15.6.20

Hubungan Antara Persepsi Dan Motivasi Belajar Anak Dari Rumah Saat Masa Pandemi Covid 19





             Ujian Akhir Semester Psikologi Sosial 1 (Semester Genap 2019/2020)
Inri Riyanti Pieter/19310410077
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, MA.



Kuliah 6 : Presepsi Dan Motivasi

       Pendidikan merupakan usaha yang tepat  dan akurat untuk meningkatkan kualitas  nilai kemanusiaan seseorang. Pendidikan  mempunyai peranan yang sangat penting  guna meningkatkan cipta, rasa dan karsa  manusia serta membentuk kepribadian. Proses pendidikan merupakan suatu  sistem yang terdiri dari input, proses dan  output. Input merupakan peserta didik yang  akan melaksanakan aktivitas belajar, proses  merupakan kegiatan dari belajar mengajar  sedangkan output merupakan hasil dari  proses yang dilaksanakan (Retno, 2014). Dari pelaksanaan  proses pendidikan tersebut diharapkan dapat  menghasilkan sumber daya manusia yang  berkualitas dan berdaya saing yang tinggi  untuk menghadapi persaingan di era  globalisasi dewasa ini .
      Faktor yang sangat  penting bagi siswa dalam kegiatan  pendidikan apabila seorang guru hadir dalam kelas dan aktif berkesinambungan memberikan didikan dan bimbingannya pada siswa, karena keberadaannya  merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam proses belajar mengajar (Retno, 2014). Namun saat ini pendidikan di sekolah tidak dilaksanakan karena setiap negara lagi mengalami bencana yaitu pendemi covid 19. Melihat perkembangan penyebaran virus tersebut Presiden Joko Widodo secara resmi pada tanggal 15 Maret 2020 mengeluarkan himbauan agar seluruh instansi baik negeri maupun swasta menghidari kontak dekat dan menghindari kerumuman manusia, kemudian bekerja dari rumah, belajar dari rumah dan beribadah dari rumah. Hal ini dimaksudkan agar penyebaran Virus Corona tersebut dapat dibatasi serta masyarakat walau sedang di rumah juga tetap produktif dalam bekerja maupun belajar. Berdasarkan himbauan dari Presiden maka setiap siswa melakukan kegiatan belajar dari rumah secara online.
      Pembelajaran online atau pembelajaran virtual  dianggap sebagai paradigma baru dalam proses  pembelajaran karena dapat dilakukan cara yang  sangat mudah tanpa harus bertatap muka di suatu  ruang kelas dan hanya mengandalkan sebuah  aplikasi berbasis koneksi internet maka proses  pemebelajaran dapat berlangsung. Pembelajaran online adalah sebuah jenis proses pembelajaran yang  mengandalkan koneksi internet untuk mengadakan proses pembelajaran (Kucirkova, 2012). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa guru dan siswa dapat melakukan pembelajaran hanya dengan mengadalakan koneksi internet dan mereka tidak perlu ruang kelas untuk melakukan proses pembelajaran. Namun dalam kenyataannya, pembelajaran online bukan suatu jenis pembelajaran yang tanpa permasalahan dalam prosesnya. Ada beberapa permasalahan yang biasa  muncul dalam pembelajaran online, seperti yang  dikatakan oleh bahwa ada tiga hal permasalahan  yang biasa muncul dalam pembelajaran online, penggunaan materi ajar, interaksi antar sesama siswa, dan suasana belajar (Fortune , 2011)
        Materi ajar memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran  sebagai sumber kajian dalam belajar. Interaksi  siswa salah satu faktor untuk membantu para siswa dalam menggapai hasil belajar yang lebih optimal. Tidak kalah penting dari materi ajar dan interaksi siswa, lingkugan belajar juga memiliki peranan penting bagi siswa mengapai hasil belajar yang lebih baik.
        Kegiatan belajar online di rumah membuat siswa merasa pelajaran yang diberikan sangat sulit. Hal ini yang membuat presepsi seorang siswa terhadap proses belajar di rumah sangat memberatkan diri setiap siswa apalagi saat belajar tidak didampingi orang tua atau lingkungan dan sarana prasarana yang tidak mendukung. Persepsi merupakan awal dari  segala macam kegiatan belajar yang  bisa terjadi pada setiap kesempatan,  baik disengaja maupun tidak. Persepsi terjadi karena setiap manusia memiliki  indera untuk menyerap obyek-obyek serta kejadian di sekitarnya.
        Persepsi adalah kemampuan seseorang dalam mencerna lingkungan (fisik)  berdasarkan apa yang diterima melalui  semua inderanya Persepsi  berpengaruh terhadap proses belajar  seseorang karena dapat menjadi faktor  pendukung atau penghambat (Ugi, 2015). Selama masa pembelajaran jarak jauh, tugas bisa saja hadir setiap hari. Situasi rumah yang kadang tidak kondusif untuk belajar dan tak adanya pengajar yang hadir, berpotensi membuat anak kerap bosan dan menolak untuk belajar. Tidak  sedikit guru yang juga mendapat keluhan orangtua tentang kondisi anak yang tidak mau untuk belajar. Sehingga pekerjaan rumah (PR) bisa menumpuk setiap harinya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 213 pengaduan terkait pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari para siswa di berbagai daerah di Indonesia.
         Pengaduan-pengaduan tersebut didominasi oleh pengaduan terkait berbagai penugasan guru yang dinilai berat dan menguras energi serta kuota internet. Namun dari presepsi negati tentang belajar online ada keuntungan atau hal positif yang didapat oleh setiap siswa. Keuntungan atau hal positif dari belajar online secara tidak langsung bisa meningkatkan kepercayaan diri anak sebab tak sedikit anak yang merasa takut dan malu untuk menyampaikan pendapat di kelas. Salah satunya karena banyak murid yang memperhatikan mereka berbicara. Namun, dengan kelas online, sikap gugup bisa perlahan hilang karena dilatih dengan diskusi tanpa tatap muka, pengeluaran berupa uang jajan dan biaya tak terduga seperti membeli buku dan alat tulis juga tidak dialami karena semua dikerjakan online. Berbeda dengan kelas biasa, di mana guru hanya akan menerangkan sesuatu dalam satu waktu, belajar di kelas online memudahkan pendidik untuk menyimpan apa yang telah disampaikan. Hal ini tentu memudahkan murid untuk mengulang dan memutar sebanyak apa pun yang mereka mau sehingga saat anak tidak mengerti, ia bisa mendengarkan penjelasan guru terus menerus sampai paham.
         Keuntungan – keuntungan yang dijelaskan diatas dapat dialami oleh setiap siswa dan mengatasi kebosanan dari siswa apabila ada motivasi dari orang tua atau lingkungan sekitarnya. Adapun faktor faktor yang memengaruhi motivasi belajar  siswa dapat berasal dari guru, orangtua, keluarga, masyarakat,  serta lingkungan (Sardiman, 2016). Hal ini menunjukkan  bahwa terdapat peran lingkungan sekitar yang dapat  memengaruhi motivasi siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Djamarah (2015) menyatakan bahwa hubungan  orangtua dan anak yang harmonis merupakan jaringan sosial  yang diperlukan oleh remaja agar kegiatan belajar dapat  berjalan dengan optimal. Dukungan yang diberikan oleh orangtua kepada siswa akan berdampak pada nilai  akademiknya di sekolah. Di tengah situasi darurat COVID-19 saat ini, orang tua diharapkan mampu mengajak anak melakukan kegiatan-kegiatan yang bermakna. Misalnya, berdiskusi bersama tentang pelajaran yang didapatkan, mendampingi anak mengerjakan tugas dan sesekali mengajak anak bermain apapun yang disenangi agar membuat anak tidak terbeban dengan tugas sekolahnya.
Guru Kreatif Orang tua aktif demi kesuksesan Anak.



Daftar Pustaka
Retno Palupi , Sri Anitah, Budiyono. 2014.  Hubungan Antara Motivasi Belajar dan    Persepsi Siswa Terhadap Kinerja Guru Dalam Mengelola Kegiatan Belajar Dengan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII di SMPN n 1 Pacitan. jurnal teknologi pendidikan dan pembelajaran. Vol.2, No.2, hal 157-170.
Djamarah, S. B. (2015). Psikologi belajar (Edisi 2). Jakarta: Rineka Cipta.
Kučírková, L. (2012). A Comparison of Study Results of Business English Students in elearning and Face-to-face courses. Journal on Efficiency and Responsibility in Education and Science, 5(3), 173–184.
Fortune, M. F., Spielman, M., & Pangelinan, D. T. (2011). Students’ Perceptions of Online or Face-to-Face Learning and Social Media in Hospitality, Recreation and Tourism. MERLOT Journal of Online Learning and Teaching, 7(1), 1–16.
Sardiman, A. M. (2016). Interaksi dan motivasi belajar-mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

0 comments:

Post a Comment