27.3.19

Bulimia Nervosa

Widuri Mayangsari

1731.0410.1167

Mata Kuliah : Psikologi Abnormal

Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro S.Psi., M.A







Gangguan Makan sering kali dianggap sebagai pilihan gaya hidup. Bulimia nervosa atau sering disebut bulimia adalah salah satu dari gangguan pola makan. Penderita bulimia ditandai dengan
usaha memuntahkan kembali makanan yang telah dimakannya.

Menurut Mariyanti (2017), hal tersebut dilakukan untuk mengurangi kalori yang berlebih karena merasa bersalah, malu dan takut mengalami kenaikan berat badan berlebih. Sementara para psikoanalis memiliki pandangan yang berbeda, bulimia terjadi karena penderitanya mencari kepuasan dengan cara makan makanan yang banyak sebagai kompensasi atas tidak tercukupinya kebutuhan kasih sayang dan perhatian (Dariyo.2004)

Penderita bulimia makan dengan jumlah banyak kemudian memuntahkannya secara paksa, bahkan cara yang dilakukan biasanya dengan memaksa diri berolahraga terlalu keras. Gejala bulimia lainnya adalah penggunaan suplemen penurunan berat badan secara ekstrem, penggunaan pencahar, mengonsumsi obat diuretik atau enema secara teratur. Penderita bulimia cenderung menilai kekurangan pada dirinya dengan terlalu keras, meski sebenarnya berat badannya normal atau sedikit berlebih. Banyak penderita bulimia juga membatasi makan dalam siang hari sehingga meningkatkan jumlah makanan pada malam hari, kemudian dimuntahkan kembali.

Gangguan bulimia lebih banyak dialami oleh wanita antara usia remaja dan awal masa dewasa daripada laki-laki, salah satunya adalah artis Tina Toon. Tina menjadi korban bully teman-temannya. Menjadi bahan olok-olok karena tubuh suburnya sehingga terobsesi memiliki tubuh langsing yang membuatnya berjuang melawan bulimia. Tina berusaha memendam masalah itu sendiri. Namun, akhirnya terserang stres berat (Viva.2014)

Dalam PPDGJ atau pun Diagnostic and Statistic Mental Disorder, gangguan pola makan termasuk dalam gangguan mental, sehingga tidak bisa diatasi hanya dengan konseling gizi saja. Diperlukan juga terapi perilaku kognitif, psikoterapi, modifikasi perilaku bahkan obat-obatan tergantung kondisi mental pasien. Salah satu terapi yang paling efektif adalah  terapi perilaku kognitif. Penderita diarahkan agar menyadari bahwa cara berpikirnya di masa lalu adalah yang kurang benar, terapi perilaku terfokus pada hubungan antara masalah, pola pikir, dan perilaku penderita.






Referensi:
  1. Dariyo Agoes. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja.  Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia 
  2. Dr. Mariyanti. 2017. Gangguan Makan dalam https://www.alodokter.com/gangguan-makan diakses pada 25 maret 2019 
  3. Kunthi Kristyani. 2018. Putri Diana Derita Gangguan Makan, Inilah Gejala dan Cara Mengatasinya dalam https://nakita.grid.id/read/02897092/putri-diana-derita-gangguan-makan-inilah-gejala-dan-cara-mengatasinya?page=all diakses pada 25 maret 2019
  4. Tim Viva. 2014. Derita Bulimia Tina Toon https://www.viva.co.id/arsip/539177-derita-bulimia-tina-toon diakses pada 25 maret 2019 
  5. Asep Candra. 2013. Gangguan Makan Termasuk Gangguan Mental dalam https://lifestyle.kompas.com/read/2013/02/19/14371537/gangguan.makan.termasuk.gangguan.mental diakses pada 25 maret 2019

0 comments:

Post a Comment