20.5.20


MENDAMPINGI ANAK DALAM MENONTON TELEVISI UNTUK MENCEGAH PERILAKU AGRESIF

Andi Purnawan/19310410002
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Dosen Pembimbing: Dr. Arundati Shinta, MA.


Televisi merupakan barang elektronik yang dapat menghasilkan gambar dan suara. Dengan disajikannya tayangan melalui audio visual yang pada hakikatnya adalah suatu representasi penyajian realitas, terutama melalui penginderaan pengelihatan. Secara tidak langsung anak belajar dan mengamati apa yang tayang dalam televisi. Terkadang anak menunjukkan pola perilaku menonton televisi salah satunya yaitu anak menaruh perhatian pada tayangan yang dilihatnya. Anak akan fokus ketika acara berlangsung, namun ketika ada selingan tayangan seperti iklan anak akan mengisi waktunya untuk mempraktekan apa yang telah dilihatnya dalam tayangan televisi sebelumnya (Nurcahyani, 2015). Anak menirukan perilaku atau karakter secara tidak langsung, namun dilakukan beberapa saat ketika sudah tidak menonton tayangan televisi tersebut.
Anak dapat mengembangkan kemampuan bahasanya melalui berbagai kosakata yang dapat diserap oleh anak melalui tayangan program televisi yang disajikannya. Banyak pandangan serta pendapat bahwa anak-anak sangat rentan untuk mendapat pengaruh televisi. Pengaruh yang dapat terjadi dapat berupa pengaruh positif dan negatif. Munculnya pengaruh tersebut bukan merupakan kesalahan anak yang menirukan tayangan televisi, bukan pula kesalahan program televisi yang dibuat, namun anak-anak memerlukan pengawasan orang tua dalam melihat tayangan televisi yang mengandung unsur pendidikan tanpa adaya unsur negatif bagi anak seperti tayangan dengan unsur kekerasan. Hal tersebut karena cara tangkap anak terhadap apa yang diterimanya dari tayangan televisi tidak seperti orang dewasa.
Selain mengenai kemampuan anak dalam memahami pesan yang disampaikan oleh tayangan televisi, berperilaku agresif anak dapat mucul karena anak memiliki ciri menirukan model, atau tindakan yang ia lihat maupun degar. Menurut Rita Eka Izzaty (2005: 105), perilaku agresivitas sendiri merupakan istilah umum yang dikaitkan dengan adanya perasaan-perasaan marah atau permusuhan atau tindakan melukai baik dengan tindakan fisik, verbal, maupun ekspresi wajah dan tubuh yang mengancam. Perilaku agresif pada anak biasanya berupa gangguan yang ditujukan kepada temannya. Perilaku agresif yang timbul pada anak dapat menjadikan anak lain takut karena merasa terancam. Sebagai contohnya, anak laki-laki yang suka menirukan berbagai cara menyerang dari adegan yang dilihat melalui tayangan televisi untuk menyerang anak atau orang lain, dan tentunya teman-teman atau anak yang lainnya merasa ketakutan.
 Ketika anak telah menaruh perhatian terhadap tayangan televisi yang dilihatnya, akan terjadi pemrosesan informasi. Pada pemrosesan informasi yang terjadi, seorang anak yang diperlihatkan atau menonton tayangan televisi dengan perhatian yang penuh diikuti dengan produksi motorik dan dilakukan secara berkelanjutan dan terus menerus maka hal tersebut dapat tersimpan dalam memori anak. Jika yang dilihat adalah tindakan agresif secara terus menerus maka anak akan cederung menyimpan perilaku tersebut sebagai model yang dapat dimunculkan sewaktu-waktu serta tidak adanya larangan bagi anak untuk mengimitasi hal tersebut.  Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Bandura bahwa respon untuk melakukan tindakan seperti model dipengaruhi juga oleh konsekuensi yang berkaitan dengan tindakan model (Crain, 2007).
Kegiatan menonton televisi yang dilakukan oleh anak berperilaku agresif selalu didampingi oleh orang tua dan anggota keluarga, namun tidak terjadi interaksi yang membicarakan mengenai isi tayangan televisi yang dilihat oleh anak. Orang tua cenderung tidak peduli dan menganggap kegiatan menonton televisi hanya kegiatan biasa yang tidak perlu diperbincangkan. Keluarga atau orang-orang terdekat yang berada di sekitar anak dan ditambah dengan televisi  dapat menjadi pendukung anak memiliki perilaku agresif. Untuk itu pendampingan dan pemberian nasehat dari orang tua ke anak saat menonton televisi sangat diperlukan. Selain itu, peran orang tua dalam pola perilaku anak menonton televisi seperti memberikan peraturan saat menonton televisi dan membincangkan dengan anak mengenai isi dalam acara televisi dapat menjadi penentu anak menjadi agresif ataupun tidak.

Referensi:
Crain, W. (2007). Teori Perkembangan: Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Izzaty, R.E. (2005). Mengenal Permasalahan Perkembangan  Anak Usia TK. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Pendidikan  Tenaga  Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.
Nurcahyani, A. (2015). Pola Perilaku Menonton Televisi pada Anak Berperilaku Agersif di Kelompok B TK Dharma Bakti lV Ngebel Kasihan Bantul. Skripsi. Yogyakarta (ID): Universitas Negeri Yogyakarta.


2 comments: