31.3.20

Yuk, Berani Jadi Interviewee


Berani Menjadi Interviewee



Ahmad Prasetiyo / 19310410029
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta
Dosen Pembimbing : Dr. Arundhati Shinta, MA.

            Wawancara (interview) adalah salah satu kaedah mengumpulkan data yang paling biasa digunakan dalam penelitian sosial. Kaedah ini digunakan ketika subjek kajian (responden) dan peneliti berada langsung bertatap muka dalam proses mendapatkan informasi bagi keperluan data primer. Wawancara digunakan untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan fakta, kepercayaan, perasaan, keinginan, dan sebagainya yang diperlukan untuk memenuhi tujuan penelitian. Wawancara mengharuskan kedua belah pihak baik itu peneliti maupun subjek kajian bertemu dan berinteraksi langsung dan aktif agar dapat mencapai tujuan dan data yang didapat baik dan akurat.
            Sebenarnya aturan wawancara ini bukanlah hal yang bisa dipelajari dari buku atau dari pakar-pakar saja, karena wawancara tergantung dari kondisi, keadaan atau situasi. Mungkin kita pernah berpendapat bahwa seorang yang ramah akan dengan mudah menjalankan wawancara tanpa menjalani latihan secara formal. Namun sangat wajar bila dikatakan bahwa kualitas wawancara oleh peneliti (interviewer) akan bertambah baik dengan bertambahnya pengalaman.
            Ketika kita menjadi seorang yang diwawancara (interviewee). Pasti kita akan merasa grogi/malu kepada pewawancara. Hal ini sudah biasa dialami oleh banyak orang. Apalagi jika kita dituntut untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang di berikan oleh interviewer. Gaya bicara kita yang biasanya lancar, pasti akan mengalami terbatah-batah saat memberikan jawaban. Namun, terkadang jawaban yang kita berikan sudah sesuai dengan pertanyaan yang interviewer berikan. Sayangnya, proses wawancara tidak berjalan dengan lancar.
Pewawancara masih kagok dan kebingungan dengan jawaban yang kita berikan. Bahkan pewawancara tidak mengerti dengan jawaban yang kita berikan. Mungkin, pewawancara merasa jawaban yang kita berikan kurang jelas. Sehingga sering kali kita sebagai interviewee harus mengulang-ulang jawaban yang kita berikan. Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi pewawancara yang masih kagok?.
Berikut 5 cara yang dapat kita lakukan untuk menghadapi pewawancara yang masih kagok :
1.    Kita dapat mengkondisikan keadaan dan lingkungan sehingga tidak terpengaruh oleh keadaan lingkungan sekitar
2.   Bahasa yang kita gunakan harus sesuai dengan pewawancara agar pewawancara mengerti dan paham
3.    Kita dapat meminimalkan waktu, tenaga, dan biaya yang ada.
4. Menjalin hubungan yang baik serta memberikan jawaban yang meyakinkan kepada pewawancara
5.    Selalu memberikan semangat kepada pewawancara

Menjadi interviewee memang tidak mudah. Banyak sekali tantangan yang harus kita hadapi. Tidak hanya grogi/malu. Rasa takut pun pasti timbul ketika kita menjadi interviewee.
Rasa takut yang kita miliki harus kita buang. Kita sebagai interviewee harus berani memberikan jawaban yang baik dan benar kepada pewawancara. Jangan sampai kita malu dan enggan menjadi interviewee. Jika kita berani memberikan jawaban yang baik dan benar kepada interviewer. Keuntungan yang kita dapat yaitu kita dapat berinteraksi dengan baik secara langsung kepada pewawancara, menjadikan pengalaman yang berharga dan membantu pewawancara untuk mendapatkan informasi yang pewawancara butuhkan.
Namun sebaliknya jika kita takut dan enggan memberikan jawaban yang baik dan benar kepada pewawancara. Selamanya kita tidak akan berani untuk berinteraksi. Kita tidak akan pernah mendapatkan pengalaman menjadi orang yang di wawancara. Sehingga kita tidak bisa membantu pewawancara untuk mendapatkan informasi yang pewawancara butuhkan.


Daftar Pustaka :
Newman, 2013. Metodologi Penelitian Sosial:Pendekatan Kulaitatif dan Kuantitatif(edisi 7), PT Indeks, Jakarta
Merriam, 1998, Introduction to Qualitative Research Methods: The Search for Meaning, (New York : 89)

0 comments:

Post a Comment