25.10.19

KESEHATAN MENTAL & PSIKOLOGI POSITIF



TUGAS PSIKOLOGI KLINIS
DOSEN PEMBIMBING : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi,.MA

Nama  : Reni Suryani
NIM : 17.310.410.1169

           Kesehatan mental sering menimbulkan asosiasi yang kurang menyenangkan.  Biasanya istilah tersebut hanya khusus untuk hal-hal yang berkaitan dengan psikopatologi seperti skzofrenia,depresi,manik, dan gangguan kepribadian seperti borderline, agresif – pasif, serta anti social. Sebenarnya jika dilihat lebih dalam lagi, kesehatan mental  juga berkaitan dengan kesehatan bukan penyakit atau gangguan, inilah yang disebut kesehatan mental positif.

           Kesehatan mental bukannya berarti tidak mengalami gangguan penyakit atau gangguan mental, melainkan individu mampu kembali ke dalam kehidupan sebelum dia mengalami tekanan berat. Psikologi positif telah dikemukakan oleh Seligman yang awalnya meneliti depresi sebagai belajar tidak berdaya berdasarkan penelitiannya dengan anjing yang diikat dan diestrum. Kemudian perhatiannya berpindah ke dalam psikologi positif. Lalu Seligman mendirikan lembaga penelitian dan terapan tentang psikologi positif dan mulai memasarkannya tentang buku “ learning optimism” pada awal tahun 1980.

             Psikologi klinis selama ini dianggap menemukan sisi gelap individu yang menimbulkan psikopatologi saja. Saat ini psikologi klinis mampu melihat sisi terang individu seperti menyesuaikan diri, beradaptasi, baik hati, memberikan tenaga untuk orang lain, berkorban untuk kemanusiaan, berpikiran kedepan dengan penuh harapan. Sesungguhnya, sisi gelap dan terang pada diri individu merupakan bagian dari alam. Karena suasana yang berubah-ubah seperti pagi,siang malam. Individu juga mengalami hal serupa seperti tekanan darah yang berubah setiap hari.  Emosi manusia juga berubah setiap saat sesuai dengan apa yang didalam dirinya.

          Emosi membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.  Pada umumnya individu menilai emosi merupakan kategori sebagai emosi negative. Seolah-olah individu tidak boleh mengalami rasa senang.  Penelitian emosi dari tahun 1993-1998 di berbagai budaya Indonesia bagian barat dan tengah, menyimpulkan bahwa segala emosi yang dikatakan sebagai hal negative, maka berkaitan dengan reaksi orang pada umumnya.

            Psikologi klinis, harus lebih menempatkan diri pada proporsinyatanpa perlu terjebak dalam konstruksi social emosi manusia.  Perlu adanya hasil penelitian dan penerapan didalam psikologi klinis, sehingga tidak terkesan normative karena adanya penilaian seperti itu yang sering tidak dihindari. Hal tersebut karena adanya moralitas psikolog klinis yang banyak memberikan penilaian normative dalam prakteknya.


   Referensi : Prwaitasari., E,.J.(2011) Psikologi Klinis “ Pengantar Terapan Mikro & Makro”.Erlangga.Jakarta

0 comments:

Post a Comment