15.6.20

AGRESIVITAS : APAKAH PERILAKU INI DAPAT DIKURANGI?



Oleh :
 Poppy Intan Permatasari/ 19310410013
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Dosen Pembimbing: Dr. Arundati Shinta, MA.
Agresivitas sering kali diartikan sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain baik secara fisik ataupun psikis. Definisi yang hampir sama juga disampaikan oleh Brehm dan Kassin (1993) .Dengan redaksi yang tidak jauh berbeda, Baron dan Byrne (1997) mendefinisikan agresivitas sebagai perilaku yang diarahkan dengan tujuan untuk membahayakan orang lain. Selain agresivitas, ada istilah lain yang sering dipakai, yaitu, kekerasan atau violence. Kekerasan sebetulnya agresivitas juga, namun dengan intensitas dan efek yang lebih berat daripada agresivitas (Bushman & Bartholow, 2010). Agresivitas menyebabkan si korban mengalami luka serius, ataupun meninggal dapat dikategorikan sebagai kekerasan.
Agresi bukanlah perilaku tanpa sebab. Agresi muncul karena banyak faktor yang terkondisikan sedemikian rupa. Salah satu faktor yang sangat penting menjadi pemicu agresi adalah marah. Potegal dan Knutson menyatakan bahwa marah adalah salah satu faktor yang cukup menentukan apakah perilaku agresi tersebut akan muncul atau tidak.


Walaupun terdapat koreleasi yang meyakinkan, marah dan agresi tidak selalu berjalan linier. Marah tidak selalu berujung pada agresi, dan agresi tidak selalu dilatarbelakangi oleh marah. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, marah merupakan bawaan alamiah manusia. Setiap individu pasti mengalami emosi marah, dan tidak mudah untuk menghindarkan diri dari emosi marah. Yang membedakan antara satu dengan yang lainnya adalah perbedaan biologis,  kepribadian, pemerosesan kognitif, dan pengalaman subjektif masing-masing dengan lingkungannya. Faktor-faktor itulah yang membuat antara kita mudah marah atau tidak mudah marah. Berikut cara mengurangi perilaku agresivitas :
1.      Pengalihan (displacement). Ketika dihadapkan pada stimulus yang menyakitkan atau frustasi, kita kadang tidak berani berhubungan secara langsung dengan sumber frustasi tersebut. Adakalanya kita mengalihkan amarah akibat frustasi tersebut terhadap objek lain yang dipandang lebih aman. Proses tersebut terhadap objek lain yang dipandang lebih aman. Proses tersebut biasa kita sebut dengan istilah pengalihan. Pengalihan adalah kecenderungan untuk secara tidak langsung mengekspresikan impuls-impuls yang diharapkan, atau mengekspresikan frustasi terhadap target yang bukan frustasi (Bushman, & Bartholow, 2010). Sebagai contoh, seorang karyawan merasa kesal terhadap atasannya, sang karyawan kemudian mengalihkan emosi negatifnya tersebut terhadap istri atau anaknya ketika sampai di rumah.
2.      Katarsis. Istilah katarsis pertama kali dipakai oleh Aristoteles. Menurutnya, menonton pertujujan music yang dapat melepaskan emosi negatifnya. Lebih lanjut, Freud mengatakan bahwa emosi negatif yang ditekan akan menimbulkan sistem psikologis tertentu seperti neurosis dan hysteria (lihat Bushman & Bartholow, 2010). Emosi negatif seperti marah, sebaiknya diberi ventilasi, maka tekanan hidrolik tersebut akan semakin kuat. Bentuk-bentuk katarsis yang biasa digunakan orang untuk mengurangi emosi marah, antara lain membanting pintu, berteriak sekeras-kerasnya, melempar bantal, menangis, menulis diary, dan lain-lain.
Jadi tindakan agresi dapat dikuragi dengan 2 cara diatas. Tindakan agresi ini dapat dijelaskan melalui pendekatan biologis, psikoanalisis, pembelajaran, dan dorongan. Perspektif biologis menekankan tingkah laku hewan sebagai rujukan tingkah laku manusia dalam aktivitas otak dan hormon. Psikoanalisis melihat agresi sebagai bawaan atau insting. Perspektif pembelajaran menyatakan bahwa agresi bukanlah bawaan, melainkan melalui pembelajaran. Sedangkan teori dorongan menekankan frustasi sebagai pendorong agresi. Agresi berasal dari amarah atau emosi seseorang. Namun, tidak semua amarah atau emosi dapat menimbulk


Daftar Pustaka :
Brehm, S.S & Kassin, S.M. 1993. Social Psychology Third Edition. London: Prentice-Hall.
Baron, R. A., Byrne, D. (1997). Social Psychology. Boston : Allyn & Bacon
Bushman, B. J., & Bartholow, B. D. (2010). Aggression. In R. F. Baumeister & E. J. Finkel (Eds.), Advanced social psychology: The state of the science (p. 303–340). Oxford University Press.

Sumber Gambar :



0 comments:

Post a Comment