30.5.20

PERILAKU PATUH DAN TIDAK PATUH DI MASA PANDEMI COVID-19

PERILAKU PATUH DAN TIDAK PATUH DI MASA PANDEMI COVID-19


BANGUN HANDOKO / 19310420090
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA


Kondisi wabah virus corona sudah sangat mengkhawatirkan karena dapat saja semakin meluas, dan belum dapat diprediksi sampai kapan virus ini akan hilang dan berhenti menjangkiti penduduk dunia. Artinya, wabah ini bukan hanya persoalan satu negara, melainkan persoalan dunia. Virus corona semakin mewabah dan merubah kehidupan normal masyarakat dunia dalam berbagai bidang terutama kesehatan, kemanusiaan dan ekonomi. Hampir semua negara menyarankan untuk melakukan social distancing untuk menghindari semakin meluasnya Covid-19.

Pemerintah berupaya untuk mencegah penyebaran Covid-19 semakin meluas dengan memberikan beberapa himbauan kepada masyarakat seperti PSBB, stay at home, mengikuti anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan, dll. Tentunya hal tersebut disikapi oleh masyarakat dengan cara yang berbeda-beda, ada yang mengikuti anjuran pemerintah dan ada juga yang melanggar aturan dari pemerintah.

Sikap dan perilaku yang ditunjukkan masyarakat harusnya merupakan suatu bentuk ketaatan dan berbakti kepada pemerintah, sekaligus sebagai sikap bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan agar tidak menjadi penyebab penularan dan juga tidak tertular virus. Perilaku tersebut sekaligus sebagai wujud dari sikap rendah hati, berupaya untuk memberikan kenyamanan kepada sesama anggota masyarakat. Himbauan dan aturan yang diambil adalah untuk kepentingan masyarakat agar tetap sehat. 

Bukan hanya masyarakat yang dituntut mempunyai sikap bertanggung jawab. Pejabat negara baik legislatif, yudikatif dan eksekutif wajib mempunyai sikap dan perilaku tanggung jawab, terutama melakukan secara maksimal dengan menggunakan kewenangan dan kekuasaan yang mereka miliki secara maksimal bagi keselamatan dan kesehatan masyarakat. 

Dalam kondisi pandemi Covid-19, masyarakat dan semua pihak harus patuh atau taat dengan semua aturan dan ketentuan pemerintah, termasuk tidak memproduksi dan menyebarkan berita hoax. Sikap tersebut juga harus ditunjukkan oleh media dalam menyebarkan informasi mengenai pandemi Covid-19. Pemilik media harus mendukung pemerintah dalam penanggulangan virus corona ini, tidak hanya sekedar melakukan liputan semata untuk memenuhi kebutuhan informasi yang menguntungkan secara ekonomi.

Meskipun beberapa waktu yang lalu sudah ada penurunan aktivitas di masyarakat tetapi kita masih menemukan beberapa wagra masyarakat yang tidak patuh terhadap anjuran pemerintah. Di Jawa Timur, kenaikan angka positif corona sebagian besar berasal dari Surabaya. Namun tingginya angka Covid-19 tak dibarengi dengan kesadaran masyarakat akan protokol kesehatan pencegahan corona. Ketika Surabaya dinilai bisa jadi seperti Kota Wuhan, China karena masyarakatnya tidak patuh protokol kesehatan (Tribun Mataram.com). Selain di Surabaya, pola-pola perilaku ketidakpatuhan pada anjuran pemerintah masih banyak terjadi di daerah-daerah lain.

Bagaimana pun juga pemerintah baik pusat dan daerah adalah pihak yang mempunyai dan didiberikan kewenangan oleh rakyat, untuk itu mereka mempunyai kekuasaan untuk membuat kebijakan dan mengambil langkah-langkah yang lebih membela kepentingan masyarakat yaitu kesehatan dan keselamatan mereka. Budaya ketidakpatuhan sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan. Banyak kasus yang sama di negara lain dengan ujung yang sangat fatal.

Menurut Smet (1994), kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan suatu aturan dan perilaku yang disarankan. Definisi lain dikemukakan oleh Chaplin (1989), yakni kepatuhan adalah pemenuhan, mengalah tunduk dengan kerelaan; rela memberi, menyerah, mengalah, membuat suatu keinginan konformitas sesuai dengan harapan atau kemauan orang lain.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kepatuhan menrurut Smet (dalam ) yaitu :
1.      Karakteristik Individu
Karakteristik individu adalah perilaku atau karakter yang ada pada diri seorang individu, baik positif maupun negatif.
2.      Ciri Perilaku
Ketaatan umumnya lebih rendah untuk hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan primer individu. Hal ini dikarenakan adanya perubahan gaya hidup dari masyarakat masing-masing daerah tidak sama.
3.      Variabel-Variabel Sosial
Secara umum, orang-orang yang merasa mereka menerima penghiburan, perhatian dan pertolongan yang mereka butuhkan dari seorang atau sekelompok biasanya cenderung lebih mudah mengikuti nasehat, daripada individu yang kurang mendapat dukungan sosial.
4.      Persepsi dan Pengharapan Individu
Persepsi dan pengharapan individu terhadap masalah yang dialaminya mempengaruhi kepatuhan dari individu. Seseorang akan cenderung patuh jika ancaman yang dirasakan begitu serius, sedangkan seseorang akan cenderung mengabaikan aturan jika keyakinan akan pentingnya aturan yang harus dijaga / ditaati rendah.
5.     Komunikasi antara Masyarakat dengan Pemerintah
Berbagai aspek komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah mempengaruhi tingkat ketidakpatuhan, misalnya kurangnya informasi dengan pengawasan, ketidakpuasan terhadap kebijakan, frekuensi pengawasan yang minim. Hubungan antara kepuasan dengan kepatuhan sangat memiliki tingkat kepatuhan individu, berkaitan dengan komunikasi yang terjalin antara pemerintah dengan masyarakat.

Melihat fenomena dan fakta berdasarkan analisa di atas, sangat dibutuhkan koloborasi atau kerja sama antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta semua komponen masyarakat maupun media massa agar tercipta sinergi untuk melawan pandemi Covid-19 bersama sama. Sinergi akan mampu tercapai jika masyarakat percaya kepada pemerintah mampu menangani pandemi ini. Oleh karena itu, anjuran yang mempererat solidaritas sosial, kepatuhan pada anjuran pemerintah, dan peningkatan kewaspadaan sangat lebih diperlukan bersama-sama untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini. Ketika solidaritas bersama muncul, maka akan muncul perilaku-perilaku dan aktivitas yang menggerakkan spirit masyarakat sehingga pandemi yang sangat berat ini dapat dipikul bersama dan meringankan semua pihak, termasuk pemerintah.

Semoga pandemi ini segara berakhir dan Indonesia mampu keluar bersama-sama sebagai pemenang secara cerdas dan berbudi luhur.

Referensi :
Sri Wahyuni. (2017). Kepatuhan berobat penderita hipertensi dewasa madya. Skripsi : Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Tribun Mataram.com. (2020). Pupuler warga tak patuh protokol kesehatan cegah virus corona Surabaya dinilai bisa jadi seperti Wuhan!. Diakses tanggal 30 Mei 2020 dengan link : https://mataram.tribunnews.com/2020/05/29/populer-warga-tak-patuh-protokol-kesehatan-cegah-virus-corona-surabaya-dinilai-bisa-jadi-wuhan


0 comments:

Post a Comment