13.6.20

Menulis: Merdeka dalam Berkarya!


Oleh
Alia Nanda Rumekti
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Masa Pandemi Covid-19 dan Work From Home (WFH) sudah membuat sebagian masyarakat bosan. Kebosanan ini tidak hanya melanda orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Kebiasaan bekerja dan belajar di luar rumah membuat banyak yang terasa kurang saat segalanya dilakukan di rumah saja. Sejak hastag di rumah aja (#dirumahaja) menjadi populer di dunia maya, keluhan tentang kebosanan juga mengikutinya. Rasa bosan dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak positif yang mungkin muncul adalah produktivitas dalam hal wirausaha meningkat. Sedangkan dampak negatif yang mungkin terjadi adalah masyarakat kian enggan berinovasi. Lalu bagaimana caranya agar tetap produktif selama di rumah saja?
            Rasa bosan karena kondisi ini hanya sedikit dari yang dirasakan selama pandemi. Salah satu cara untuk mengurangi rasa bosan selama pandemi adalah dengan mengikuti beberapa lomba kepenulisan. Banyak penerbit yang mengadakan lomba kepenulisan, mulai dari tingkat khusus pelajar, mahasiswa, hingga tingkat nasional. Sebagian orang enggan melakukannya karena lomba menulis biasanya berbayar. Namun, ada beberapa perlombaan yang membuka kesempatan secara cuma-cuma dan bonus yang diberikan bagi karya yang  terpilih relatif besar. Salah satunya adalah Lomba Menulis Surat Nasional yang saya ikuti beberapa waktu yang lalu. Lomba Menulis Surat Nasional ini diadakan oleh penerbit Zhaopress. Lomba yang mengangkat tema “Untuk Orang Terkasih” ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta.
Syarat yang diajukan pun cukup mudah, cukup dengan mengikuti beberapa akun sosial media penyelenggara, mengisi data diri, dan mengirimkan karya. Hadiah yang ditawarkan bagi pemenang adalah E-sertifikat dan sertifikat cetak, paket buku, dan karya diterbitkan dalam bentuk buku antologi. Dengan menulis, saya merasa bebas. Saya bebas mengungkapkan hal-hal yang tidak bisa diungkapkan secara lisan. Hal itu yang memotivasi saya untuk terus menulis. Sehingga karya saya berjudul “Kepingan Purnama” berhasil merebut juara 1 Lomba Menulis Surat Nasional ini. Berkat menulis, di tahun 2019 saya juga berhasil menerbitkan buku berjudul Secangkir Rindu Hangat. Saya juga dapat ikut dan memenangkan kompetisi serupa, seperti Lomba Puisi Tersayang untuk Eyang dan Lomba Puisi Ibu.



Selain dapat mengatasi rasa bosan, menulis mampu mengasah pikiran dan  kreativitas. Sebuah tulisan tentu memerlukan tekad dari penulisnya. Karena selain kecerdasan, tekad sangat menentukan kesuksesan dalam menulis. Tingginya intensitas menulis dapat menambah perbendaharaan kata. Kompetisi dan lomba kepenulisan dapat menjadi tolak ukur kemampuan dalam menulis. Ada ungkapan “kamu dapat mengubah dunia hanya lewat kata”. Menulis dapat membuat seseorang mengubah hidupnya sendiri dan orang lain. Maka dari itu, menulislah dan merdeka dalam berkarya!

0 comments:

Post a Comment