7.6.20

KUNCI SUKSES PEMIMPIN DALAM MENGELOLA PERUBAHAN DALAM ORGANISASI


Oleh :
Poppy Intan Permatasari/ 19310410013
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA.

Keinginan untuk berubah hanya pada segelintir orang saja dalam organisasi, perubahan dapat dilakukan jika memiliki inisiatif yang timbul dari kesadaran akan pentingnya suatu perubahan. Seorang pencetus akan memulai dan mungkin memimpin proses perubahan tersebut dan akan ada upaya untuk mengajak anggota lain melakukan perubahan. Hal ini memungkinkan perubahan dapat diakui sebagai suatu keharusan oleh seluruh anggota organisasi. Tetapi sebuah keinginan pasti akan menimbulkan penolakan terhadap perubahan, bila keinginan dan kebutuhan untuk berubah tersebut kuat maka penolakan tersebut akan diupayakan untuk dieliminir. Dengan lebih dulu mengupayakan penyadaran dan mengeliminir penolakan maka proses dalam mengelola perubahan akan lebih muda dilaksanakan. Proses selanjutnya dengan adanya persetujuan mengenai tipe perubahan yang dibutuhkan, mengindentifikasi dan mengembangkan critical success factor, penyediaan sistem dan struktur yang akhirnya menimbulkan suatu pengembangan strategi.
Kunci sukses dalam mengelola perubahan organisasi yang dikutip dari Ulrich D. (1996) adalah: (1) leading change yang merupakan orang yang member sponsor akan perubahan-perubahan yang diadakan organisasi; (2) creating a share need yaitu menyakinkan individu untuk bersama memikirkan mengapa harus berubah dan kebutuhan kebutuhan apa yang diperlukan untuk berubah dan kemungkinan penolakan penolakan yang dilakukan; (3) shaping a vision, yaitu mengatasi hambatan untuk berubah; (4) mobilizing commitment yang merupakan identifikasi untuk mengikat dan membela kepentingan stakeholder yang harus diperhatikan dalam mengelola perubahan; (5) changing system and structure yaitu menggunakan fungsi human resource dan manajemen (stafffing, development, appraisal, rewards, organization design, communication, systems dan sebagainya) untuk menyakinkan bahwa perubahan dibangun dalam infrastruktur organisasi; (6) monitoring process – menetapkan benchmark, milestone dan eksperimen yang dapat mengukur dan menunjukkan proses perubahan tersebut; (7) making change last yang memberikan keyakinan bahwa perubahan terjadi melalui implementasi perencanaan, pemikiran dan komitmen.


 Kehadiran seorang change agent yang akan memimpin proses perubahan organisasi yang merupakan faktor yang paling essensial dalam menentukan sukses tidaknya suatu organisasi menghadapi perubahan. Tanpa kehadiran seorang change leader ini maka proses perubahan tidak akan menjadi teratur dan akan kehilangan arah. Kehadiran seorang change leader ini dapat muncul dari orang dalam maupun luar organisasi. Ulrich D. (1996) mengatakan bahwa proses perubahan di dalam suatu organisasi, seorang change leader harus mampu menjadi seorang champion yaitu: (1) harus mampu menyebarkan visinya dan mendorong individu mencapai visi tersebut; (2) harus mampu berperan tidak hanya sebagai knowledge worker tetapi juga sebagai knowledge broker; (3) harus mampu menyebarkan knowledge kepada anggota lainnya.
Karakteristik seorang change leader yang efektif menurut Moran J.W. dan Brightman B.K. (2000) adalah: (1) mengetahui gambaran mengenai perubahan secara keseluruhan serta mengetahui dampaknya terhadap individu-individu dalam organisasi dan mampu mendorong anggota untuk menyesuaikan diri dengan perubahan baru yang terjadi juga mampu menyediakan sumber daya yang diperlukan; (2) menciptakan lingkungan yang memungkinkan individu untuk mencoba perubahan yang terjadi, memberikan dorongan semangat, mempunyai pengalaman dengan cara-cara baru yang dioperasikan dan mampu mendobrak budaya yang sudah ada; (3) memimpin usaha untuk berubah dalam setiap kata-kata dan tindakannya. Bertanggung jawab pada pelaksanaan proses kinerja yang telah berlangsung dan mengidentifikasi penolakan yang potensial muncul; (4) menunjukkan dedikasi yang kuat untuk melakukan perubahan. Fokus pada hasil maupun proses, menganalisis kesalahan, menentukan mengapa hal tersebut terjadi dan berani untuk mencoba; (5) berinteraksi pada individuindividu dan grup-grup dalam organisasi, mampu menerangkan siapa, apa, kapan, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana terjadinya perubahan.
Agar tetap survive menghadapi persaingan yang global seperti sekarang ini, sebuah organisasi harus melakukan perubahan tidak terkecuali. Dalam pelaksanaan perubahan dalam organisasi diperlukan adanya sosialisasi yang bertujuan untuk menggambarkan perubahan secara nyata kepada setiap karyawan dan mampu memberikan cermin perubahan untuk dapat dilihat setiap karyawan tentang wujud asli dari perubahan guna menghindarkan terjadinya kebingungan para pegawai dalam mengapresiasikan perilaku dan budaya dalam bekerja serta meminimalisir resistensi yang menjadi penyebab kegagalan dalam melaksanakan perubahan organisasi tersebut.

Daftar Pustaka :
Ulrich, D. (1996). Human Resource Champions. Boston: Harvard Business School Press.
Moran, J. W and Brightman, B. K. (2000). Leading organizational change. Journal of Workplace Learning, MCM University Press.

Sumber Gambar :

0 comments:

Post a Comment