15.6.20

PERBEDAAN KEHIDUPAN SOSIAL DI DESA DAN KOTA


PERBEDAAN KEHIDUPAN SOSIAL DI DESA DAN KOTA

UJIAN AKHIR SOSIAL I
(Semester Genap 2019/2020)
Tri Wahyu Ningsih / 19310410026
Dosen Pengampu : Dr. Arundati Shinta, MA.
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45



Kehidupan sosial adalah kehidupan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan. Sebuah kehidupan disebut sebagai kehidupan sosial jika di sana ada interaksi antara individu satu dengan individu lainnya, dan dengannya terjadi komunikasi yang kemudian berkembang menjadi saling membutuhkan kepada sesama. Dalam hal yang terjadi di lapangan, kehidupan sosial sangat erat kaitannya dengan bagaimana bentuk kehidupan itu berjalan. Dalam hal ini, seperti juga telah diterangkan di paragraf awal, bahwa ada dua kehidupan sosial yang secara umum ada, yaitu kehidupan sosial di pedesaan dan kehidupan sosial di perkotaan.
Dalam dunia perkuliahan psikologi, mempelajari tentang psikologi sosial. Brehm dan Kassin (1996:6) menyatakan bahwa social psychology is the scientific study of the way individuals think, feel, desire, and act in social situation. Definisi tersebut dapat diartikan bahwa psikologi sosial merupakan studi ilmiah mengenai cara individu berpikir (think), merasa (feel), berkeinginan (desire), dan bertindak (act) dalam situasi sosial. Psikologi sosial menggunakan metode ilmiah seperti observasi yang sistematis, deskripsi objek atau subjek, dan pengukuran untuk mempelajari kondisi manusia. Selain itu juga beberapa studi banyak menggunakan teknik antropologi, studi komunikasi, ilmu ekonomi, politik, dan sosiologi. Psikologi sosial melihat perilaku individu lebih luas juga mempelajari perilaku yang bervariasi dalam setting yang berbeda. Situasi sosial mencerminkan tempat perilaku (behaviour) terjadi. Dalam penyusunan teori, psikologi sosial sering mempengaruhi faktor non sosial (berpikir, emosi, motif, dan tindakan) dan faktor sosial (pengaruh sosial dan interaksi sosial).



Kehidupan masyarakat modern seperti sekarang ini sering dibedakan antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan dalam bentuk “rural community” dan “urban community”. Karakteristik masyarakat desa dan kota bisa begitu berbeda akibat adanya beberapa perbedaan signifikan terkait cara hidup sehari-hari dan sistem sosialnya. Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar. Masyarakat kota merupakan masyarakat yang anggota-anggotanya terdiri dari manusia yang bermacam-macam lapisan atau tingkatan hidup, pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain. Corak kehidupan tertentu yang jauh berbeda apabila dibandingkan dengan masyarakat desa. Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri, atau desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain. Pedasaan sangat tertutup dengan hal-hal yang baru karena mereka masih memegang teguh adat-adat yang leluhur mereka ajarkan. Kecenderungan bagi masyarakat desa mengarah pada kehidupan agamis dan religius, sedangkan orang-orang kota lebih mengarah pada kehidupan duniawi.
Jadi, komunitas kota lebih menekankan pentingnya kelomok sekunder (keakraban kecil,wujud temporer dan melibatkan kurangnya kontak antarpribadi). Orang-orang kota bersifat saling hau saja dalam arti bahwa ia tidak melibatkan kekerapan hubungannya seperti keluarga inti dan ia juga tidak bersifat tetap. Di dalam kota besar terdapat perbedaan tegas dari segi ekonomi dan politik dan dengan berlatar agama serta etnis yang berlainan. Orang-orang kota saling berhubungan satu sama lain berdasarkan minat bukannya berdasarkan tempat, sedangkan kehidupan sosial di desa lebih saling membantu atau bersama, jadi saling bergantung satu sama lain. Masyarakat desa juga dicirikan dengan hubungan pola paguyuban. Paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama, anggotanya diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alami dan kekal. Dasar hubungan adalah rasa cinta dan rasa persatuan yang telah dikodratkan. Biasanya paguyuban lahir dari dalam diri individu ditandai dengan rasa solidaritas dan identitas yang sama. Keinginan untuk berhubungan didasarkan atas kesamaan dalam keinginan dan tindakan. Kesamaan individu merupakan faktor penguat hubungan sosial, yang kemudian diperkuat dengan hubungan emosional serta interaksi antar individu.




Ciri-ciri masyarakat perkotaan:
1.      Kehidupan keagamaannya berkurang, kadangkala tidak terlalu dipikirkan karena memang kehidupan yang cenderung kearah keduniaan saja.
2.      Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus berdantung pada orang lain.
3.      Pembagian kerja diantara warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
4.      Kemungkinan  untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota.
5.      Perubahan tampak nyata dikota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.
Ciri-ciri masyarakat pedesaan:
1.      Kehidupan didesa masyarakatnya masih memegang teguh keagamaan atau adat dari leluhur mereka.
2.      Warga pedesaan lebih condong saling tolong-menolong tidak hidup individualisme
3.      Warga pedesaan mayoritas memiliki pekerjaan sebagai petani.
4.      Fasilitas-fasilitas masih sulit ditemukan dipedesaan
5.      Warganya masih sulit untuk menerima hal baru atau mereka tertutup dengan hal-hal yang baru.
            Perbedaan antara masyarakat desa dan kota:
1.      Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam
Masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnyadi daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
2.      Pekerjaan atau Mata Pencaharian
Umumnya mata pencaharian dearah perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga sebagai pedagang
3.      Ukuran Komunitas
Komunitas perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.
4.      Kepadatan Penduduk
Penduduk desa kepadatannya lebih rendah bila dibandingkan kepadatan penduduk kota.
5.      Homogenitas dan Heterogenitas
Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat perdesa bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dgn macam-macam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.
6.      Diferensiasi Sosial
Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yg tinggi di dalam diferensiasi Sosial.
7.      Pelapisan Sosial
Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk “piramida terbalik” yaitu kelas-kelas yg tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.
Perlu dipahami karena tidak semua hal tentang perkotaan atau pedesaan itu buruk ataupun baik saja namun pemahaman itu diharapkan dapat berbuah pada pertumbuhan yang lebih baik. Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan terdapat hubungan yang erat, bersifat ketergantungan, karena saling membutuhkan.

Referensi:
Suryanto, Muhammad Ghazali Bagus Ani Putra, Ike Herdiana, Ilham Nur Alvian. (2012). PENGANTAR PSIKOLOGI SOSIAL. Surabaya. Airlangga University Press.
Referensi Gambar

0 comments:

Post a Comment