18.4.20

Recency Effect: Jangan Lupakan Kenangan



Ujian Tengah Semester Psikologi Industri & Organisasi Semester Genap 2019/2020
Dosen pengampu: Dr. Arundhati Shinta, MA

Lydia Aritonang (19310410033)


 

Proses evaluasi kinerja atau biasa disebut dengan performance appraisal adalah metode untuk mengetahui kualitas dan kontribusi karyawan untuk perusahaan. Menurut Grote, Penilaian kinerja merupakan bagian penting dari proses besar pengelolaan kinerja dalam sistem manajemen sumber daya manusia (SDM). Penilaian kinerja (performance appraisal) adalah sistem manajemen formal yang disediakan untuk evaluasi kualitas kinerja individu pada sebuah organisasi (Grote, 2002). Dengan begitu evaluasi kinerja sangat penting dilakukan karena dapat menjadi kunci dalam management sember daya manusia yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan yang berkaitan terhadap berlangsungnya organisasi atau perusahaan.

Akan tetapi dalam proses penilaian kinerja seringkali terganggu oleh subjektivitas yang menyebabkan hasil penilaian tidak optimal. Subjektivitas ini dapat menimbulkan bias atau penyimpangan dalam penilaian yang memyebabkan kesalahan dalam evaluasi kinerja. Kesalahan dalam evaluasi kinerja ini dapat membahayakan keberlangsungan suatu organisasi atau perusahaan. Menurut Gurbuz dan Dikmenli, bias dapat membahayakan persepsi sistem keadilan gaji dan mengacaukan hubungan antara perbedaan kinerja yang sesuai dengan kenyataan (Miceli, Jung, Near and Greenberger, 1991, dalam Gurbuz dan Dikmenli, 2007)

Ada beberapa penyebab dari terjadinya bias ini, salah satunya adalah recency effect atau efek baru-baru ini. Grote (2002) menjelaskan bahwa recency effect adalah kecenderungan penilaian di mana kejadian kecil yang baru saja terjadi –satu atau dua bulan terakhir sebelum penilaian– lebih mempunyai pengaruh daripada kejadian yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Waktu penilaian yang setahun sekali dengan tingkat pekerjaan yang begitu luas dan beragam berpotensi terjadinya bias recency effect (efek baru-baru ini). Efek ini dapat terjadi diakibatkan oleh kecenderungan kita dalam mengingat ingatan jangka pendek (short memories).

Dengan begitu recency effect adalah penyebab dari ketidak akuratan penilaian evaluasi kinerja. Recency effect menyebabkan peristiwa yang belum lama terjadi menjadi tolok ukur dalam penilaian suatu pekerja. Hal ini tentu saja dapat merugikan pekerja/karyawan karena prestasi baik yang sebelumnya telah tercapai pada bulan-bulan yang lalu tidak lagi diperhitungkan oleh penilai.

Dengan menyadari keberadaan recency effect ini, seharusnya para atasan dapat menilai dengan lebih objektif dan berhati-hati kepada karyawan. Karena penilaian yang salah dapat menyebabkan dampak atau kerugian baik bagi karyawan dan perusahaan.

Sumber referensi:
Grote, Dick. 2002. The Performance Appraisal Question and Answer Book. Washington D.C: AMACOM.
Gurbuz, Sait and Onur Dikmenli.2007. Performance Appraisal Biases In A Public Organization: An Emprical Study. Kocaeli Üniversitesi Sosyal Bilimler Enstitüsü Dergisi (13) 2007 / 1 : 108-138.
Http://pakarkinerja.com/bias-dan-error-dalam-penilaian-kinerja-karyawan/(pada 18 Maret 2020)

Sumber gambar:
Https://images.app.goo.gl/RtgpQ2SsYDkRNnmK9(pada 18 Maret 2020)

2 comments: