunia semakin dinamis dan berkembang dalam berbagai sektor. Perubahan ini kemudian mendorong perubahan era yang semakin maju dan mendorong manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Upaya pencapaian tujuan tersebut dapat ditunjukkan melalui kinerja yang baik dan prestasi dalam bekerja. Perusahaan pada umumnya membutuhkan karyawan dengan kinerja yang baik guna pencapaian perusahaan yang lebih baik. Jika kinerja karyawan buruk, maka perusahaan pun akan merasakan dampak buruk. Salah satu faktor penyebab berkurangnya kinerja karyawan adalah motivasi. Motivasi jika dihubungkan dengan kata karyawan adalah dorongan dari dalam diri dan lingkungan untuk diaplikasikan dalam kinerja untuk mencapai tujuan, baik oleh dirinya maupun perusahaan (Firmandari, 2014). Jika motivasi turun, maka kinerja karyawan akan menurun. Hal ini tentu akan berdampak pada pencapaian dan kredibilitas perusahaan.
Menurut Amstrong (1990), sasaran motivasi adalah untuk mencapai rasa memiliki tujuan bersama dengan memastikan bahwa sejauh mungkin keinginan dan kebutuhan organisasi serta keinginan dan kebutuhan para anggotanya berada dalam keadaan yang harmonis (Theodora, 2015). Motivasi merupakan hal yang sangat penting agar mereka dapat bertahn pada suatu perusahaan. Motivasi memiliki dua bentuk dasar, yaitu buatan (extrinsic) dan hakiki (intrinsic). Motivasi melalui ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar diri seseorang. Misalnya pada upaya perusahaan untuk memotivasi karyawan. Sedangkan motivasi yang timbul dari intrinsik berasal dari diri dalam diri seseorang, seperti keinginan dan kebutuhan. Walaupun motivasi seseorang secara umum adalah konsep intrinsik atau dari dalam diri sendiri, faktor ekstrinsik seperti hadiah juga mempengaruhi motivasi (Wlodarczyk, 2011).
Selain dari perusahaan, karyawan juga memiliki kemampuan mengatur kinerja mereka sendiri. Kemampuan pengaturan tersebut dilakukan secara fisiologis, keselamatan, sosial, penghargaan, maupun pemenuhan diri yang diciptakan Maslow. Teori ini kemudian dikembangkan oleh Alderfer menjadi kebutuhan ERG (Existance, Relatedness, Growth). Excistense merupakan keberadaan yang mencakup tentang fisiologis dan keselamatan. Relatedness merupakan tentang sosial dan pikiran terhadap orang lain. Growth adalah mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Lalu, bagaimana cara meningkatkan motivasi kerja karyawan?
Ada empat cara yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan motivasi kerja pada karyawan.
1.    Memberikan bonus pada karyawan yang berhasil mencapai target suatu pekerjaan.
2.    Mengadakan penobatan gelar “Karyawan Teladan” setiap tahunnya.
3.    Mengadakan Family Gathering dengan mengajak serta keluarga.
4.  Mengadakan evaluasi kinerja karyawan secara berkala, tanpa merendahkan salah satu pihak.
Keempat hal diatas dapat pula didukung dengan upaya lain untuk meningkatkan motivasi, dalam hal ini motivasi kerja. Salah satunya adalah kesepakatan konsep dan tujuan atas motivasi. Membuat lingkungan kerja dan pekerjaan menjadi lebih menyenangkan dan menarik juga diperlukan dalam upaya ini (U. Kleinbeck et all., 1990). Jika hal ini secara rutin dilakukan, sangat mungkin suatu motivasi kerja dapat berkembang dan kinerja karyawan akan meningkat. Maka, sangat mungkin pula bagi perusahaan memiliki pencapaian yang lebih baik.  

Daftar Pustaka:

Firmandari, N. (2014). PEngaruh KOmpensasi Terhadap KInerja Karyawan dengan Motivasi Kerja sebagai Variabel Moderasi (Studi Pada Bank Syariah Mandiri Kantor Cabang Yogyakarta). EKBISI, 9(1), 25-34.
Theodora, O. (2015). Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kiinerja Karyawan PT. Sejahtera Motor Gemilang. AGORA, 3(2).
U. Kleinbeck, H. H. (1990). Work Motivation. Hilladale: Lawrence Erlbaum Associates.
Wlodarczyk, A. Z. (2011). Work Motivation: A Systemic Framework For A Multilevel Strategy(Research & Applications). Bloomington: Author House.


0 comments:

Post a Comment