6.4.19

Hidup Untuk Makan Atau Makan Untuk Hidup


Hidup Untuk Makan Atau Makan Untuk Hidup
Siti Hanifah (16.310.410.1151)

Manusia. Kebutuhan yang paling dasar, paling kuat, dan paling jelas antara sekian banyak kebutuhan manusia adalah kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya secara fisik. Ini meliputi kebutuhan terhadap oksigen, air, makanan-minuman, istirahat ataupun tidur. Pemuasan terhadap kebutuhan-kebutuhan ini sangat penting untuk kelangsungan hidup. Karenanya kebutuhan-kebutuhan tersebut merupakan yang terkuat dari semua kebutuhan. Seseorang yang mengalami kekurangan makanan, harga diri dan cinta, pertama – tama dia akan memburu makanan terlebih dahulu. Ia akan mengabaikan atau menekan dulu semua kebutuhan yang lain sampai kebutuhan fisiologisnya itu terpuaskan.
                Tokoh psikologi Abraham H. Maslow mengatakan “orang yang dalam keadaan lapar berat, tak ada minat lain kecuali pada makanan. Orang tersebut tentu bermimpi/berhayal tentang makanan, ia teringat tentang makanan, ia berfikir tentang makanan, emosinya tergerak hanya pada makanan, ia hanya mempersiapkan makanan, dan ia hanya menginginkan makanan. Orang semacam itu secara tegas dapat dikatakan hanya dapat hidup dengan makanan belaka.”

                Kasus inipun sering kita lihat dijalanan banyaknya pengemis yang meminta-minta hanya demi mendapatkan makanan. Contoh lain yang saya lihat secara nyata yaitu ketika saya berada di Sulawesi tengah tepatnya di Palu, di daerah tersebut terkena bencana yang sangat dasyat sehingga menghancurkan hampir seluruh wilayah Sulawesi, saat bencana telah usai warga berbondong-bondong berebut bantuan sembako untuk dapat mempertahankan hidup. Bahkan disalah satu daerah dikota tersebut, ada beberapa rumah seluruh isinya dan apa yang ada ditempat mereka selamat dan merekapun sehat, namun mereka berpura-pura mendirikan tenda ditempat berbeda. Lantas, jika bantuan sudah diterima mereka tidak tinggal di tenda tersebut namun kembali ke rumah mereka, begitu seterusnya mereka mengulangi hal tersebut, hingga sampe sekarang, padahal kita ketahui bahwa gempa di Palu sudah lebih dari setengah tahun. Ini hanya contoh secuil wilayah kecil namun memang sebagian besar warga ada yang benar-benar membutuhkan bantuan tentunya. Ini sangat jelas terlihat bahwa warga tersebut benar-benar menggantungkan hidupnya pada makanan/sembako sehingga mereka rela melakukan berbagai hal atau cara karena yang dipikiran mereka adalah pemenuhan kebutuhan fisiologisnya.
                Dari sini kita lihat bahwa memang benar kebutuhan mendasar manusia adalah tentang pemuasan kebutuhan fisiologis yang tentu akan mempengaruhi tingkah laku orang tersebut. Selanjutnya kendati demikian kebutuhan fisiologis ini sebenarnya lebih mudah diidentifikasikan dibandingkan oleh kebutuhan lain yang lebih tinggi, namun kebutuhan-kebutuhan tersebut tetap tidak dapat diperlakukan sebagai fenomena yang terpisah-pisah, yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya, seseorang yang berfikir bahwa ia lapar secara nyata mungkin juga merasakan kebutuhan yang lain seperti kebutuhan akan kasih sayang, rasa aman atau kebutuhan lain tertentu. 

           Namun, ada orang-orang tertentu yang mengalihkan lapar ini dengan aktifitas lain misalnya merokok atau minum air putih. Jadi, sebenarnya aneka kebutuhan saling berhubungan tinggal bagaimana kita menyikapi sebaik-baiknya manusia tentu dengan tidak melakukan berbagai cara untuk memenuhi nafsu yang kita miliki, pintar-pintarnya kita mengendalikan sehingga kita terhindar dari dampak yang tidak baik untuk kehidupan kita mendatang atau bahkan hal yang dapat mencelakakan diri kita sendiri.

Baihaqi MIF. (2008). Psikologi pertumbuhan -Kepribadian sehat untuk mengembangkan optimisme.
            
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Goble, G.Frank. 1987. Mazhab Ketiga –Psikologi  Humanistik Abraham Maslow. Terjemah oleh
            Supratinya. Yogyakarta: Kanisius


0 comments:

Post a Comment