17.3.19

STOP BODY SHAMING !



Sri Sunu Widyaningsih
183104201178
Mata Kuliah : Psikologi Umum II
Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A




Pada era globalisasi, body shaming kerap kali dialami oleh manusia saat ini, khususnya perempuan. Seiring berkembangnya teknologi yang ada menyebabkan setiap individu semakin mudah dipengaruhi oleh iklan baik yang berada di media sosial maupun elektronik tertentu yang dapat mempengaruhi psikis dari individu tersebut. Perilaku tersebut juga tidak jauh dari aktivitas yang sifatnya menghina secara verbal. Salah satu tindakan itu bisa disebut bullying verbal yang kerap kali tidak disadari pada kalangan masyarakat, perilaku tersebut ialah body shaming. Istilah itu menggambarkan perilaku seseorang yang kerap menghina atau mengomentari seseorang, mengejek seseorang dengan memanggil mereka gemuk, kurus, tinggi, pendek dan yang berkaitan dengan fisik, hal itu bisa disebut dengan body shaming. Sikap tersebut juga termasuk dengan membandingkan tubuh orang lain, seperti contohnya si-A lebih ideal dari pada tubuh si-B, hal itu dapat dengan mudah membuat tubuh si-B menjadi sasaran body shaming karena tidak memiliki tubuh ideal seperti si-A, dan itu juga mengakibatkan seorang menjadi depresi, dan merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri, itu membuat orang yang terkena body shaming menjauhi kegiatan sosial di masyarakat, dan juga membuat seorang tersebut melakukan tindakan ekstrim seperti diet ketat, dan olahraga yang timbul di luar batas manusia normal. Hal tersebut sangat mempengaruhi kesehatan fisik dan juga mental, walaupun terbiasa melakukan diet dan olahraga yang berlebihan, jika dalam waktu yang lama maka akan merugikan diri sendiri dan juga merugikan individu tersebut dalam bermasyarakat. Oleh karena itu perlu adanya perlakuan yang baik dan kesadaran pada diri untuk menilai orang tidak hanya dari fisiknya namun dari faktor lain seperti prestasi, dan pencapaian seseorang, karena bagaimanapun tidak ada individu yang sempurna, dan itu juga sangat perlu disebarluaskan pada masyarakat luas, agar tindakan seperti body shaming tidak terjadi di banyak struktur kehidupan dunia ini.
Body shaming adalah rasa malu pada kondisi tubuh sendiri. Body shaming merupakan suatu bentuk dari tindakan mengomentari penampilan fisik atau citra diri seseorang baik dilontarkan terhadap orang lain maupun diri kita sendiri.
 Menurut Vargas (2015) ciri-ciri perilaku body shaming diantaranya :
    •   Mengkritik penampilan sendiri, melalui penilaian atau perbandingan dengan orang lain, seperti saya sangat jelek dibandingkan dia. Lihatlah betapa luas bahuku.
    •   Mengkritik penampilan orang lain di depan mereka, seperti dengan paha itu, Anda tidak akan pernah mendapatkan teman kencan.
    •  Mengkritik penampilan orang lain tanpa sepengetahuan mereka, seperti apakah Anda melihat apa yang dia kenakan, dia pakai, dia lakukan ? dan tidak menyanjung, namun sebaliknya mencela.

Oleh karena itu, body shaming dapat didefinisikan sebagai rasa malu yang timbul akibat dari beberapa aspek atau ciri tubuh. Definisi tentang istilah body shaming agak luas, mencakup rasa malu yang secara langsung berkaitan dengan aspek tubuh fisik, seperti penampilan seseorang, dan juga rasa malu dari penampilan tubuh, seperti perilaku atau perubahan. Konsep dari body shaming ini sebagian berasal dari karya psikolog empiris, seperti Paul Gilbert dan Jeremy Miles yang bukunya, Body Shame: Conceptualisation, Research and Treatment, mengeksplorasi pentingnya rasa malu tentang tubuh bagi kesejahteraan psikologis dan dalam hal hubungan sosial.
Singkatnya, body shaming dapat dipahami sebagai rasa malu yang muncul akibat dari tubuh yang kurang ideal. Muncul dari beberapa aspek tubuh atau manajemen tubuh, mungkin dari penampilan, fungsi tubuh, atau bentuk tubuh lainnya.  Ini adalah rasa malu yang berpusat pada tubuh. Subjek percaya tubuh mereka tidak diinginkan atau tidak menarik, tidak memiliki gambaran sosial tentang 'normal' tubuh ideal atau yang dapat diterima secara sosial. Meskipun body shaming secara langsung mengenai beberapa aspek tubuh fisik, seperti penampilan seseorang, itu juga mencakup rasa malu tentang aspek fisik yang kurang jelas dari presentasi tubuh, seperti perilaku atau tingkah laku.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa body shaming merupakan suatu bentuk menyakiti atau mencela seseorang serta memberikan komentar negatif terhadap bentuk tubuhnya. Juga merupakan perasaan malu dari salah satu bentuk bagian tubuh yang kurang ideal.  Perlu ditindaklanjuti supaya tidak terjadi body shaming dengan cara melakukan aktivitas di luar yang lebih bermanfaat dan menghindari pergaulan yang kurang sehat serta menghiraukan perkataan orang lain tentang celaan tersebut. Maka dari itu, body shaming perlu dihilangkan karena jika dibiarkan saja hal tersebut dapat membuat ketimpangan sosial dalam bermasyarakat.

DAFTAR PUSTAKA :
Chairani, Lisya. 2018. Jurnal. Body Shame dan Gangguan Makan Kajian Meta-Analisis. Volume 26 Nomor 1, 12-27
Dolezal, Luna. 2015. The Body and Shame (Phenomenology, Feminism, and the Socially Shaped Body). London : Lexington Books.




0 comments:

Post a Comment