15.6.20

EFEK BERITA NEW NORMAL MEMBUAT MASYARAKAT LUPA AKAN PROTOKOL KESEHATAN COVID-19
M. Riand Purwadinata
15.310.420.1118
Fakultas Psikologi
Psikologi Sosial I
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Dosen Pengampu Dr., Dra. Arundati Shinta, MA

Wabah  Covid-19 di Indonesia telah berlangsung selama kurun waktu kurang lebih empat bulan. Berbagai kebijakan telah diterapkan oleh pemerintah untuk mengatasi pandemi ini, mulai dari penerapan sosial distancing, physical distancing, menghimbau masyarakat agar selalu menggunakan masker saat keluar rumah, meliburkan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan kegiatan di area publik, hingga pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Penyebaran Covid-19 dan korban yang semakin banyak, mengindikasikan bahwa kemampuan negara belum optimal sehingga melahirkan kondisi yang tidak dapat diprediksi dan terdapat ruang ketidakpastian dalam tatanan kehidupan sosial. Hal itulah kemudian yang membuat terjadi tekanan psikologis pada masyarakat, timbul rasa tidak peduli terhadap kebijakan pemerintah, dan bahkan melahirkan  ketidak percayaaan masyarakat pada pemerintah.
Baru-baru ini, pemerintah kembali membuat masyarakat menjadi bingung karna berencana akan menerapkan kebijakan baru yang disebut new normal. New normal adalah skenario untuk mempercepat penanganan pandemi Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional.Kebijakan baru Pemerintah yang akan menerapkan kebijakan new normal membuat masyarakat harus bisa beradaptasi selama pandemi Covid-19 ini dengan tetap beraktivitas menerapkan protokol kesehatan. Tidak semua masyarakat dapat melaksanakan adaptasi ini dengan baik, karena masih ada sebagian warga yang tidak patuh dalam menerapkan protokol kesehatan tersebut.
Banyak warga yang akhir-akhir ini sering berkerumun ,tidak mematuhi protokol kesehatan yang ada. "Saya mendapat banyak informasi bahwa satu dua hari kemarin banyak kerumunan. Ada yang di depan pasar Malioboro, Tugu, dan Titik Nol. Ini perlu jadi perhatian masyarakat. Kita tidak boleh (terlena) dengan rencana pemerintah pusat ada new normal, DIY masih tanggap darurat. Tanggap darurat masih ada larangan orang berkerumun, protokol kesehatan wajib dilakukan," ungkap Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji, di ruang kerjanya. Maraknya pesepeda yang membanjiri ruang-ruang publik di DIY juga mendapat respon dari aktivis Elanto Wijoyono. Meski sangat hobi dan gemar bersepeda, kali ini Elanto ikut geram dengan banyaknya pesepeda musiman di DIY. Masalahnya, menurut dia mereka hadir hanya untuk berswa foto dan bersenang-sanang dengan sepedanya.





DAFTAR PUSTAKA



https://jogja.tribunnews.com/2020/06/09/silahkan-bersepeda-tapi-jangan-berkerumun-di-malioboro-hingga-alun-alun-yogyakarta?page=2. Penulis: Tribun Jogja Editor: Iwan Al Khasni

0 comments:

Post a Comment