7.6.20

FANATISME






 Sekar Pramethi Armindariani / 19310410072  

Psikologi Universitas Proklamasi 45

“ Tahap tersulit menjadi seorang fans adalah saat kamu benar-benar jatuh cinta pada idolamu”

Globalisasi dan kemajuan teknologi menjadi faktor pendukung untuk terjadinya pertukaran informasi dan budaya dari negara-negara yang berbeda. Korea Selatan pada kurun waktu terakhir ini telah berhasil menyebarkan produk budaya populernya ke dunia internasional. Berbagai produk budaya Korea mulai dari drama, film, lagu, fashion, gaya hidup dilepaskan dari keberadaan media masa seperti internet, Facebook, twitter, youtube, dan sebagainya, bahkan bisa dikatakan bahwa media masa adalah saluran utama penggerak Korean Wave. Meningkatnya popularitas budaya populer Korea di dunia internasional banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat dunia, tidak terkecuali masyarakat Indonesia. Fenomena ‘Korean Wave’ atau ’Hallyu’ yang saat ini sedang melanda Indonesia banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat khususnya kawulan muda atau anak remaja (Wijayanti, 2012).   

Dampak dari adanya budaya K-pop yang merambah di berbagai belahan dunia, memunculkan adanya penggemar K-pop dengan jumlah yang tidak sedikit, menurut survey yang dilakukan pada tahun 2011 oleh salah satu stasiun televisi terkemuka di Korea Selatan yaitu KBS, menyatakan bahwa fans K-pop di negara Asia memiliki 84 klub penggemar dengan 2,31 juta anggota di delapan kawasan Asia, ada 25 klub penggemar dengan 500.000 penggemar di 4 wilayah di Amerika, sementara 70 klub penggemar yang hadir di 7 wilayah Eropa, dengan 460.000 anggota (KBS editor, 2011).

Kecintaan penggemar terhadap idolanya membuat apapun berita terbaru tentang idola yang disebarkan di media sosial akan selalu dipantau kapan saja tanpa mengenal waktu. hingga ke perilaku obsesif yang berlebihan yaitu stalking (menguntit) apa saja terkait idola penggemar K-Pop. Hal ini tidak asing di sekitar fans Kpop, Fanatik  fans atau yang sering di sebut dengan Sesaeng oleh pengemar Kpop lainya. “Sesaeng”   berasal dari bahasa korea “ Se” yang berati  pribadi atau privasi sedangkan “Saeng” yang berarti kehidupuan. Jika di artikan “Sesaeng”  adalah fans yang terobsesi terhadap kehidupan idolnya. 

 Sedangan fanatisme didefinisikan sebagai pengabdian yang luar biasa untuk sebuah objek, di mana "pengabdian" terdiri dari gairah, keintiman, dan dedikasi, dan "luar biasa" berarti melampaui, rata-rata biasa yang biasa, atau tingkat. objek dapat mengacu pada sebuah merek, produk, orang (misalnya selebriti), acara televisi, atau kegiatan konsumsi lainnya. Fanatik cenderung bersikeras terhadap ide-ide mereka yang menganggap diri sendiri atau kelompok mereka benar dan mengabaikan semua fakta atau argumen yang mungkin bertentangan dengan pikiran atau keyakinan (Chung, Beverland, Farrelly & Quester, 2008).  

Oleh karena itu banyak kasus yang melibatkan idol dengan sesaeng. Tidak hanya mencampuri kehidupan idol Kpop, posesif tetapi hingga membahayakan idol tersebut. Artis Korea yang populer memiliki sasaeng fans sekitar 500-1.000 orang. Dan lebih parahnya lagi, sekitar 100 penggemar mengikuti secara aktif kemanapun artis itu pergi setiap harinya. Didunia hiburan Korea Selatan, girlgroup atau boygroup adalah sasaran empuk sasaeng fans. Jika sasaeng fans mendapatkan nomor telepon artis, maka ia akan menghubungi dan mengirim pesan pribadi secara terus menerus. Jika sasaeng fans mendapatkan alamat tempat tinggalnya, maka ia akan menyelinap masuk, memotret artis ketika sedang tidur, mengambil pakaian dalam, dan tindakan jahat lainnya. Tidak hanya dengan idolnya sesang fans juga kerap bertindak kasar terhadap fans kpop lainya. Hal ini memicu rasa was-was pada idol dan tekanan hingga mebuat  idol stres. Fenomena budaya populer Korea yang melahirkan konformitas dan fanatisme pada Korean Wave hal ini karena sikap remaja yang terkadang lebih mengagungkan budaya populer Korea dari pada budaya dalam negeri menunjukkan bahwasanya budaya Pop Korea secara tidak disadari telah menimbulkan fenomena dikalangan remaja.

Bagi penggemar idola K-pop diharapkan agar lebih bijaksana dalam berperilaku sebagai penggemar. Kecintaan kepada idola bukanlah hal yang buruk, namun bila dilakukan secara berlebihan akan memicu perilaku agresif. Walaupun agresif verbal di media sosial tidak melukai secara fisik, tetapi akan berdampak secara psikologis bagi korban agresi.

Refernsi
Wijayanti, A. A. (2012). Hallyu: Youngstres Fanaticism of Korean Pop Culture (Study of Hallyu Fans Yogyakarta City). Journal of Sociology. 3 (3), 1-24.

Chung, E., Beverland, M., Farrelly, F., & Quester, P. (2008). Exploring consumer fanaticism: Extraordinary devotion in the consumption context. Journal of Advances in Consumer Research. 35 (4), 333-340.



0 comments:

Post a Comment