24.3.20

Tetap tenang, jangan panik dan tetap waspada.

Novrizal Alifudin /  19310410014

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Dosen Pengampu ; FX Wahyu Widiantoro S.Psi.,M.A



Corona  atau Covid-19  menjadi wabah diawal tahun ini, virus yang pertama kali terindikasi muncul sejak akhir tahun 2019 ini muncul di Wuhan, provinsi Hubei, China. Virus Corona masih satu keluarga dengan MERS, SARS yang berkembang dan bermutasi yang akhirnya sekarang kita kenal dengan nama Coronavirus atau Covid-19. Virus ini menyerang sistem pernafasan yang bisa mengakibatkan penderita mengalami gangguan pernafasan mulai dari gangguan ringan, berat,  bahkan hingga mengakibatkan kematian.
Terus bertambahnya penderita setiap harinya diseluruh dunia membuat WHO menetapkan virus ini sebagai pendemi, saat ini seluruh dunia dalam keadaan darurat. Berita yang beredar sekitar 342.407 kasus diseluruh dunia, dan sekitar 579 kasus ditanah air, jumlah ini diperkirakan akan terus mengalami kenaikan (Kompas.com, 23 Maret 2020). Penyebaran virus yang cepat dan tidak terkendali menyebabkan beberapa negara melakukan langkah pencegahan dan pengamanan dengan melakukan lockdown, dan social distancing, yaitu mewajibkan semua warga untuk mengurangi kegiatan dan interaksi diluar rumah.
Sementara pemerintah Indonesia menghimbau kepada seluruh warganya untuk mengambil langkah social distancing, akibatnya kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online, karyawan diliburkan, dan kegiatan diluar rumah lainya dikurangi dalam beberapa waktu kedepan. Banyak pro dan kontra dimasyarakat menanggapi kebijakan ini, bagi mereka yang dari sisi ekonomi menengah keatas langkah ini tidak menjadi masalah, namun bagi mereka yang berada dilapisan menengah kebawah tentu menjadi masalah, karena mereka tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari jika berdiam diri dirumah saja. Hal ini menyebabkan kepanikan & kekhawatiran dimasyrakat, bukan hanya panik/khawatir terkena virus, tapi juga panik/ khawatir tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika hal ini terus berlanjut dalam waktu yang tidak menentu maka akan membuat kesehatan fisik dan kesehatan mental seseorang akan menurun.
Lantas, apa yang harus kita lakukan?. Apakah langkah yang diambil sudah benar? Tetap tenang, jangan panik dan tetap waspada. Pemerintah sedang berusaha dengan semua kementrian  untuk mengatasi virus ini, kita harus sabar dan memahami situasi ini.  Baru-baru ini melalui Menkopolhukam, “pemerintah mengubah istilah social distancing (pembatasan sosial) menjadi  physical distancing (menjaga jarak fisik), karena dinilai kurang bagus dimasyrakat. (Mahfud MD).  ‘’Pemerintah ingin agar kontak dengan orang lain diminimalisir, dan jika ada pertemuan, masyarakat diminta menjaga jarak hingga satu meter serta rajin membersihkan diri sesuai ketentuan pemerintah.’’ (tirto.id, 23 maret 2020). Pemerintah juga sudah bekerja sama dengan China dan negara-negara lain untuk membantu atasi virus corona yang berupa alat kesehatan, obat-obatan dan penunjang lainya. (Kompas TV, 23 Maret 2020). Serta lewat dinas kesehatan pemerintah sudah memberikan arahan agar selalu mejaga kesehatan dan kebersihan, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan segera lapor dan melakukan pemeriksakan ketika terjadi gejala.
Jadi, tetap tenang, jangan panik dan tetap waspada. Kita harus sabar dan tidak perlu panik & khawatir secara berlebihan, pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin, mari kita  dukung dengan menaati arahan dan aturan dari pemerintah, serta jangan lupa bagi yang mampu untuk ikut membantu suadara-saudara kita yang membutuhkan, karena banyak lembaga sosial yang terjun langsung untuk  menyalurkan bantuan kepada masyarakat, seperti menggalang dana, menyediakan masker, bahan pangan dan lain sebagainya untuk  membantu program pemerintah mengatasi masalah ini. Mari kita bersama-sama berjuang  menyelamatkan dan menyehatkan bumi pertiwi kita, menyelamatkan bangsa dan negara  Indonesia.






0 comments:

Post a Comment