5.6.20

Efektifkah pembelajaran di rumah selama pandemi covid-19?


Beatrice. A. J. C. Randan /19310410040
Fakultas Psikologi 
Universitas Proklamasi 45
Dosen Pengampu: Dr. Arundati Shinta, MA.

Pandemi Covid-19 berdampak besar pada berbagai sektor, salah satunya pendidikan. Sebagai upaya menekan penyebaran Covid-19, Presiden Joko Widodo menetapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan ini juga diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) yangg telah ditandatangani Presiden. Presiden Joko Widodo juga menegaskan bahwa kebijakan untuk beraktifitas produktif di rumah perlu dilakukan untuk menekan penyebaran virus. Pendidik harus memastikan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Ini sesuai dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Maka dari itu, seluruh sekolah di Indonesia diberhentikan untuk sementara sehingga diganti dengan memanfaatkan sistem online. Meski menekan potensi penyebaran, belajar di rumah juga ada dampak negatifnya.


Pembelajaran online merupakan hal baru dan menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian murid, guru maupun orang tua. Sistem pembelajaran online ini dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC) atau laptop yang telah terhubung dengan koneksi jaringan internet. Pendidik dapat melaksanakan pembelajaran secara bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media social seperti WhatsApp (WA), Facebook, Google class room, Telegram, aplikasi Zoom ataupun media sosial lainnya sebagai media pembelajaran.  Dengan demikian, pendidik dapat memastikan peserta didik mengikuti pembelajaran dalam waktu yang bersamaan, walaupun tempat yang berbeda.
Menurut Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo, strategi belajar di rumah sudah tepat, setidaknya dari sisi kesehatan. Namun untuk efektivitas pembelajaran, ia menimbang perlu ada yang dipersiapkan sekolah dan guru-guru. Menurutnya guru harus proaktif dan kreatif agar bisa menggelar kegiatan belajar-mengajar sama efektifnya dengan tatap muka. Hal yang sama juga dikatakan Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji. Selain guru, ia menjelaskan orang tua pun harus ikut mematau si anak selama belajar di rumah.


Tantangan lebih besar akan muncul jika kebijakan ini dijalankan di daerah dengan infrastruktur internet dan teknologi yang kurang mendukung seperti di desa-desa. "Sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas pembelajaran online ini akan mengalami kesulitan dalam mengejar ketertinggalan materi pembelajaran," kata peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza Azzahra lewat keterangan tertulis. Hal yang serupa berlaku bagi peserta didik yang kurang memiliki akses terhadap teknologi dan internet. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pekerjaan rumah banyak kepada peserta didik, meskipun metode ini tidak semaksimal online learning, dan diserahkan ketika kelas tatap muka kembali dilakukan. Pendidik pun dapat memberi tugas terukur sesuai dengan tujuan materi yang disampaikan kepada peserta didik.






Referensi Gambar:

0 comments:

Post a Comment