8.3.20

KUNJUNGAN STUDI DAN KULIAH LAPANGAN: RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA


Ditulis oleh: 
Alia Nanda Rumekti/19310410066

Dosen pembimbing: 
FX. Wahyu Widiantoro, S. Psi. M. A. 
Dr. Arundati Shinta, M. A.

      Kunjungan Studi dan Kuliah Lapangan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta Dalam kesempatan ini, sebanyak 62 mahasiswa dan 1 dosen pembimbing dari Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta turut serta dalam kegiatan ini. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan memahami gangguan jiwa dan cara penanganannya. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 Maret 2020 ini juga merupakan kuliah lapangan bagi mata kuliah Psikologi Abnormal dan Psikologi Kepribadian. Kegiatan yang dilaksanakan dari pukul 08.00 hingga pukul 12.30 ini diawali dengan pengarahan dan materi yang disampaikan oleh pihak Rumah Sakit Grhasia. Pengarahan yang diberikan berupa prosedur K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) selama di dalam gedung, alur pelayanan, dan tata tertib kunjungan. 

       Prosedur K3 yang disampaikan meliputi cara mengatasi dan menyelamatkan diri pada saat terjadi kebakaran dan gempa bumi. Sebelum kemudian dilanjutkan dengan materi, Ibu Tuti Handayu selaku Kepala Rumah Sakit Jiwa Grhasia, menyisipkan sejarah dan arti nama dari Rumah Sakit Jiwa Grhasia. Rumah Sakit Jiwa Grhasia sempat melalui beberapa kali perubahan nama dari Koloni Orang Sakit Jiwa, Rumah Sakit Lali Jiwo, Rumah Sakit Jiwa Daerah DIY, Rumah Sakit Grhasia Pemerintah DIY, lalu kemudian pada tahun 2012 resmi mengubah namanya menjadi Rumah Sakit Jiwa Grhasia dan mendapat penetapan dan ijin operasional sebagai rumah sakit tipe A. Grhasia merupakan singkatan dari Graha Tumbuh Kembang Laras Jiwa yang berarti tempat pelayanan tumbuh kembang dan penyelaras jiwa dengan segala usia. Rumah sakit ini memiliki 31 gedung meliputi gedung diklat, gedung pelayangan, gedung perawatan, dan gedung-gedung lainnya. 
       
       Adapun alur pelayanan RSJG ini diawali dari IGD sebagai pasien umum atau psikiratrik. Kemudian dari IGD, pasien akan diarahkan untuk Rawat Inap atau Rawat Jalan. Bagi pasien Rawat Inap, pasien akan dibagi dalam 243 tempat tidur dalam 11 wisma. Diantaranya Wisma Bima, Arjuna, Abimanyu, Srikandi, Arimbi, dan beberapa wisma lainnya. Rumah Sakit ini memisahkan pasien perempuan dengan pasien laki-laki dengan pola wisma yang namanya diambil dari tokoh perempuan adalah wisma untuk pasien perempuan, sedangkan wisma yang namanya diambil dari tokoh laki-laki adalah wisma untuk pasien laki-laki. Dan bagi pasien yang menjalani Rawat Jalan, maka RSJG menyediakan Klinik Psikiatrik, psikologi, spesialis, dan NAPZA sesuai dengan keluhan dan arahan pihak rumah sakit. 

    Sebelum mahasiswa berkeliling ke Wisma perawatan, pihak rumah sakit memberitahukan tata tertib kunjungan diantaranya tidak diizinkan menggunakan HP selama kunjungan, dilarang merekam atau mengambil gambar sebagai bentuk merahasiakan rahasia pasien, dan dilarang memberikan sesuatu pada pasien. Pihak rumah sakit juga menyatakan bahwa jumlah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang dirawat di RSJG mengalami penurunan. Jika biasanya mencapai angka 150 hingga 200 pasien, kini hanya 90 hingga 100 pasien. Pihak Rumah Sakit menduga bahwa hal ini bukan disebabkan oleh menurunnya jumlah ODGJ di masyarakat, tetapi karena masyarakat cenderung menganggap bahwa memiliki anggota keluarga yang mengidap  gangguan jiwa merupakan suatu hal yang memalukan. Jadi masyarakat cenderung "menyembunyikan" keberadaannya. Selain itu, kesulitan rujukan BPJS ke Rumah Sakit, membuat ODGJ tidak dapat ditempatkan di tempat yang sebagaimana mestinya. 

