19.3.19

MENDIDIK DENGAN CINTA



ORANG TUA YANG MENDIDIK DENGAN CINTA

Ika Fatmawati
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
Sikap dan perilaku orangtua di rumah yang membentuk karakter anak- anak kita. Keluarga adalah pondasi bagi perkembangan intelektual ataupun moral. Membantu para orang tua menjadi orang tua baik adalah satu- satunya hal paling penting yang dapat di lakukan sekolah untuk membantu para murid mengembangkan karakter yang kuat dan berhasil secara akademik. Arahkan anak- anak dengan sungguh- sungguh, secara konsisten dan rasioanal (Lickona Thomas, 2014).


Anak- anak, cepat sekali merespon apa yang tersaji di hadapannya setiap hari. Apa yang di lihat, itulah contoh nyata bagi mereka. Mereka mengamati kemudian menjadikan orang tua mereka sebagai idola, sebagai model. “Nanti kalau aku sudah jadi Ummi, aku juga mau kuliah”. Kata putri keduaku, Afrina.

Saat melihat Ibunya melakukan pekerjaan rumah, seringkali anak- anak menawarkan diri untuk membantu. Percayakan saja pekerjaan ringan untuk mereka sesuai dengan kemampuan. Anak akan merasa bahagia dan dihargai saat kita menerima tawarannya, meskipun hanya dengan membuang sampah atau menutup pintu. Mereka akan bangga saat bercerita kepada teman- temannya.

Setiap orang tua pasti punya pilihan masing- masing, ada yang keduanya bekerja, ada yang Ayah bekerja sementara Ibu sebagai ibu rumah tangga. Begitu juga dengan saya, pagi saya mengabdikan diri di lembaga pendidikan, sore sampai malam harus kuliah. Apakah anak- anak tidak protes? Pernah. Suatu hari anak pertama ingin sekali ikut kuliah, ingin mengetahui tempat ibunya menuntut ilmu. Apakah saya marah? Tidak, justru saya mengajaknya ketika jam kuliah siang dan hanya satu mata kuliah saja. Apa respon anak saya setelah itu? Dia mengatakan bahwa tempat kuliah ibu jauh, lebih baik di rumah belajar, bermain bersama Adik, membantu Ayah, tidak capek.

Seorang ibu saat meninggalkan rumah, baik untuk bekerja maupun untuk menuntut ilmu harus di komunikasikan dengan pasangan, agar tidak terjadi ketimpangan dalam menjalankan fungsinya dirumah. Lalu apakah anak hanya di berikan sisa waktu? Bukan sisa waktu, tepatnya adalah di sela-sela waktu itulah waktu milik anak. Mereka yang mengingatkan saya ketika saya tidak segera berangkat, dan menyampaikan kalau di rumah mereka akan  sholeha, tidak rewel.



Banyak pandangan miring terhadap kedua orang tua yang bekerja, dan anggapan kalau anak di telantarkan. Bagi kami, inilah saatnya menguatkan pendidikan karakter pada mereka. Bukan sebuah paksaan, tetapi tanggung jawab kami melatih kemandirian anak dengan cara sendiri.

Bernard (Henderson & Milstein, 2003), menyatakan anak- anak yang memiliki resiliensi menunjukkan karakteristik adanya kompetensi sosial yang disertai dengan kemampuan problem solving yang baik, berfikir kritis, kemampuan untuk mengambil inisiatif, memiliki tujuan, mampu melihat ke depan dan melihat hal-hal positif untuk dirinya di masa depan.

Jangan berkecil hati karena tidak memiliki banyak waktu bersama anak. Kuantitas bukan jaminan atas kualitas. Bangun kedekatan emosi dengan anak dan libatkan mereka saat kita berada dirumah. Sedikitnya waktu bersama anak tidak lantas menjadikan mereka raja dan ratu dengan menuruti semua keinginan anak. Menggunakan waktu dengan baik ketika bersama mereka adalah cara yang tepat.

Orang tua harus bisa menjadikan diri mereka contoh bagi anak, seperti apa orang tua ingin melihat anak di masa depan, itulah hasil dari perilaku orang tua sekarang. Jalinan komunikasi yang baik dengan mereka, membuat mereka merasa selalu di perhatikan meskipun intensitas pertemuan singkat. Ketika ada kesempatan libur bersama, segeralah ajak mereka untuk berkegiatan bersama, menikmati pagi di pantai atau hanya sekedar bermain bersama.

Anak- anak kita akan memperlakukan anak mereka kelak, dengan cara  bagaimana orang tua memperlakukan mereka. Semangat menjadi orang tua keren, semangat menjadi orang tua yang mendidik dengan cinta.

Referensi :
-       Sholichah, M. (2016). Pengaruh persepsi remaja tentang konflik antar orang tua dan resiliensi terhadap depresi dan kecemasan. Jurnal Humanitas 2016.
-       Lickona, T. (2012) Pendidikan karakter. Bantul: Kreasi wacana

0 comments:

Post a Comment