27.3.19

WANITA DAN ROKOK


Meysella Al Firdha Hanim
(18.310.410.1196)




Saat ini, semakin banyak juga wanita yang terang-terangan menunjukkan bahwa mereka merokok. Merokok memang punya dampak negatif. Tetapi bagi kebanyakan orang yang sudah kecanduan, meninggalkan kebiasaan ini bukan hal yang mudah. Lingkungan mereka pun sudah lebih bisa menerima, walaupun masih ada yang menentang keras. Gambaran wanita sebagai makhluk yang lembut, halus, dan anggun tidak pas dengan citra rokok yang maskulin. Akibatnya, wanita perokok sering dianggap menjijikkan, nakal, dan tidak bermoral.
Menurut Husaini 2006 (dalam Kurniawan 2013), berdasarkan aktivitasnya merokok dibagi menjadi dua yaitu, perokok aktif yaitu orang yang langsung merokok dan perokok pasif yaitu orang yang tidak merokok tetapi terpapar langsung oleh asap tembakau dari orang yang merokok disekitarnya. Perokok pasif ini lebih banyak resikonya karena terpapar asap rokok lebih banyak dibanding perokok itu sendiri.
Merokok lebih berbahaya bagi wanita, karena DNA pada wanita tidak bisa pulih ketika mengalami kerusakan, tidak seperti laki-laki yang memiliki kemampuan memperbaiki DNA yang rusak lebih baik. Padahal salah satu dampak merokok adalah kerusakan DNA yang dapat menimbulkan berbagai penyakit kanker seperti kanker paru, kanker mulut rahim, serangan jantung, atau asma. Wanita perokok yang menggunakan pil KB juga beresiko terkena serangan jantung, stroke, dan penyumbatan pembuluh darah 10 kali lebih besar dari yang bukan perokok, serta bisa menurunkan kesuburan hingga 50%.
Pramudiarja (dalam Detik.com,2015) dari penelitian kementrian kesehatan pada tahun 2013 bahwa wanita perokok cenderung meningkat. Wanita yang merokok pengaruhi oleh mudahnya akses untuk membeli rokok, dan menariknya di provinsi tersebut laki-laki yang merokok justru paling rendah. Dilihat dari status ekonomi para perokok menduduki ekonomi menengah kebawah yakni 35,1% sedangkan kalangan ekonomi menengah atas 0,9% dan ekonomi paling bawah hanya 0,6%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi wanita merokok antara lain adalah meniru orang terdekat seperti orangtua, dorongan atau pemikiran tentang wanita yang merokok itu keren karena tidak semua wanita merokok, lingkungan tempat bermain, dan budaya sekitar yang menjadikan kecanduan merokok pada wanita. Selain itu, mereka juga beranggapan bahwa dengan merokok mereka bisa mendapatkan inspirasi, mengusir kejenuhan, dan mengontrol berat badannya.
Menurut Santrock (2008), pembelajaran observasional merupakan pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain. Jika individu mempunyai konsep diri yang rendah maka ia akan mudah terpengaruh hal yang negatif dari lingkungan dan sebaliknya jika individu mempunyai konsep diri yang baik akan fleksibel dalam merespon lingkungan sosialnya. Konsep diri pada individu bisa berubah seiring berjalannya waktu dan dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman baru dan informasi yang didapat dari lingkungan sekitar.
Jadi, saran bagi wanita yang merokok, hendaknya dapat mempertimbangkan untuk perlahan mengurangi intensitas rokok yang dikonsumsi karena dampak negatif rokok bagi perempuan jauh lebih besar. Intinya love your self dan apresiasilah diri sendiri, bisa dimulai dari hal yang paling sederhana misalnya merawat tubuh, karena orang yang peduli dengan tubuhnya sendiri sudah pasti bisa mengapresiasikan dirinya dengan baik. Hal itu menjadi penting untuk menumbuhkan sikap positif dalam menghadapi permasalahan hidup, sehingga tidak melampiaskan masalah atau stress melalui perilaku merokok.

Referensi
Kurniawan (2013). Jurnal Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Mahasiswi. Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Pramurdiarja (2015). Jumlah Perempuan Perokok Meningkat, Terbanyak Ada Di Papua. Detik.com
Santrock,J.W. (2008). Psikologi Pendidikan.(edisi kedua) Jakarta: Kencana.

0 comments:

Post a Comment