       Usai pengarahan mengenai tata tertib kunjungan, kami mengikuti sesi materi. Ibu Aril Halida, salah satu  Psikolog yang ada di Rumah Sakit Jiwa Grhasia menyampaikan materi yang berjudul "Mental Health and Its Ilness". Ibu Aril menuturkan bahwa sebagian orang sangat mantap saat menjawab pertanyaan "Apakah anda sehat?". Namun ragu-ragu dalam menjawab pertanyaan "Apakah anda sehat jiwa?". Hal tersebut disebabkan karena orang kurang  paham bagaimana indikator orang sehat jiwa, dan kurangnya literasi atau pemahaman tentang jiwa. Dan kebanyakan orang merasa malu atau enggan saat berobat di klinik kejiwaan, karena orang yang berobat di kejiwaan biasanya akan ditolak oleh keluarga atau komunitasnya.

 Gangguan jiwa merupakan ketidaksehatan jiwa yang berefek mengganggu kenyamanan dan mempengaruhi fungsi sosial seperti kemampuan untuk bekerja dan melakukan kegiatan sehari-hari. Suatu gangguan jiwa tidak bisa disebabkan hanya  melalui satu faktor saja. Setidaknya Ada 4 faktor yang menyebabkan seseorang bisa mengalami perilaku abnormal atau gangguan jiwa. Diantaranya faktor Biologis, Psikologis, Sosial, dan Spiritual. Dalam pemaparannya bu Aril juga menyampaikan mengenai jenis gangguan jiwa secara spesifik. Diantaranya Anxiety Disorder, Obsessive Compulsive Disorder, Substance Use Disorder, Anorexia Nervosa, Bipolar Disorder, dan sebagainya dimana hampir semua gangguan mental tersebut dapat muncul pertama kali di usia remaja. 

       Selain gangguan jiwa, bu Aril juga menyampaikan bagaimana seseorang bisa mengalami depresi. Depresi salah satunya disebabkan karena penurunan serotonin dan nor epineprin dalam otak. Serotonin merupakan hormon yang mengatur perasaan sehingga saat seseorang mengalami depresi, maka seseorang tersebut cenderung murung dan sedih. Sedangkan nor epineprin merupakan hormon yang mengatur kekuatan sehingga saat seseorang mengalami depresi, maka seseorang tersebut cenderung hilang minat, malas, atau lemas. Dalam kasus depresi berat, dapat muncul ide untuk bunuh diri karena hormon dopamin yang meningkat.  Gejala utama dari depresi adalah murung, hilang minat, dan mudah lelah. Dan gejala tambahannya meliputi gangguan tidur, gangguan konsentrasi, hilang atau naiknya nafsu makan, rasa bersalah, dan ide bunuh diri. Pada akhir materi, bu Aril menyampaikan mengenai Schizophrenia. Schizophrenia merupakan penyakit mental kronis yang menyebabkan gangguan proses berpikir. Gejala pada Schizophrenia diantaranya delusi/waham, halusinasi, pikiran dan perkataan kacau, gerakan aneh, dan hilangnya ekspresi emosi. 

     Pukul 11.30, kami melakukan kunjungan dan pengamatan pada pasien yang berada di Wisma Srikandi, dan Wisma Arjuna. Wisma Arjuna merupakan wisma bagi pasien laki-laki yang baru saja masuk sebagai pasien rawat inap di RSJG. Sedangkan Wisma Srikandi merupakan wisma bagi pasien perempuan yang sudah dalam fase maintanance dan sudah bisa diajak berkomunikasi. Pada fase maintanance di RSJG diberikan kegiatan rehabilitasi mental berupa kegiatan las, futsal, musik, membatik, pertanian, dan pendekatan kerohanian sesuatu agama yang dianut masing-masing pasien. 

          Kunjungan Studi  dan Kuliah Umum di Rumah Sakit Jiwa Grhasia memberikan kami banyak tambahan pengetahuan. Kami menjadi tahu tentang bagaimana suatu depresi dapat terjadi, gejala schizophrenia, jenis gangguan jiwa, dan tata laksana pada pasien gangguan jiwa. Kami berharap kegiatan ini sering dilakukan agar mahasiswa Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta kian peka terhadap keadaan orang di sekitarnya, dan kian bersemangat menggali sesuatu dari keilmuan yang dipilihnya. 

0 comments:

Post a Comment